
Keesokan paginya, Miya terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati Malvin di sampingnya. Ia lantas tak khawatir karena ia berpikiran jika Malvin pasti sudah berangkat lebih dulu.
"Rio, kakak pergi ya! Jangan lupa buat bawa bekal kamu, kalau kamu udah kesekolah jangan lupa ya tutup pintunya! Dah" teriak Miya di bawah sedangkan Rio masih di kamarnya.
"Ok! Kak, setiap pagi kakak juga bilang gitu kok, gak bakalan lupa deh!" jawab teriak Rio.
Miya melangkah dan berjalan ke arah kantor, karena ia tak tau menggunakan kendaraan roda dua maupun empat, dan lagi Malvin tidak punya pembantu dan security di rumah itu.
15 menit kemudian, Miya sampai dan langsung menuju ruangan Malvin. Saat baru saja membuka pintu ia di kagetkan dengan sesosok pria tampan di ruangan Malvin sedang berdua bersama Malvin.
"Malvin, aku sudah sam...(terhenti!)" perkataan Miya terhenti dan memandang seorang pria tampan di samping Malvin. "Eh, anu...maaf, kalian lanjutkan saja, aku akan keluar!"
"Miya tunggu, aku ingin memperkenalkannya padamu! Dia Rivalku, namanya Alga Bhim, dia datang untuk menyarankan kerja sama antara perusahaan Garden dan perusahaan Malya, aku juga butuh pendapatmu tentang itu!" sahut Malvin menjelaskan.
"Em...senang bertemu denganmu tuan Alga, perkenalkan namaku Miya Calandra, anda bisa memanggil saya Miya!" ujar Miya mendekat.
"Senang juga bertemu denganmu Miya, kau bisa memanggilku Al saja!" menerima tangan Miya dan tersenyum. "Jadi dia yang kau maksud sekertarismu plus kekasihmu ya Malvin, aku sering mendengar namanya keluar dari bibirmu, sungguh wanitamu sangat cantik!
"Em...haha, terima kasih tuan. Soal pendapat saya mengenai itu, saya setuju-setuju saja, lagi pula anda dan tuan Malvin sudah saling kenal, jadi mangapa tidak kita membuat kerja sama antara dua elemen perusahaan ini!" ujar Miya menerangkan pendapatnya.
"Baiklah Miya, kemarilah!" Malvin membuka tangannya lebar-lebar ke arah Miya agar Miya mau lompat ke pelukannya.
Miya hanya berjalan biasa mendekat kearah Malvin. Malvin kesal dan menarik Miya dalam pelukannya.
"Hey, kau tidak lihat dia masih di sini...lepaskan aku!" Bisik Miya pada Malvin.
"Memangnya kenapa, hah? Biarkan saja dia tau!" jawab Malvin mengeratkan pelukan.
"Baiklah Malvin, sepertinya kau sedang bersenang-senang sekarang, sebaiknya aku pergi. Sampai jumpa di ruang rapat!" Alga berjalan keluar ruangan Malvin.
Kembali kepada Malvin dan Miya yang dari tadi mendekatkan kulit mereka. Malvin lalu mengangkat Miya ke meja kantornya.
"Ka...kau tidak bisa melakukannya, kita sedang di kantor!" jawab Miya melihat sekeliling.
Bagaimana Miya tidak melihat sekeliling, dinding ruangan Malvin terbuat dari kaca transparan yang langsung bisa terlihat jika kita sudah mendekati ruangannya. Saat Miya masuk ke ruangan Malvin tadi dan tidak melihat adanya sosok Alga berada di ruangan itu karena di bagian sofa dekat dengan meja Miya tidak transparan, dan tadi Alga duduk di sana, jadi ia tak menyadari adanya sesosok Alga di sana.
"Ayolah, tidak akan ada yang datang! Lagi pula jika ada yang datang mereka hanya akan menyaksikannya saja!" mengecup lagi.
"Itu tidak masalah buatmu tapi masalah denganku, sudahlah Malvin ayo kita lanjut soal saham perusahaannya!" Miya mulai meronta lagi.
Malvin lalu menggelitik Miya yang membuat Miya tertawa kesenangan, ia lantas tak berhenti tertawa.
"Hahahaha...hei, sudah, sudah aku...hahaha..!" tawa Miya menahan gelinya tangan Malvin.
"Husstt...jika kau tertawa terus kau akan membuat orang datang kemari!" bisik Malvin. "Baiklah, kita berbicara tentang sahamnya dulu, bagaimana menurutmu tentang saham kita yang terus meningkat?" ujarnya
"Huh, menurutku kita jalani saja dulu bisnisnya, memangnya ada berapa perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita?" tanya Miya.
"Mmm kalau tidak salah sekitar 4 perusahaan, dua diantaranya adalah perusahaan milik Alga dan duanya lagi milik mantan direktur perusahaan ini, kakaknya Alga yaitu Yugo Bhim, namun ia tak pernah lagi berhubungan dengan kami sejak kebakaran 6 tahun lalu, perusahaan ini pernah terbakar karena dia dan menyebabkan kerugian dan menghancurkan pertemanan dari perusahaan lain pada perusahaan ini, lalu ia mengundurkan diri dan tidak mengganti kerusakan itu sepeser pun!" sahut Malvin menjelaskan.
"Mmm...benarkah? Sudahlah jangan mengungkitnya. Sebentar lagi kau akan rapat di luar kan, sebaiknya kau bersiap, dimana jas mu?" sahut Miya dan matanya menelusuri ruangan untuk mencari jas Malvin.
"Jasku basah, tadi terkena kopi karena sekertaris Alga, dia mungkin sedang membersihkannya, tidak apa-apa aku masih punya cadangan, Duke akan segera membawanya kesini!" jawab Malvin menyandarkan diri ke pundak Miya.
"Baiklah, aku akan di sini untuk mengurus beberapa file, atau aku perlu ikut?" Sahut Miya mengelus kepala Malvin.
"Tidak usah, kau disini saja. Telepon aku jika terjadi sesuatu oke!" jawabnya menarik tangan Miya ke bibirnya.
"Baiklah! Bersiaplah!" ujar Miya.