FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 44: Ibuku?



Malvin pun melangkah turun ke dapur untuk membuat Spageti yang diminta Miya, ia mulai memakai Apron dan langsung berhadapan dengan sayuran dan pisau, serta di sampingnya sudah ada Spageti yang masih beku.


Ia mulai mencampur semuanya setelah ia menumis Spagetinya, mulai dari memasukkan sayuran dan bumbu-bumbu serta rempah yang lain.



Selesai dengan masakannya, ia langsung naik kembali ke kamar untuk memberikannya kepada Miya.


"Miya, Spageti yang kau minta sudah selesai!" Malvin langsung membuka pintu kamar dan mendekat ke arah Miya yang sudah menunggu.


"Terima kasih! Kau juga harus makan oke! Maafkan aku karna membuatmu mengurus semua pekerjaan rumah!" Miya meminta maaf sambil menunduk.


"Tidak apa, sekarang kau harus makan makanan yang telah ku masak untukmu selama setengah jam,ayo buka mulutmu!" Malvin menyodokkan garpu yang berlilit Spageti itu ke depan mulut Miya.


Miya langsung membuka mulut dan menyantap Spageti itu dengan lahap, "Ini enak! Tapi, terlalu asin, tidak pedas sama sekali!"


"Maafkan aku, saus yang di bawah tinggal sepertiga botol saja, jadi aku hanya memakai itu!" Miya menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil.


"Tak apa, kau mau mencoba masakanmu?" Miya merebut garpu, "buka mulutmu!"


Malvin langsung membuka mulutnya, mereka berdua pun makan dalam piring yang sama.


Setelah makan, Malvin belum meninggalkan tempatnya dan masih berhadapan dengan Miya yang sedang tak berdaya di depannya.


"Kau mau sesuatu? Misalnya hal yang unik" Malvin bertanya.


"Aku ingin jalan-jalan!" Miya berbinar minta untuk di bawa jalan-jalan oleh Malvin.


"Tidak...kau masih dalam tahap penyembuhan kau tahu! Tidak boleh meninggalkan kamar, mengerti!" Malvin terlihat sangat tegas.


"Tapi, Malvin! Aku ingin menghirup udara segar, aku tidak bisa terus terkurung disini, kumohon! Kau bisa membatasi waktu jalan-jalannya!" Miya terus meminta untuk di ajak jalan-jalan.


"Oke, aku ijinkan! Tapi hanya tiga puluh menit, dan aku yang akan menentukan dimana kita akan jalan-jalan" Malvin keras kepala hingga tak ada bantahan.


"Terima kasih!" Miya tersenyum manis.



"Malvin, aku ingin berjalan saja!" Di taman, Miya sengaja di naikkan ke kursi roda agar lengan dan kepalanya tak terbentur oleh seseorang yang berlalu lalang.


"Kau duduk saja! Banyak orang di sekitar sini, kau bisa di tabrak! Kau mau apa? Akan ku belikan" Malvin tetap menolak untuk menurunkan Miya dari kursi roda.


"Baiklah, ayo kita cari, kebetulan aku juga sedikit lapar!" Malvin mendorong kursi roda Miya ke arah pedagang kaki lima di taman itu.


"Kau mau makan apa? Kau kan tidak biasa makan makanan tidak sehat begini, kalau...!" Miya khawatir akan Malvin yang tidak terbiasa makan makanan yang tidak biasa dengan lidahnya.


"Tak apa! Aku akan maka Burger saja! Kau boleh makan apapun yang kau mau, oke!" Malvin tersenyum dan mengecup kilas pucuk kepala Miya dari belakang.


Setelak membeli semua yang mereka inginkan, mereka berdua lalu menuju bangku putih yang berada tepat di samping gerobak Arum Manis itu.


"Selesai makan, kita akan langsung pulang! Ini sudah cukup lama kita disini" Malvin berseru.


"Baiklah".


Saat berdiri dari duduknya, Malvin terkejut dengan apa yang di lihat matanya, ia melihat sosok Ibunya yang telah lama meninggal tengah berdiri di depannya dan terlihat lebih muda dan sangat terlihat jika sang ibu melakukan operasi pelastik.



"I...ibu? Bagaimana bisa..." Malvin sampai syok melihat ibunya berdiri tepat di depannya.


Miya terpaku sambil ternganga melihat wanita muda dan sangat cantik itu di panggil ibu oleh Malvin.


"Anakku, iya ini ibu!" Sesosok cantik dan awet muda itu tersenyum manis.


"Bagaimana bisa ibu masih hidup...tidak-tidak, kau bukan...ibuku, kau sudah mati, ibuku sudah mati! " Malvin terlihat masih tak yakin.


"Apa kau menyaksikan sendiri ibu dikubur? Apa kau menyaksikan ibu di makamkan? Tidak, kan, kau sedang di luar negri saat itu, kan?" Sesosok itu lalu terlihat serius, "saat itu, ibu memang hendak mengakhiri hidup ibu, tapi paman Robert(ketua pembantu)menemukan ibu dan membawa ibu pergi, kemudian paman Robert mengganti jasad wanita lain untuk menggantikan ibu, kemudian jasad itu dibawa kekamar ibu, ayahmu bahkan tak melihat wajah ibu pada saat itu, sehingga paman Robert lah yang mengurus pemakaman palsu itu!".


"Ibu!" Malvin langsung memeluk sang Ibu.


"Ibu, ayo pulang! Aku merindukan ibu" Malvin merengek seperti seorang anak kecil.


"Tunggu dulu, apa kau sudah menikah dengan Chelsea? Ibu pernah melihatnya di suatu tempat, dia terlihat tak bersamamu beberapa kali saat ibu melihatnya, dan siapa dia?" Sang ibu langsung melepas pelukan dan menatap Miya.


"Akan kujelaskan nanti...ibu sebaiknya ikut aku pulang!" Malvin menggenggam tangan ibunya.


"Malvin? Aku ingin kau memperkenalkan aku pada ibumu!" Miya menarik ujung jas Malvin dan tertunduk.