FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 38: Berlebihan



David melangkah keluar dari Lift dan langsung menuju ruangan Miya untuk memulai aksinya.


(Kleek")


"Maaf nona Miya, apa anda sudah selesai dengan data dan file yang sudah ku persiapkan?" sahut David membuka pintu dan langsung memasang wajah senyum yang sangat lebar.


"Ah! Tuan David, saya baru saja selesai. Anda bisa mengeceknya, Tuan!" ujar Miya mengulurkan sebuah CD dan sebuah amplop yang berisi data yang sudah di bereskan oleh Miya.


"Wah, anda sangat cepat nona, apa boleh saya tinggal disini dulu, ruangan saya sedang di renovasi" ujar David yang tiba-tiba duduk di samping Miya yang sedang menyeduh teh di sofa.


Sontak Miya sedikit bergeser, "Ba...baiklah tuan David, anda bisa disini, aku akan ke kursiku untuk mengerjakan File berikutnya" ujar Miya canggung dan berdiri seketika.


"Ya sudah, aku akan duduk di sini sampai renovasi di ruanganku selesai" sahut David tetap mempertahankan senyumannya.


Selang beberapa menit kemudian, Miya sudah mulai merasa tak nyaman dengan David yang terus melirik-lirik kearahnya, "Tuan...anu, jam makan siang di sini jam berapa ya?"


"Sekarang baru jam sepuluh lewat dua puluh, berarti tinggal dua jam lagi" jawab David tersenyum.


"Oh, baiklah kalau begitu tuan!" sahutnya canggung.


Tak berapa lama setelah keheningan membentang diantara mereka, tiba-tiba jendela besar yang terbuka kaca nya terdengar seseorang memanggil Miya. "Miya...!"


Miya menoleh dan mendapati Malvin sedang berada tepat berdiri di jendela perusahaan Malya yang bersebrangan dengan ruangan Miya. Kira-kira jarak dari jendela ruangan milik Miya dan jendela perusahaan Malya yang nampak jelas Malvin sedang berdiri disana kurang lebih sekitar sepuluh meter dari sana.


"Mal...maksudku tuan Malvin, kenapa anda bisa disana?" ujar Miya sedikit terkejut.


"Kenapa aku disini? Ini ruanganku!" jawabnya datar.


Miya semakin tak percaya, "Hah? Tapi itu ruangan kecil, dilihat dari ukuran jendelanya itu sepertinya ruangan para staf biasa"


"Terserah padaku aku mau pindah ruangan dimana yang kusuka, ini perusahaanku, tidak ada yang akan melarang!" ucap Malvin menyeringai.


"Wah tuan Malvin, apa anda mencoba memindahkan ruangan anda untuk mengawasi Miya dan aku?" David tiba-tiba muncul di samping Miya.


"Tidak juga, oh ya! Tuan David, apa anda bisa membiarkan nona Miya kesini sebentar, aku ingin membicarakan sesuatu masalah saham yang ada di Paris!" ujar Malvin menatap tajam.


"Tapi tuan, nona Miya masih harus mengerjakan tugasnya, dan lagi ini belum jam makan siang" teriak lembut David.


"Tuan, apa boleh? Saya hanya akan berbicara dengan atasan saya dulu lalu kembali kemari!" Miya menyela dengan cepat.


"Huh! Baiklah kalau begitu, cepat ya nona cantik!" ujar David tersenyum manis.



Kemudian, Miya turun dari perusahaan dan hendak menuju perusahaan Malya. setelah memasuki Loby, ia langsung menuju Lift pertama dan naik ke lantai dimana Malvin berada.


Sampai di atas dan masuk ke ruangan itu, tiba-tiba ia langsung di sergap cepat oleh Malvin dengan cara di gendong seperti mengangkat karung beras di pundaknya, kemudian Miya di baringkan ke meja besar di ruangan itu, Malvin sontak **** tubuh Miya.



"Sayangku! Apa kau tidak menghiraukan peringatan yang kuberikan? Kenapa rubah sialan itu ada di ruanganmu?" tanya Malvin sedikit mengancam.


"Dia...em...dia hanya mampir sebentar, ruangannya sedang di renovasi jadi dia ke ruanganku!" Miya menyusun kalimat dengan gugup.


"Kenapa bukan kau yang keluar ruangan? Apa kau sangat betah bersamanya seharian?" ujar Malvin lagi.


"Anu, tadi aku punya banyak pekerjaan jadi aku tak bisa keluar ruangan, dia juga hanya...hanya duduk dan tak melakukan apa-apa!" jawab Miya lekas.


Malvin tak menghiraukan alasan Miya dan langsung mencium serta melumat bibir Miya, sebagai hukuman karena sudah membuatnya kehilangan kesabaran dan membuatnya cemburu.



"Sudah Malvin, baik-baik aku minta maaf! Aku harus menyelesaikan tugasku sekarang, aku harus pergi" ucap Miya mendorong tubuh Malvin.


"Kau sepertinya sungguh betah berada di dekatnya, seharusnya aku tak mengijinkanmu mengikuti kontrak, kita pulang saja ya! Aku sungguh muak disini" Tatapan tajam langsung dari Malvin membuat Miya tak berani menelan ludah.


"Ja...jangan pulang, aku janji...janji akan melawan jika...jika berbuat yang tidak-tidak, jika aku melakukan kesalahan lagi kita akan pulang, aku janji" ujar Miya meyakinkan.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji apapun yang ia katakan, apapun yang ia perbuat kau harus tetap percaya padaku dan tak menghianatiku dan meninggalkanku, kau mengerti! Aku bisa saja bertindak egois dengan mengurungmu di rumah, tapi karna kau berjanji aku akan mengijinkanmu" menghela napas panjang, "baiklah, kau boleh pergi! Tapi ingat jam makan siang kau harus kemari!".


"Iya...aku permisi!".