FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 9: Rio_-



Sesampainya di kota, Miya sedikit membantu Frisi menjual beberapa bantal hingga senja, akhirnya Bantal laris habis di beli oleh konsumen.


"Kak, sepertinya aku harus pulang!" sahut Frisi berpamitan.


"Maaf, kakak tidak bisa mengantarmu sampai ke rumah nenek, kakak minta maaf!" ujar Miya sedikit murung.


"Tidak apa-apa kak, lagi pula yang penting saat ini adalah adik kakak dan kuliah kakak, oh ya! Adik kakak laki-laki atau perempuan, kalau dia perempuan aku akan menjadikannya temanku, jika dia seorang laki-laki aku akan menjadikannya pacarku!" tertawa menggelitik.


"Hahaha! Kau beruntung karena adikku adalah laki-laki, lain kali kakak akan mengenalkannya padamu jika kita bertemu lagi atau kakak akan berkunjung suatu hari nanti!" tersenyum.


"Mmm, baiklah kakak! Ini sudah senja aku harus pulang! Sampai jumpa kak!" teriak Frisi sambil mendorong gerobaknya pergi menjauh.



Miya berlari ke arah apartemennya yang tidak terlalu jauh dari pasar. Miya sangat senang bisa bertemu adiknya lagi setelah beberapa minggu ini.


(Tok-tok-tok)


"Rio kakak pulang!" Teriak Miya sambil terus mengetuk-ngetuk pintu apartemen.


Seseorang membuka pintu!


"Kakak!" memeluk tanpa ekspresi.


Adik Miya memang terkenal dengan sifat dinginnya, bahkan sifatnya juga di perlihatkan pada kakaknya juga. Rio adalah siswa cerdas di sekolahnya namun, dia selalu di bully karena kemiskinannya dan di tuduh jika ia berbelas kasih kepada pihak sekolah untuk membuatnya menjadi siswa teladan dan mendapat nilai tertinggi di kelasnya. Rio baru saja kelas satu SMA dan berumur 16 tahun, Rio cenderung di bully oleh para kakak kelasnya di banding dengan teman kelasnya karena memiliki wajah yang rupawan dan hebat dalam setiap bidang olahraga.



"Apa kau berkelahi lagi? Rio, kalau ada yang membullymu jangan di balas ya! Lihatlah wajahmu penuh dengan pelaster obat, apa itu tidak sakit?" ujar Miya memegang wajah Rio.


"Hinaan mereka lebih sakit, aku tidak peduli dengan lukaku! Yang penting sekarang adalah kakak kemana saja?" sahut Rio mengerutkan dahi.


"Maafkan kakak, kakak selalu bermalam di rumah teman kakak! Maaf ya!" jawab Miya.


"Bohong! Kak Sarah selalu mencari kakak, memangnya siapa lagi teman dekat kakak selain kak Sarah?" jawabnya tanpa ekspresi sedikitpun.


"Ahh jangan pikirkan itu, kakak mau tanya, selama kakak tidak ada, siapa yang memberimu makan?" tanya Miya mengubah topik pembicaraan.


"Tetangga kita tante suci selalu mengajakku untuk makan di sana!" jawab Rio


"Maaf, masuklah kak. Aku akan menyiapkan air mandi untuk kakak dan membuatkan kakak air hangat!" ujar Rio meninggalkan pintu.


"Terima kasih Rio, oh ya! Ponsel kakak dimana?" pinta Miya.


"Ada di laci sebelah ranjang!".


Miya mengambil ponsel bututnya di dalam laci dan menelpon sahabatnya yaitu Sarah.


(Panggilan terhubung)


"Hey kau kemana saja? Aku sangat khawatir padamu, kau sudah tidak hadir selama hampir 2 minggu, kau ini anggota osis loh!" sahut sarah langsung berteriak.


"Ma...maafkan aku, hehe....aku keluar kota, dan aku tidak memberi tau siapapun, maafkan aku!, besok aku akan kuliah kok!" jawab Miya merasa bersalah.


"Baiklah, kau harus datang besok, kau harus menjelaskannya semua pada dosen. Kau mengerti!" teriak Sarah lagi lebih keras.


"Iya-iya, tenanglah!"


"Baiklah aku tutup dulu, istirahatlah. Dah!" menutup panggilan.


Tak lama kemudian datanglah Rio membawa air hangat dan kotak P3K untuk kakaknya.


"Kak ini air hangatnya dan kotak obatnya!" pinta Rio sembari berjalan kearah kakaknya.


"Kenapa kau membawa kotak obat?" tanya Miya kebingungan.


"Kau pikir aku tidak memperhatikan luka kakak yang ada di siku kakak itu, obatilah lukanya setelah mandi, aku sudah menyiapkan air mandi untuk kakak!" ujar Rio kepada Miya.


"Terima kasih Rio, setelah kakak mandi dan mengganti perban siku kakak, kakak akan ke kamar ke sebelah dulu untuk berterima kasih pada tante suci karena sudah merawatmu saat aku tidak ada, uang peniggalan ayah masih sisa berapa?" ujarnya lalu bertanya.


"Mungkin sekitar delapan juta dollar, sebenarnya delapan juta setengah namun, aku sudah membayar sewa kamar dan fasilitas serta makanan yang di sediakan!" sahut Rio panjang lebar.


"Um...baiklah, kakak akan mandi, kau jangan kemana-mana oke!" ujar Miya dan langsung ke kamar mandi.


"Baiklah!" Jawab Rio.