
Makan malam tiba, di meja makan tidak terlihat bahwa ada Malvin disana. Malvin sedang mengurus perusahaan dan sepertinya akan pulang terlambat.
Yang memasak kali ini adalah seorang pembantu yang Malvin bawa untuk membantu Miya, kalau-kalau Miya membutuhkan sesuatu.
"Rio, tolong bantu kakak!" Miya meminya Rio untuk mengisi piringnya dengan makanan.
Disisi itu, Sang ibu yang melihat kejadian itu langsung melontarkan kalimat yang menyinggung namun dikecilkan, "Dasar merepotkan!"
Walaupun suara itu kecil, namun Miya dan Rio mendengar itu dengan jelas ditelinga mereka sehingga membuat suasana di meja makan itu menjadi canggung.
"Rio, setelah makan langsung ke kamar dan kerjakan pekerjaan rumahmu yang belum selesai",Miya melanjutkan berdiskusi dengan Rio.
"Baik kak!" Rio menurut dengan sepenuh hati.
Selesai makan, Miya dan Rio langsung menuju kamar untuk segera tidur agar ketika Mavin datang nanti ia akan tidak mengganggu Miya jika sedang tidur nyenyak bersama Rio.
"Rio...cepat kerjakan tugasmu, kakak akan menunggumu sampai selesai mengerjakan itu lalu kakak akan tidur!" dengan tegas, Miya mengancam Rio.
"Baiklah kak...tapi setelah aku selesai mengerjakan tugasku, bisa kan aku memainkan ponsel ku lagi?" Rio seakan meminta izin untuk begadang.
Miya berpikir untuk meyakinkan Rio dengan alasan akan membiarkannya bermain nanti, "Baiklah, kakak akan memberikan ponselmu nanti!"
Setelah dua jam Rio duduk di meja belajarnya, akhirnya pekerjaannya selesai. Ia menggelengkan kepala mengecek kakaknya apa masih bangun atau tidak.
Terlihat Miya sudah tertidur lelap sambil memegang ponsel Rio. Rio mulai mengendap-endap mengambil ponsel itu agar ia bisa memainkannya sampai pagi.
Pelan-pelan ia menuju samping ranjang dan meraih ponsel miliknya di tangan kakaknya yang sedang tidur pulas. Ia berhasil, ia langsung keluar teras untuk menikmati angin malam sambil memainkan ponselnya.
Di luar teras di depan taman samping rumah Malvin, Rio sedang duduk di kursi yang sudah tersedia di sana sambil mengotak-atik ponselnya dengan lincah.
Setelah beberapa lama, terdengar suara mobil membuat Rio menengok dan mengetahui Malvin sudah pulang.
Saat melihat Malvin turun dari mobil, segera Rio mendekat sambil memperingatkan, "Kak! Tolong jangan berisik saat masuk, kakak sedang tidur di kamarku, jangan sampai kak Malvin membangunkan kakak!".
"Tanya saja pada kakak besok!".
Tak memperdulikan perkataan Rio selanjutnya, Malvin langsung menerobos masuk dan menuju kamar Rio untuk melihat Miya.
Di dalam kamar Rio, terlihat bahwa Miya sedang tidur nyenyak. Malvin mendekat, ia mulai menyelipkan tangannya ke paha dan leher Miya untuk di gendong ke atas kamar mereka.
_
Di kamar Malvin, Malvin tengah membaringkan Miya ke ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkan Miya yang sedang tertidur pulas.
Malvin ikut naik setelah membaringkan Miya dan membuka jas, sepatu dasinya ke lantai dan tersisa hanya kaos dan celana panjang kerjanya yang masih belum terlepas disana.
Malvin memeluk Miya dari depan agar Miya tak terbangun, Malvin menatap dalam ke arah wajah Miya yang sangat tampak kesedihan mengaliri perasaannya sekarang.
Alis Miya berkerut, keringat menetes dimana-mana, suhu tubuh yang rendah membuat Miya terlihat pucat.
Melihat keadaan itu, Malvin merasa sangat bersalah terhadap Miya yang selama ini telah membuatnya berubah drastis jadi sekarang ini.
Ia lantas memeluk Miya dengan erat namun hati-hati, ia menenggelamkan wajahnya ke bawah rambut Miya yang harum dan menusuk hidung mancungnya.
Dengan perasaan campur aduk, Malvin terus menahan siksaan yang tak tertahankan yang ada dalam diri dan hatinya. Tak tau harus memilih siapa dari kedua wanita paling di sayanginya sungguh membuatnya tertekan.
Malvin terus berpikir kenapa ia menjanjikan sesuatu yang diharapkan mereka berdua tapi ia tak dapat menepatinya?
Dan kenapa sang ibu harus terlihat setelah bertahun-tahun kemudian, apalagi membawa-bawa nama Chelsea yang menjadi jodohnya sejak kecil membuatnya tak bisa menolak. Apalagi ayah Chelsea sangat membantu keluarganya saat ia kesulitan.
Malvin yang terus menciumi dan menghirupi aroma rambut berwarna merah tua yang menyala di bawah tengkuknya membuatnya tersadar jika Miya tadi bergerak menggeliat meminta di lepaskan dari pelukan.
Lantas Malvin langsung mengecek Miya apa Miya bangun atau tidak dan hanya menggigau. Untung saja, Miya masih tertidur, Malvin melanjutkan aksinya menciumi rambut merah tua itu terus menerus sambil sesekali ia elus agar membuat kedamaian di hatinya langsung kembali dengan cepat.
Miya adalah salah satu seseorang terpenting dalam hidupnya, bukan salah satu, tapi sudah sangat penting dalam hidupnya dalam empat bulan ini.
Malvin sangat cemas, apa Miya akan tetap berada disisinya setelah ini atau tidak, karena belum tentu Miya akan menerima jika Malvin dibagi dengan seseorang selain dia saja.
Dalam hidupnya, ia mengenal Miya sebagai wanita yang tangguh dan penyayang, walau sifat kekanak-kanakan dan malunya kadang menguasainya. Bahkan Miya juga biasa di kuasai oleh sifat egois, ceroboh dan marah.