
Saat Miya membuka mata, Miya mengenali ruangan itu, ia sedang berada di kamar, ia lalu menggelengkan kepalanya ke sisi ranjang dan melihat Malvin di sana dan masih terjaga.
"Kau mau makan? Ini baru pukul 21:00, apa kau ingin makan sesuatu?" Malvin langsung mengusap wajah Miya dan bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung terduduk.
"Kenapa kita bisa ada di paris, Malvin?" Miya mengubah topik, "aku...bukankah aku ter..."
"Sstt...jangan dilanjutkan, aku akan membawakan makanan, aku akan menjelaskannya nanti!" Malvin tersenyum dan langsung turun dari ranjang dan menuju ke dapur bawah.
Miya masih terpaku disana, Miya tak habis pikir tentang kejadian yang dialaminya di Amerika, Miya masih belum bisa mencerna kenapa Lisa melakukan hal tersebut kepadanya, itu hanya tentang David, apa dia segitu mencintai atasannya itu sehingga berani membunuh seseorang untuk atasannya itu? Sungguh membuat Miya merasa ngeri dengan obsesi Lisa terhadap David.
Setelah lama berpikir, Miya langsung tersadar dari lamunannya karena Malvin telah datang membawa nampan, diatas nampan itu ada semangkuk bubur ayam dan di sebelahnya terdapat segelas air putih jernih.
"Miya, ini! Kusuapi ya" Malvin mengaduk bubur itu dan mulai menyuapi Miya
"Tunggu sebentar, kau masih belum menjelaskan kenapa kita bisa di paris?" Miya kembali mengubah topik.
"Makanlah dulu, aku akan menceritakannya nanti, oke!" Malvin memaksa, "Ayolah, buka mulutmu!".
Miya menurut, Miya pun menerima suapan dari Malvin agar ia bisa mengetahui kebenarannya dari Malvin.
Setelah Miya makan, Miya kembali bertanya, "cepat ceritakan!".
Malvin menghela napas panjang dan mulai bercerita. Miya nampak tertegun dan membeku mendengar pernyataan dari Malvin.
"Lalu, Nona Tyana bagaimana?" Miya lalu menanyakan soal Lisa.
"Sekertaris Lisa sudah di jebloskan kepenjara, tenang saja! Sebaiknya kau tidur, kau jangan banyak bergerak dulu, tangan dan kepala mu tak boleh terguncang, tidurlah!" Malvin lalu tersenyum dan mengusap pipi Miya lagi.
"Adikku...Rio bagaimana, dia dimana?" Miya kembali bertanya.
"Dia sedang tidur, dia yang menjagamu tadi saat aku diluar mengurus beberapa hal!" Malvin kemudian mencium bibir Miya kilas, "tidurlah! Kau harus banyak istirahat!".
Miya menurut saja, Miya lalu mulai berbaring dengan di bantu oleh Malvin, Malvin juga ikut tidur di samping Miya dan merapatkan tubuh Miya agar tak banyak bergerak nantinya.
Saat Malvin mulai memasuki mimpinya, Miya tiba-tiba bertanya lagi, "Malvin? Siapa yang bertugas menggantikanmu di Amerika?"
Esoknya, Rio langsung datang ke kamar untuk melihat kakaknya untuk memeriksa apa Miya baik-baik saja.
"Kakak!" Rio berteriak sampai membangunkan Malvin dan Miya tiba-tiba.
Miya dan Malvin langsung menatap Rio yang membuka pintu dengan keras, "Rio, ada apa?"
"Rio, apa kakakmu ini tidak mengajarkan untuk mengetuk?" Malvin menggosok matanya.
"Maaf kak, aku hanya mengkhawatirkan kak Miya, apa kakak baik-baik saja sekarang?" Rio kembali bertanya.
"Kakak baik-baik saja, sana mandi! Malvin, mandilah!" Miya mengelus rambut Malvin.
"Yaudah kak, Rio kebawah ya!" Rio pun meninggalkan kamar Malvin dan Miya.
"Malvin, ayo mandi! Kau harus bekerja" Miya kembali menatap Malvin.
"Aku akan menyuruh Duke kesana, aku mau disini menjagamu! Aku tak akan pergi bekerja hari ini" Malvin membalikkan tubuh menimbulkan sikap merajuk.
"Yasudah, apa aku boleh mandi?" Miya lalu bertanya.
"Tidak! Kau bahkan tak bisa menggerakkan lenganmu, kecuali kalau kau mau aku membantumu mandi" Malvin langsung menyunggingkan bibirnya.
"Ti...tidak jadi, Malvin, aku...aku lapar!" Miya mulai merengek canggung.
"Baiklah, aku akan kebawah untuk membuat sesuatu, kau mau apa?"
"Aku mau....Spageti! Kau bisa kan memesan itu!" Miya tak yakin dengan permintaannya.
"Siapa bilang aku akan memesannya, aku akan memasaknya sendiri, tunggulah sebentar! Aku akan kebawah dan membawakanmu Spageti yang kau minta!" Malvin terlihat percaya diri.