Forbidden Desire

Forbidden Desire
Bab 32: Fakta Baru



Kendrick POV


Akhir-akhir ini, pekerjaanku padat sekali. Bahkan sekarang aku baru saja kembali dari LA setelah satu minggu di sana untuk meninjau perkembangan pembangunan cabang perusahaan ku. Saking sibuknya, aku bahkan hanya satu kali saja menghubungi Fiona. Wanita itu tidak akan mau menghubungi ku jika bukan aku yang menghubunginya. Lain halnya dengan Shopie, setiap hari ia akan menanyakan kabar ku dan kapan akan kembali ke New York.


Aku tiba di New York sekitar pukul 10 malam. Dan langsung menuju kantor karena ada hal yang perlu aku pastikan. Philip bilang ia sudah menaruh berkasnya di meja kerja ku. Aku bergegas masuk ke dalam kantor ku dan melihat sebuah map coklat di atas meja ku.


Dengan penuh rasa penasaran, aku lalu membuka map itu dan membaca isinya. Aku sudah menunggunya sejak dua minggu yang lalu. Dan sekarang aku mengetahui sebuah fakta baru.


Mungkin setelah pulang nanti, aku akan melihat Sean lebih dulu. Aku merindukan bayi mungil itu.


Untuk menenangkan pikiran ku, aku mengambil sebotol alkohol dan gelas dari lemari kaca yang ada di ruanganku. Di dalam lemari itu tersusun beberapa jenis alkohol. Aku kembali ke meja kerja ku dan menuang cairan bening itu ke dalam gelas ku lalu meneguknya.


Setelah menghabiskan 3 gelas minuman ku. Tenang, aku belum mabuk. Pandangan ku bahkan masih begitu jelas. 3 gelas alkohol berkadar tinggi tidak langsung membuatbki mabuk. Aku melirik jam yang melingkar di tanganku. Jam 11. Sepertinya aku harus segera pulang. Aku menyambar jas ku dari kursi lalu keluar dari ruangan ku.


Aku tiba setelah lima belas menit perjalanan menuju rumah. Rumah yang sunyi karena pengisi rumah ini mungkin sudah tidur. Kulangkahkan kaki ku berjalan menaiki setiap undakan tangga. Berhenti di salah satu pintu kamar. Pintu kamar milik ku. Jari-jariku bergerak menekan sandi pintu. Setelah pintu terbuka, aku masuk ke dalam kamar. Tujuan pertama ku adalah melihat putra kecil ku.


Aku menatap Sean dengan sudut bibir yang mengembang menatap putra kecil ku yang tidur dengan nyenyak. Besok aku tidak akan pergi ke kantor. Satu harian aku akan menemani Sean, mengganti waktu yang terlewat selama satu minggu ini.


Setelah puas menatap putra ku, aku menatap sekilas ke arah Shopie yang sedang tidur. Wanita yang sudah menemani ku selama 5 tahun ini. Kulangkahkan kaki ku menuju pintu dan keluar dari kamar ku. Aku tidak sabar untuk melihat wanita yang ku rindukan dalam satu minggu ini.


"Ceklek.." aku membuka pintunya yang tidak tertutup. Aku tau dia sengaja tidak mengunci kamarnya agar tidak repot saat Sean datang untuk menyu.su.


Dari pencahayaan yang temaram, aku melihatnya sedang tidur dengan posisi menyamping. Kaki ku melangkah mendekati tempat tidurnya. Cantik. Itulah kata yang selalu ada dipikiran ku saat melihatnya sejak pertama kali bertemu dengannya di Alaska. Aku tidak sengaja hampir menabraknya. Pertemuan kedua kami saat di Cafe. Aku pikir setelah itu kami tidak akan pernah bertemu lagi. Namun sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada ku. Satu bulan kemudian, dia datang ke rumah ku. Aku terkejut melihatnya. Ternyata keponakan yang Shopie yang dikatakannya pada ku adalah dia. Dan sejak saat itu, aku berjanji akan mendapatkannya. Tidak perduli jika ada yang menentangnya. Aku harus mendapatkannya.