FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 36: Pertikaian menggelikan



"Terima kasih untuk hari ini tuan David, kami harus pulang untuk mengurus yang lain, Miya ayo!" ujar Malvin berdiri dari kursinya.


"Kalian se atap?" tanya David sedikit tercengang.


Miya lalu menjawab cepat, "kami sejalur, kami biasa pulang bersama! Tuan Malvin yang menyewakan ku sebuah apartemen disini dan kebetulan rumahnya dan apartemen itu cukup dekat".


"Ya, kalau begitu kami permisi!" sahut Malvin lanjut dengan cepat.


"Baiklah kalau begitu, semoga besok di perusahaanmu yang baru kau bisa nyaman, Miya!" ujar David berdiri juga dan dilanjut dengan Lisa.


Malvin dan Miya pun berlalu meninggalkan Lisa dan David yang masih disana mengintai mereka dari belakang sampai masuk ke kendaraan mereka.



Sesampainya di rumah, Miya dan Malvin langsung di sambut dengan kedatangan kucing berwarna Oranye menghampiri Malvin dan langsung kepelukannya.


"Ke...kenapa ada kucing disini?", ujar Miya bingung.


"Ini Oki, dia salah satu dari kucing peliharaanku, hari ini seseorang membawanya ke sini agar kita tak merasa kesepian!", jawab Malvin mengelus kucing kesayangannya.



"Apa hanya Oki, kemana kucing berbulu hitam, abu-abu dan putihmu?", tanya Miya lagi.


"Aku tak membawanya, Rio bilang kalau dia mengurusnya dengan baik, jadi aku meminta Oki saja yang di bawa!", jawab Malvin lagi, "mau coba menggendongnya?".


Miya sedikit menjauh dan menggelengkan kepala kuat dan tak ingin mengusik. "Tidak, aku takut! Kau saja", pinta Miya memundurkan langkahnya lebih jauh.


"Seingatku kau pernah memandikan Oki sebelumnya, apa kau pernah di cakar Oki?", seringai di wajah Malvin terlihat.


"Tidak, saat aku memandikan Oki ia cukup tenang, namun aku tak mau menggendongnya, aku hanya takut menjatuhkannya atau apapun itu!!", sahut Miya ketus. "Aku akan membersihkan diriku, kau bisa makan duluan bersama Duke dan Oki".


Malvin mengangguk. Ia membiarkan Miya bersih-bersih agar ia bisa menghukum Miya yang tadi sangat membuatnya jengkel akan perilakunya yang tak hati-hati.



Selesai makan siang, Miya dan Malvin sedang berada di kamar berdua dan sedang melumat bibir dan bergulat bibir.


Malvin menyeringai, ia kembali mengecup bibir Miya singkat dan berkata, "bukankah kau tadi sangat senang ketika kau ingin di peluk hewan buas itu dk depanku?". "Kau tak ingat, jangan bilang kau melupakannya?".


"Itu...aku terpaksa menerimanya untuk kenyamanan bersama, aku melakukan itu agar yang menyaksikan nya tidak curiga sama sekali!", sahut Miya dengan pipi merah padam memanas.


"Kenyamanan? Aku tidak merasa nyaman sama sekali!" ujar Malvin ketus.


"Yang kumaksud bukan kenyamananmu, namun kenyamanan klien yang juga saling memeluk satu sama lain!" jawab Miya mengerutkan kening. "Lagi...lagi pula, mengapa kau harus marah?"


"Mengapa aku harus marah katamu? Wajar saja aku marah, kau itu milikku, hanya milikku! Ingat itu, Hanya Milikku!" ujar Malvin semakin menekan Miya ke arah dinding.


"Dasar manja!" jawab Miya ketus yang membuat Malvin menyeringai.


"Aku memang manja, dan aku hanya bermanja-manja padamu!" sahutnya menyeringai dan langsung menggendong Miya ke arah ranjang dan melanjutkan kalimatnya setelah ia kembali menekan Miya. "Aku sudah tak tahan, aku menginginkannya sekarang juga!".



Malamnya, keduanya sibuk dengan Laptop masing-masing yang sedang berada di atas paha mereka dan di meja kerja masing-masing terdapat minuman kesukaan mereka, Malvin menyukai Kopi hitam yang khas sedangkan Miya menyukai Matcha.


"Malvin, menurutmu apa aku harus menghadapi ini, aku cukup gugup di keesokan harinya saat aku mulai bekerja di perusahaan David!" ujar Miya santai masih memandangi Laptopnya.


"Apa yang kau maksudkan dengan 'Aku'? Yang benar adalah 'Kita'! Kalau kau ingin membatalkannya aku dengan senang hati langsung menyetujuinya!" jawab Malvin menatap.


Kali ini mereka saling memandang, "ja...jangan di batalkan, kita sudah disini dan kita kemari dengan tangan kosong dan terbuka, maka kita akan pulang dan membawa sesuatu dengan tangan menggenggam!" tekad Miya membuatnya semangat kembali.


"Kau terlalu bersemangat Sayang, ingatlah untuk terus berhati-hati terhadap rubah licik itu, kau mengerti? Karna jika aku mendapat keluhan dari orang lain, maka kita akan langsung pulang ke Paris tanpa menunda-nunda!".


"Ba...baiklah aku mengerti, sebaiknya kita tidur. Apa kau masih ingin membuka matamu itu?" ujar Miya menutup Laptopnya.


"Aku akan menyusul, aku harus mengonfir berkas dulu, tidurlah! Selamat malam". Jawab Malvin memandangi Laptop.


"Selamat Malam!".