FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 11: Rencana



Selesai dari kantin, Miya mulai menerangkan tugasnya bersama Sarah kepada Sarah.


"Jadi begitu, kau mau kan?" ujarnya setelah menjelaskan apa yang di tugaskan untuknya dari Stefan.


"Mmm, memangnya apa hubunganmu dengan tuan Malvin sehingga kau tidak mau menemuinya?" tanya Sarah kepada Miya tentang hubungannya dengan Malvin.


"Ah...anu, itu...kau jangan memberi tahu orang lain ya, ku mohon! Terutama pada adikku" ujarnya memohon.


"Baiklah, aku berjanji!" Sarah mendengarkan dengan seksama.


Setelah menjelaskan semuanya, Sarah mengerti apa yang harus ia lakukan setelahnya. Sarah mulai berdiri dari duduknya dan meminta untuk mampir ke rumah Miya.


Miya setuju, setelah itu mereka melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.



Setelah pulang dari kampus Sarah mampir ke apartemen Miya dan mendiskusikan rencana mereka. Sarah mulai meraih leptop dan mencari informasi dari Malvin dan meminta bantuan dari Miya juga.


"Miya, apa tuan Malvin galak? Dan, apa dia bersifat dingin dan tidak mudah di ajak bicara?" ujar Sarah bertanya.


"Sepertinya begitu, suasana hatinya susah di tebak. Kadang dia bersikap tegas, kadang dingin, kadang senang namun saat senang ia sama sekali tak berekspresi!" jawab Miya menjelaskan sikap Malvin.


"Mm...baiklah, besok kita akan bertemu dengannya besok, aku sudah menyuruh seseorang memberinya undangan dari Dosen untuk menemui kita, eh maksudku menemuiku!" sahut Sarah menutup laptop.


"Mmm...baiklah, aku akan mengawasi dari jauh, kau harus membuatnya yakin ya" ujar Miya lalu menyimpan laptop. "Rio tolong bawa 2 minuman dan beberapa cemilan!"


"Baiklah kakak" teriak dari dalam dapur.


Malamnya, Sarah belum pulang dan memutuskan untuk menginap. Mereka melihat tanggal dan beruntung karena besok tanggal merah. Mereka berdua lebih mudah menemui Malvin di jam kosong kerja Malvin.


Sebelum tidur, Sarah sempat melihat keluar jendela kamar Miya dan menatap rembulan dan sesekali termenung.



"Hey Miya! Kemarilah, rembulan hari ini sungguh indah, kau harus melihatnya!" panggil Sarah kepada Miya.


"Kau benar. Semoga rencana kita berjalan lancar!" mendekati Sarah dan ikut menyaksikan Rembulan.


"Ya! Semoga saja!" sesekali meminum kopi kaleng di tangannya.


"Ayo, kita harus tidur. Rio sudah tidur dari tadi kita juga harus tidur untuk besok!" ujarnya dan meninggalkan jendela dan berjalan menuju ranjang.


"Apa Rio tidak apa-apa tidur di sofa?" tanya Sarah.


"Baiklah, ayo kita tidur!".



Keesokan paginya, mereka mulai bersiap dan meninggalkan kamar pada Rio.


Tempat mereka bertemu adalah cafe dekat kantor Malvin yang berseblahan dengan rumah sakit. Mereka menunggu beberapa menit, jam istirahat makan siang akhirnya tiba. Miya mulai bersembunyi dan mengamati dari jauh.


Beberapa menit kemudian, datanglah Malvin dan langsung mengenali Sarah.



"Anda nona Sarah?, senang bertemu dengan anda!" duduk dan mengulurkan tangan.


"Ah, senang juga bertemu dengan anda. Saya disini untuk mengundang anda datang ke kampus saya, anda sudah menerima undangan dari dosen kami bukan?" sahut Sarah menjelaskan.


"Mm...memangnya ada urusan apa aku harus diundang ke kampus anda?" tanya Malvin.


"Anda di undang karena unsur sebasi inspirasi bagi mahasiswa lain dan anda di undang untuk menjadi tamu pada ulang tahun dari Universitas saya!, anda juga bisa mengundang seseorang untuk menemani anda!" sahut Sarah panjang lebar lagi. "Saya dengar anda sedang mencari teman saya?" ujar Sarah mengecilkan suara agar tidak terdengar oleh Miya.


"Maksud dari perkataan nona, apa ya?" tanya Malvin tidak mengerti.


"Anda sedang dekat dengan teman saya bukan, Anda pasti kenal dengan Miya. Dia adalah teman saya, sekarang ini Miya sedang bersembunyi dan sedang mengawasi kita makanya saya mengecilkan suara saya!" Ujar Sarah makin mengecilkan volume suaranya.


"Benarkah dimana dia? Aku ingin menemuinya" tiba-tiba berdiri.


"Tunggu tuan, kau jangan membuatnya kaget, aku akan membantu anda untuk menemuinya di sekolah, tapi anda harus mengambil inisiatif dari acara kami dan harus hadir!" jawab Sarah langsung membuat Malvin duduk kembali.


"Baiklah, saya setuju yang penting anda membiarkan saya bertemu dengan Miya besok dan biarkan aku berdua dengannha tanpa ada gangguan!" sahut Malvin mulai menekan Sarah.


"Baiklah tuan, saya berjanji! Kalau begitu kita akhiri pertemuan kita, aku juga punya urusan lain dengan Miya. Dan satu lagi, tuan tidak boleh melacak atau menyuruh seseorang untuk mengetahui tentang kami, Miya sangat tidak menyukai yang seperti itu, Miya bisa saja mengubah pikirannya untuk kembali kepelukan anda, dan jika teman saya menangis saya juga tidak akan tinggal diam! Baiklah tuan saya permisi!" ujar Sarah balik mengancam.


"Baiklah nona, saya akan menghentikan asisiten saya melakukan pelacakan, baiklah saya permisi!" meninggalkan cafe.


Sarah melompat kegirangan ke arah persembunyian Miya dan memberi tahu bahwa Malvin setuju.


"Benarkah! Wah kau hebat Sarah!" sahut Miya tidak percaya.


"Ini hebat, baiklah ayo kau harus menaktrirku sekarang!" menarik tangan Miya dan berjalan menuju restoran daging setempat.