
Malamnya Malvin datang dari suatu tempat dan membawa beberapa makanan dari luar untuk di santapnya malam ini bersama Miya dan Rio.
"Rio dimana kakakmu?" tanya Malvin dan meletakkan kantong kresek ke atas meja makan.
"Kakak sedang di atas kamar, tadi dia bilang jika kak Malvin datang dia menyampaikan kalau membiarkan kakak makan duluan!" jawab Rio tanpa berpaling dari ponselnya.
"Baiklah, Rio makanlah duluan, aku akan memanggil Miya dulu, makanannya aku letakkan di meja!" ujar Malvin lalu melangkah menuju tangga.
Di dalam kamar, terlihat jelas Miya sedang duduk terpaku tanpa melakukan apapun di atas ranjang. Lantas Malvin langsung mengarah pada Miya yang sedang melamun di atas ranjang itu.
"Miya, apa kau baik-baik saja?" tanya Malvin duduk di depan Miya.
"Eh...!Mm...aku baik-baik saja!" langsung tersadar dari lamunannya.
"Kau mau makan apa, kau pasti lapar?" tanya nya lagi.
"Tidak, aku tidak lapar!" jawab Miya lagi.
"Kau harus makan, tunggu di sini aku akan membawakan sesuatu padamu untuk kau makan, jangan kemana-mana!" langsung berdiri dari duduknya dan keluar.
Sesaat kemudian, datanglah Malvin membawa kaldu ayam dan beberapa sayuran serta salad buah. Malvin lalu menyodokkan sendok tepat di depan bibir Miya.
"Aku tidak lapar, kau saja yang makan!" sahutnya memalingkan wajah.
"Ku minta buka mulutmu!" Malvin mengubah nada suaranya.
"Tidak, aku tidak mau!" ujarnya mulai tegas.
"Ku bilang buka!" mulai jengkel dengan sifat kekanak-kanakan Miya.
Miya lantas menerima suapan itu sampai dua sendok saja, setelah itu ia menolak lagi dan tak mau lagi.
"Sudah cukup, aku sudah kenyang!" Langsung berbaring dan membelakangi Malvin.
"Kau kenapa hah?" tanya nya kembalikan badan Miya dan mengelus kepalanya. Malvin terus mengawasi Miya dengan tatapan tajamnya.
"Tidak, aku hanya lelah. Itu saja!" seru Miya menatap balik lalu kembali memalingkan wajahnya.
Malvin lantas langsung membuka jasnya serta kemejanya dan akhirnya telanjang dada memeluk Miya dari belakang. Kemudian mengubah posisi mereka jadi Malvin di atas Miya.
"Ah...hey, mmpph...tunggu!" Sahut Miya meronta.
Malvin tetap melanjutkan aksinya hingga ke arah paha dan meninggalkan bekas di area selengkangan Miya.
Setelah beberapa saat, Selesai melakukan itu di atas ranjang, Malvin lalu memperbaiki posisinya dengan menyelimuti Miya yang setengah telanjang.
"Tidurlah, kau pasti lelah!" mengelus kepala Miya.
"Mmm...baiklah, selamat malam!" ujarnya dan membelakangi Malvin.
Saat memperhatikan Miya beberapa saat dan yakin bahwa Miya sudah tidur, Malvin langsung keluar rumah untuk menemui Duke dan mengawasi gerak-gerik dari Chelsea.
Di sebuah Villa milik Malvin di pakai untuk mengawasi gerak-gerik Chelsea. Tidak hanya Duke dan Malvin yang ada di sana, beberapa suruhan Malvin yang lainnya pun ikut mendengarkan instruksi dari Malvin untuk memperhatikan dan melacak semua aktivitas Chelsea.
"Kalian, jangan sampai Chelsea mengetahui ini, kalian harus lebih hati-hati dan terus memperhatikan langkahnya!" ujarnya Memperjelas tugas mereka.
"Baik tuan, kami mengerti!" semuanya serentak menjawab.
Disisi lain di malam yang gelap, Chelsea yang di terus berlari hingga sampai di rumah orang yang menyelamatkannya tersebut. Chelsea tidak mengenali orang yang telah menyelamatkannya karena ia memakai topeng, bahkan dilihat dari moleknya tubuh orang itu bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang perempuan berbadan seksi, payudara yang besar dan pinggul yang indah.
"Siapa kau, kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Chelsea pada wanita itu.
"Aku, kau akan segera tahu. Yang pastinya tujuan kita sama, yaitu menyingkirkan Miya dari dunia ini. Aku hanya perlu bantuanmu sedikit, kau mantan kekasih Malvin bukan?" jawab sang wanita membalikkan badan.
"Buka topeng mu sekarang!" teriak Chelsea memaksa.
"Tenang saja, aku akan mempersatukanmu dengan Malvin, aku tidak akan membiarkan wanita jalang itu mendapatkan Malvin!" terdengar dari suara sang wanita sangat jelas umur dari wanita ini sekitar 50 tahun ke atas. Itulah yang membuat Chelsea bertanya-tanya, siapa wanita ini. Kenapa ia terlihat tidak asing baginya. Namun ia tak memikirkan itu dulu, ia fokus kepada bagaimana cara mendapatkan Malvin lagi ke tangannya sekarang.
"Kau, masuklah dan istirahat, aku akan menyusul!" ujar sang wanita lalu pergi.
Chelsea menurut karena saat ini tububnya amat lemah dan memustuskan untuk beristirahat di dalam dan membersihkan diri.