
Keesokan paginya Malvin bangun dengan perasaan tenang tanpa gangguan sama sekali, yang ia ingat hanya kejadian semalam bersama Miya yang membantunya tertidur. Malvin melihat ke atas tepat di depan wajahnya, ia mendapati Miya masih tidur dan nampak mata bagian bawah Miya menghitam di sekitarnya.
Malvin bangun dan memperbaiki posisi tidur Miya, Malvin tau akan balas budi, Malvin hanya tidak ingin berutang terima kasih pada Miya jadi hari ini dan khusus hari ini ia akan lebih perhatian pada Miya.
Malvin meraih handuk dan segera membersihkan dirinya. pada saat itu juga,Miya bangun dari tidurnya tanpa mendapati Malvin di kamar itu. Sontak Miya mencari-cari Malvin mulai dari lantai bawah, dapur, ruang tamu, ruang tengah, teras, hingga balkon namun ia tak mendapati Malvin di rumah besar itu. Saat kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk, ia terkejut melihat Malvin yang sedang mengeringkan rambutnya saat membuka pintu kamar.
"Maa...maaf, lan..lanjut...lanjutkan saja, aku akan membuat sarapan!" tiba-tiba menutup pintu dari luar.
"Hey! masuklah aku perlu bantuan!" sahut Malvin dari dalam kamar.
"Ka...kau, butuh ban...bantuan apa?" jawabnya agak terpatah-patah.
"Masuklah dulu, aku perlu bantuan sekarang. Cepatlah!" teriak Malvin lagi.
Sontak itu membuat Miya bergegas masuk ke kamar dan terus menutup matanya dan berdiri di depan pintu tanpa berani melangkah lagi.
"Kemarilah, aku butuh kau untuk memakaikanku kemeja dan dasi, aku tak bisa melakukannya!" pinta Malvin meraih tangan Miya "buka matamu, aku sudah memakai kemeja, tinggal kancing dan pakaikan aku dasi dan pergilah!" menuntun Miya meraih pinggiran kancing kemeja Malvin
"Baa...baik...baiklah, per...permisi!" sahutnya sambil tetap menutup mata dan mengancing kemeja Malvin.
"Buka matamu, jika kau salah kancing maka aku akan di tertawakan satu kantor, dan lagi hari ini aku ada meeting" meraih dagu Miya.
Miya membuka mata, dan saat melihat kancing baju Malvin, ternyata benar! Miya salah kancing dan kemeja nya jadi kusut dan terlihat aneh.
"Kau benar-benar lelet, bagaimana jika aku sampai terlambat karena kau, aku bisa menghukum mu loh!" sahutnya mendorong Miya sampai ke kursi di dekat meja dan membuatnya dalam posisi terduduk. "Cepat lakukan tugasmu, dasinya ada di sebelahmu!" bisiknya ke telinga Miya.
"Mmm, anu...bisakah kau menyingkir sekarang, aku harus membuat sarapan untukmu!" jawabnya tanpa berani melirik Malvin.
"Mmm, baiklah pergilah!" Malvin menyingkir dan mengambil jas yang ada di ranjang lalu memakainya, sementara itu Miya bergegas berdiri dan lari ke arah dapur dan mengambil beef kesukaan Malvin semalam untuk di masukkan ke microwife dan di hidangkan kembali, Miya tak punya waktu untuk memasak sesuatu karna Malvin sebentar lagi akan berangkat jadi ia terpaksa memanaskan beef yang semalam.
5 menit kemudian turunlah Malvin dengan pelan sambil memperbaiki kerah jas dan kemejanya.
"Hey, apa sarapan pagi ini?" tanya Malvin pada Miya.
"Maafkan aku, ini adalah makanan semalam yang tidak kau makan, jadi aku terpaksa memanaskannya" sahutnya sambil melihat kebawah.
"Baiklah, masukkan itu kedalam kotak bekal, aku akan makan di kantor. dan satu lagi, kau akan ikut denganku untuk bekerja, gajimu bisa jadi penambah utangmu yang tinggal 4 juta dollar itu, karena sisanya sudah di bayar oleh pamanmu sebelum kau kemari, jadi cepat bersiaplah!" sahutnya panjang lebar sambil meraih koran pagi di depan pintu lalu duduk di sofa dan membaca koran paginya.
"Tapi, aku...aku akan bekerja sebagai apa?" tanya Miya pada Malvin
"Kita akan memutuskannya nanti, sebaiknya kau cepat bersiap dan ada beberapa pakaian wanita di atas kamar sebelah, itu adalah pakaian adikku, sementara pakailah itu dulu" Masih tetap memandang korannya.
"Kau pergilah dulu, aku akan menyusul!" sahut Miya lagi.
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku, cepatlah" menatap Miya dengan tajam.
Sontak itu membuat Miya gemetaran dan langsung ke arah kamar mandi, setelah mandi ia langsung menuju kamar sebelah tepat di samping kamar Malvin lalu memakai pakaian seadanya. Setelah berpakaian, Miya langsung turun dan menuju ke arah teras karena tidak mendapati Malvin di sana, ia berpikiran bahwa Malvin sudah ada di mobil menunggunya.
"Maaf!" sahutnya terengah-engah.
"Baiklah, taruh kotak makannya di belakang dan pakai sabuk pengamanmu!" sahut Malvin lalu melesat pergi ke arah kantor.