FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 13: Pulang bersamanya



Setelah pesta selesai, mereka semua kemudian membereskan dan mengembalikan Universitas seperti semula. Setelah selesai, Malvin mengajak Miya pulang dengan mobil mewahnya setelah Mahasiswa lain meninggalkan Universitas agar tidak menaruh kecurigaan kepada mereka. Namun, Sarah masih di sana dan menyaksikan Miya di antar pulang lalu menghilang dengan mobil itu.


Saat di dalam mobil, Miya sedikit bertanya tentang hubungan Malvin dengan Chelsea.


"Anu, apa boleh aku bertanya?" tanya Miya ketakutan.


"Mm, tentu boleh! Apa yang ingin kau tanyakan?" jawab Malvin.



"Itu, apa kau punya hubungan dengan wanita yang menyekapku beberapa minggu yang lalu? Ia terus mengatakan bahwa aku merebutmu darinya hingga mengatakan aku pelacur!" Ucap Miya sedih dan meneteskan air mata.


"Miya...! Apa dia melukaimu sebelum kau di dorong, mana yang sakit?" memegang bahu Miya.


"Aku tidak menanyakan soal itu, aku tanya apa hubunganmu dengannya sehingga aku disebut sebagai pelacur hubungan kalian" teriak Miya mulai emosi.


"Maafkan aku. Sebenarnya dia bernama Chelsea, dia adalah mantan tunanganku. Dari kecil aku sudah di jodohkan dengannya karena ayahnya adalah teman bisnis ayahku. Namun aku dari dulu tidak menaruh hati padanya. Suatu hari saat kami sudah mulai melakukan proses pertunangan tiba-tiba ibuku di kabarkan bunuh diri dan aku langsung menunda pertunangan itu. Mungkin ia hanya membalaskan dendamnya kepadaku dengan cara menculikmu!" ucap Malvin dengan bijaksana dan jujur.


Miya tak mengatakan apapun dan hanya termenung dalam tangisnya.


"Miya, ada apa? Aku sungguh minta maaf!" memegang tengkuk Miya.


Miya mencoba menepis tangan itu namun, ia didahului dengan tindihan badan kekar milik Malvin yang tiba-tiba menindihnya.


"Lep...lepaskan aku, menyingkir!" mencoba melepaskan diri.


"Kau boleh marah padaku untuk itu, tapi kau tidak boleh membuat keputusan untuk menjauhiku, itu tidak akan membantu kau mengerti!" ujarnya dan langsung mencium bibir Miya dengan lembut agar tidak menyakiti sikunya.


Malvin melepaskan ciumannya nafas mereka terengah-engah, lalu Malvin memperbaiki posisinya dan melanjutkan perjalanan ke arah rumah.



Sesampainya di rumah, Miya langsung turun dari mobil dan langsung menuju kearah adiknya yang sedang duduk di luar teras sambil memainkan ponsel baru yang di beri Malvin juga.


"Rio, kenapa kau main diluar, kau bisa masuk angin, ayo masuk! Dan lagi kenapa kau menerima semua yang di berikan oleh Malvin ini tanpa menanggapinya?" ucap Miya mengerutkan kening.


"Dia memaksaku, jadi aku terpaksa menerimanya, dan saat aku di jemput tadi, semua orang langsung berhenti membulyku, aku senang" menjawab tanpa ekspresi.


"Rio...!"


"Kenapa kau memarahinya, Rio masuklah!" Ujar Malvin langsung mendekati Miya.


"Ayo masuk, kau pasti lapar, di dalam sudah ada makanan yang siap kau santap!" sahut Malvin merangkul Miya.


"Kau harus makan, walaupun itu hanya tiga sendok kau harus tetap makan, kalau kau tidak makan maka aku yang akan menyuapi mu!" suruh Malvin kepada Miya untuk makan sesuatu.


"Baiklah, aku akan makan, dan bisakah aku tidur di kamar yang berbeda darimu?" tanya Miya kepada Malvin.


"Tidak! Kau harus menemaniku, aku selalu bermimpi kau harus membuatku tidur seperti yang kau lakukan terakhir kali!" ujarnya mendorong tubuh Miya untuk melangkah masuk ke dalam rumah.


"Ba...baiklah!" pasrah.



Selesai makan, Miya langsung mengarah pada kamar Malvin yang dari tadi menunggunya.


"Anu, apa kau sudah bisa tidur, aku tidak perlu membuatmu tertidur kan?" ujarnya langsung mengarah pada ranjang yang di tiduri oleh Malvin.


"Kau harus membantuku tertidur, dan lagi bisakah kau menyebut namaku dan bukan 'anu', kemarilah!' sahutnya memanggil Miya lebih mendekat kearahnya.


Miya lalu memperbaiki posisi Malvin yang acak-acakan, Miya mulai membuka kaos kaki Malvin, membuka jas, dan merapihkan kasur dan mulai memindahkan kepala Malvin kepangkuannya.


Miya mulai bersenandung dan sesekali memijat pelipis Malvin. Saat Miya mulai kelelahan dan mulai mengantuk, Malvin kemudian membuka matanya dan menarik Miya ke pelukannya dan membuatnya dalam posisi Malvin di atas tubuh Miya



"Hey, lepaskan aku! Kau sudah bisa tidur bukan, aku akan tidur di sofa saja!" ujarnya melepaskan diri.


"Tidak, kau disini saja, malam ini sangat dingin tidurlah!" mempererat pelukan.


"Tunggu dulu...!"


"Sudah kubilang sebut namaku jika kau memanggilku!" ujarnya mencium leher Miya.


"Hey...hey, kau tidak waras ya, tunggu berhenti!" pinta Miya ketakutan.


"Ku bilang sebut namaku, jika kau menyebutnya maka aku akan berhenti!" ujarnya semakin ganas.


"Baiklah, Mal...Malvin berhenti!" menjawab dengan nada ketakutan.


Sontak Malvin langsung menghentikan aksinya dan mengecup bibir Miya singkat dan melanjutkan tidurnya dengan memeluk Miya erat-erat.