
"Sarah, terima kasih sudah membiarkan kami menginap untuk sementara waktu!" Miya yang baru sampai di rumah Sarah dan sudah menata rapih pakaiannya pada lemari yang sudah di siapkan di kamar itu.
"Tidak apa-apa Sayangku, aku senang kau pindah kemari! Anggaplah sebagai rumahmu juga!" Sarah melirik Miya yang sedang duduk termenung di bibir ranjang.
"Aku akan melihat Rio dulu, aku akan ke bawah membantu mu setelah melihat Rio!" Miya berdiri dari duduknya.
"Baiklah Sayang, aku akan kebawah lebih dulu untuk membuat sesuatu untuk kau makan! Sampai jumpa di bawah!".
Di sisi lain Malvin yang baru saja selesai melampiaskan amarahnya pada rumah nya sendiri, Malvin langsung menelpon Duke untuk meminta bantuannya dan mencari Miya serta melacak Miya.
Tak butuh waktu lama, Duke sampai sepuluh menit lebih cepat dari waktu yang di minta Malvin padanya.
"Duke, tolong lacak dimana Miya sekarang, jika ia masih di kota ini biarkan saja dia berkeliaran! Mungkin saja dia sedang mengunjungi Sarah! Tapi jika dia hendak keluar dari kota, batalkan semua penerbangannya, kau mengerti!" dengan tegas Malvin berseru.
"Baik tuan, saya akan mengurusnya!".
Tak beberapa lama berbincang dengan Duke, datanglah ibu Malvin di ikuti oleh Chelsea di belakang sang ibu.
"Untuk apa kau mencari-cari Miya, kita akan bertunangan selasa ini dan kau malah mencari-cari orang lain! Kau anggap aku apa?" Chelsea langsung membanting kunci mobil di depan Malvin ke arah meja.
"Apa masalahmu dengan itu? Memangnya kau siapa? Kau hanya tunanganku di depan publik, dan hanya publik yang mengetahuinya jika kau adalah tunanganku, tapi aku tidak pernah menganggapmu begitu!" Malvin menjawab dengan cuek tapi tegas.
"Malvin, Chelsea itu tunanganmu! Kau tidak boleh berkata seperti itu! Ibu tidak pernah mengajarkan mu seperti itu!" Ibu Malvin menyangkal dengan membela Chelsea.
"Aku sudah menuruti semua keinginan ibu untuk bertunangan dengan wanita sialan ini, aku tidak pernah menolak permintaan ibu, aku bahkan berpikir kau sudah tidak mirip dengan ibuku!" Malvin langsung berdiri dan meninggalkan tempat, di lanjut oleh Duke yang berjalan di belakang Malvin.
_
Di luar teras, Malvin sedang menikmati udara sambil menunggu berita dari Duke tentang pelacakan Miya.
Memang Chelsea dan Ibu Malvin terus memberikan makanan atau cemilan untuk Malvin, tapi Malvin sama sekali tak menghiraukannya bahkan tak melihat kemana-mana. Seakan-akan dia sedang menatap satu titik yang di tangkap oleh matanya sambil berkhayal.
Tak beberapa lama kemudian, Duke datang dengan mobil hitamnya dan berjalan santai e arah Malvin yang sedang duduk di tepi taman kesukaan Miya yang di penuhi dengan bunga Tulip berwarna merah dan kuning yang disukai Miya.
"Tuan! Nona Miya saat ini sedang berada di rumah nona Sarah dan akan menetap disana untuk beberapa hari. Nona tak berpikir untuk keluar kota, Tuan!" Duke memberikan semua maklumat yang ia dapatkan dari hasil pelacakannya.
"Bagus! Berarti Miya hanya marah padaku, dia tidak meninggalkanku!" ada sinar kelegaan yang terpancar dimata Malvin ketika mengetahui kabar itu.
"Baiklah tuan, saya akan memberikan hasil yang lebih memuaskan nanti, saya harus kembali keperusahaan! Apa boleh tuan?" Duke meminta izin.
Sejak insiden jatuhnya Miya di Amerika, Duke lah yang mengurus perusahaan, sedangkan Alga di kirim ke Amerika untuk menggantikan posisi Malvin sebagai direktur di Amerika.
"Saya permisi tuan!".
"Miya makan malam sudah siap! Rio kemarilah!" Sarah berteriak keras memanggil kakak beradik itu.
"Kami datang!" keduanya berseru bersamaan.
Baru saja menuruni tangga, Aroma sedap langsung menyambut mereka berdua, dengan semangat, Miya dan Rio berlari menghampiri meja makan.
"Ini terlihat enak Sarah! Aromanya pun sangat menusuk hidung!" Miya langsung duduk di kursi dan di lanjut oleh Rio dan Sarah.
"Haha, makanlah! Jika tidak, makanannya akan dingin! Ayo cepat dimakan!" Sarah berseru sambil menghidangkan lauk kepada Miya dan Rio.
"Selamat makan!".
_
Setelah makan, Rio Miya dan Sarah langsung sibuk dengan ponsel masing-masing. Miya yang baru saja ingin membaca buku langsung di tunda dengan suara ponselnya.
Terlihat dengan jelas, bahwa Malvin yang menelpon Miya saat itu. Miya mengabaikannya sampai tiga kali panggilan, tapi seakan-akan tahu jika Miya sedang tak melakukan aktifitas apa-apa, ponselnya terus berbunyi di atas meja.
Tak punya pilihan lain, Miya mengangkatnya, "Bisakah kau tidak menggangguku! Aku ingin sendiri!"
"Miya, bukankah kau ingin membaca buku, bukan ingin sendiri! Aku tahu kebiasaanmu setelah makan. Kau pasti akan langsung menuju ruang baca dan membaca buku bukan?" Seakan-akan tengah mengawasi Miya, Malvin menjawab dengan tepat.
"Bukan urusanmu, aku akan menutupnya!" Miya membentak.
"Tunggu dulu Miya, aku sangat merindukanmu! Aku mungkin tidak akan tidur lagi malam ini! Bisakah kau membuatku tertidur walau lewat suara saja!" Malvin merengek seperti anak yang baru saja mengalami mimpi buruk.
"Baiklah tapi setelah itu kau tidak boleh menelpon lagi jika tidak ada hal yang mendesak!" Miya merasa jengkel.
"Iya Sayangku! Bernyanyilah!".
Miya langsung bersenandung untuk menidurkan Malvin walau lewat telepon suara saja. Disisi lain, Malvin yang tengah berbaring di ranjangnya masih mendengarkan senandung Miya yang langsung di tangkap oleh telinga kanannya.
Malvin membayangkan seakan-akan, Miya sedang bersamanya malam itu dan sedang membuatnya tertidur seperti biasa.
Sungguh Miya, aku benar-benar merindukanmu!