
"Miya...aku akan memperkenalkanmu pada ibu saat kita sampai di rumah oke!" Malvin berlutut dihadapan Miya dan mengelus kepalanya, "Ayo kita pulang"
"Miya...kau ke atas dulu ya! Aku akan menyusul nanti, Rio!" Malvin berteriak memanggil Rio, "Bantu kakakmu naik ke kamar!"
"Tunggu sebentar, Rio!" Miya segera menolak, "kau berjanji ingin memperkenalkan aku pada ibumu!".
"Miya...nanti aku akan memperkenalkanmu pada ibuku ya! Istirahatlah dulu, oke! Rio tolong antar kakakmu!" Malvin kembali berlutut dan meyakinkan Miya agar mau percaya padanya.
"Rio, tunggu sebentar!" Miya lagi-lagi menolak, "Halo tante! Namaku Miya, aku..."
"Miya...temanku bu! Dia teman lamaku yang menumpang bersama adiknya disini!" Malvin langsung menyelip kalimat Miya dan membuat pernyataan yang membuat Miya kecewa.
"Rio...tolong bantu kakak berdiri!" Miya pun meminta untuk di bawa kekamar oleh Rio.
"Baik kak!" Rio langsung bergerak memapah kakaknya untuk ke kamar dan beristirahat disana.
Saat Miya telah meninggalkan ruang tamu, Malvin mulai membuka pembicaraan, "ibu! Soal Chelsea, aku...tidak tahu dimana dia?"
"Jangan berpura-pura Malvin, ibu pernah menemuinya dua minggu yang lalu, dia berada di rumahnya sekarang, dia mengeluh kalau kau tidak mau menikahinya dan malah memilih perempuan lain, apa benar? Apa gadis tadi yang dimaksud Chelsea?" Sang ibu langsung mengkritik Malvin tentang hubungannya dengan Miya.
"Ibu sudah ingatkan untuk menjaga Chelsea, apa kau tidak bisa melakukannya? Dia adalah calon tunanganmu, kau dari kecil sudah di jodohkan dengannya!" lanjut Ibu mengkritik.
"Tapi bu! Chelsea tidak mencintaiku, yang ibu pikir sebagai cinta adalah obsesi, perasaan Chelsea padaku hanya obsesi belaka, tidak ada rasa cinta sama sekali!" Malvin menyangkal pernyataan ibunya.
"Ibu tidak mau mendengar alasan apapun! Ibu ingin melihatmu bertunangan dengan Chelsea seminggu kedepan, dan temanmu itu ibu minta kau segera mengusirnya! Ibu tidak mau Chelsea salah paham!" dengan cepat sang ibu menyangkal apapun alasan yang dibuat Malvin.
"Tapi bu!, apa pertunangannya tidak bisa di mundurkan dan pestanya tidak terlalu megah?" segera Malvin meunculkan alasan yang muncul di kepalanya.
"Tidak bisa! Ibu baru saja kembali dan kau sudah membuat ibu ingin pergi lagi! Pertunanganmu harus megah, semua acar Tv harus menyiarkan Live pertunanganmu, dan tanggalnya akan kuberi tahu nanti setelah ibu mempertimbangkannya, ibu tidak mau mendengar alasan lagi!" Secepatnya sang ibu kembali menyangkal.
Sang ibu langsung pergi dari sana dan menuju ruang baca, sedangkan Malvin masih termenung dengan mempertimbangkan keputusannya untuk takdirnya, harus bersama Chelsea atau Miya?.
"Biarkan aku sendiri, Malvin! Kau bisa mandi atau makan yang penting kau menyingkir dari sini!" Miya masih dalam posisinya.
"Ini kamarku, terserah padaku mau pergi atau tidak. Miya, kau kenapa? Kau marah padaku?" Malvin hendak membalikkan tubuh Miya namun, segera Miya bangkit.
"Baiklah...aku saja yang keluar!" Miya hendak berdiri, Miya berusaha bangkit dari ranjang, Miya berhasil walaupun harus menyangga tububnya dengan memegang pinggiran ranjang dan sesuatu yang bisa menyanggahnya.
"Mi...Miya! Hati-hati, kau mau kemana?" Malvin langsung mendekat kearah Miya.
"Aku mau pergi! Lepaskan aku" Miya hendak memberontak, namun Malvin langsung menggendongnya ke arah ranjang balik, "Turunkan aku!"
"Miya! Maafkan aku! Kau jangan marah, suatu hari nanti akan kujelaskan kenapa aku melakukannya!" Malvin langsung memeluk Miya.
Miya menangis, "Pergilah! Urus pertunaganmu dengan Chelsea, aku dengan senang hati datang ke pertunanganmu sebagai teman lamamu!"
"Miya, jangan bilang seperti itu! Aku hanya mencintaimu, aku hanya milikmu, aku hanya akan menikah denganmu, beri aku waktu untuk memikirkan ini dan membujuk ibu, kumohon Miya!" Malvin meyakinkan Miya dengan cara apapun yang ia bisa.
"Biarkan aku sendiri Malvin, kumohon!" Miya memalingkan wajahnya.
Malvin menurut, ia lalu menyandarkan ke kepala ranjang, dan mengecup keningnya kilas dan pergi, menghilang dari ujung pintu yang ditutup.
Diluar kamar, Malvin masih menyandarkan dirinya ke dinding dan menunggu reaksi dari Miya.
Tak lama kemudian, terdengar sesegukan kecil dari dalam kamar, lama kemudian, sesegukan itu berubah menjadi tangisan dan sedikit membesar. Suara itu langsung tertangkap oleh telinga Malvin yang membuat Malvin semakin bersalah, ia berpikir, ia sendiri yang memberi janji pada Miya, ia sendiri yang menyatakan cintanya pada Miya, tapi ia juga yang menghancurkan omongannya sendiri di hadapan Miya.