FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 27: Ayah Malvin



"Malvin, bangun!" Miya mengguncang tubuh Malvin lembut.


Malvin langsung membuka matanya dan tertuju pada wajah Miya yang tepat di depan wajahnya. "Pagi, apa kau tidur sambil duduk lagi?" Malvin langsung bangkit dari tidurnya dan dalam posisi terduduk.


"Tidak apa-apa, aku tidur nyenyak semalam!" senyum Miya agar Malvin tak marah.


"Baiklah, bersiaplah! Aku akan membawamu ke suatu tempat dan menemui seseorang" sahut Malvin.


"Menemui seseorang? Siapa?" tanya Miya mengulang kata-kata Malvin.


"Lihat saja nanti, bersiaplah dan kita akan pergi sebentar lagi!" jawab Malvin dan berdiri dari duduknya lalu menuju kamar mandi.


Setelah bersiap, mereka langsung meninggalkan rumah tanpa membangunkan Rio yang sedang terlelap dengan mata pandanya yang terlihat karena begadang oleh game yang ia mainkan. Oleh karena itu Miya dan Malvin tak membangunkannya dan hanya meninggalkan surat di atas samping ranjangnya.


Miya dan Malvin lalu melesat pergi.



Miya terlihat bingung ketika mereka sampai karena Malvin membawa Miya ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan narapidana yang pastinya sudah diketahui ini adalah tempat berkumpulnya narapidana yaitu penjara.


"Kenapa kita kesini? Apa ada seseorang yang kau kenal disini?" tanya Miya bingung.


"Tidak usah bertanya, ayo kita masuk!" Malvin meraih tangan Miya dan menariknya dengan lembut untuk mengikuti langkahnya.


Ketika melangkah masuk ke dalam, yang pertama kali terlihat adalah meja-meja para petugas dan ketua dari polisi-polisi yang berjaga di sana. Ketika Malvin dan Miya lebih melangkah masuk dan mulai terlihat jeruji besi yang di dalamnya ada tahanan, ada yang berisi satu narapidana ada juga yang dua sampai tiga narapidana, bahkan yang paling banyak ada sekitar empat narapidana di sana.


"Malvin, kita akan menemui siapa?" tanya Miya lagi tak sabar.


Malvin tak menjawab dan langsung berhenti di tahanan sebelah kanan dan didalamnya ada satu orang yang sedang menulis nulis hari-harinya di dinding tahanan itu. Ketika tahanan itu mendengar langkah kaki menuju ke arah sel tahanannya, ia langsung menoleh dan terkejut melihat Malvin dan Miya sedang berdiri disana.


"Malvin putraku, tolong lepaskan Ayah!" teriak sang lelaki yang sudah beruban dan wajahnya sudah mulai keriput.


Miya terkejut apa yang dikatakan oleh lelaki paru baya itu yang menyebut Malvin sebagai putranya, ia langsung menunduk memberi hormat. "Halo paman....senang ber...bertemu dengan anda!".


Malvin lantas menggenggam tangan Miya erat dan mengatakan. "Jangan menunduk pada orang yang tak tahu malu ini, ia adalah orang yang paling membuat ibuku menderita!".


"Sudahlah, jangan dipikirkan! Aku sudah menyelidiki beberapa tentang ibumu bersama Duke, dan aku mendapat hasilnya kemarin dari ponselku yang mengatakan bahwa, ibumu tak bersalah, ayahkulah yang bersalah! Aku minta maaf telah membuatmu tertekan seperti ini" jawab Malvin menatap Miya.


"Maksudmu, ibuku tidak menggoda ayahmu?" tanya Miya masih tak mengerti.


"Bisa dikatakan begitu karena...pada malam itu, ibumu diketahui sedang berada di club malam dan sedang mabuk, saat itu ayahku yang menggodanya dan akhirnya berahir di kamar hotel, paginya ayahku langsung pergi meninggalkan ibumu dan disitulah ibumu mengakhiri hidupnya dan disitu pula ayahku ditangkap karena adanya rekaman CCTV di luar kamar itu, dan yang terakhir keluar dari kamar itu adalah ayahku dan ia berpakaian lusuh saat keluar!" jawab Malvin berterus terang.


"Miya, aku datang membawamu kesini karena aku ingin kau memberinya hukuman, aku akan menuruti semuanya, bahkan jika hukumannya untuk membunuhnya maka akan kulakukan". Sahut Malvin tegas.


Miya tak menjawab apa-apa, ia hanya berdiam diri dan hanya menunduk. Setelah keheningan membentang antara mereka bertiga, akhirnya Miya berbicara. "Malvin, aku...aku ingin pulang!" sahut Miya dan menarik ujung jas milik Malvin.



Malvin mengangguk! Mereka akhirnya pergi tanpa menghiraukan Ayah Malvin yang berteriak histeris minta di lepaskan dari jeruji besi yang membatasinya untuk melangkah keluar.


Dalam perjalanan pulang, Miya hanya terus diam dan tak mengeluarkan kata-kata apapun, bahkan ia sama sekali tak bergerak dan berkedip dan terus melamun.


"Maafkan aku!" sahut Malvin membuka pembicaraan.


Miya menoleh dan kembali membuang buka dengan lembut. "Tak apa, aku baik-baik saja!".


"Kau ingin makan siang diluar, kebetulan jalan sedang padat, apa kau lapar?" tanya Malvin memandang keluar jendela.


"Baiklah, terserah kau saja!" jawab Miya dingin.


Malvin berhenti di sebuah restoran khas jepang yang menyediakan makanan yang sangat identik dengan nasi dan ikan Salmon, kebetulan Miya sangat menyukai ikan dibanding daging, jadi Malvin membawanya kesana.


"Ayo, kita makan! Turunlah!" ujar Malvin membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya untuk Miya.


"Baiklah!" jawabnya singkat dan menerima uluran tangan.