
"Apa?" sahut Miya heran.
"Maafkan aku karena berbuat begitu, kau pasti tak suka!" ujar Malvin masih menunduk.
"Bu...bukan begitu, ak...aku hanya...khawatir karena yang mengangkat ponselmu itu wanita, jadi aku langsung kesana!" jawab Miya tersipu malu.
"Mm...kenapa kau disini dan tak pulang semalaman?" tanya Malvin memeluk Miya.
"Mm...aku, aku hanya ingin keluar saja, dan tadi aku juga ke panti asuhan untuk melihat anak-anak disana!" jawab Miya.
"Kau tak boleh seperti itu lagi, jika kau ingin pergi kau harus bilang!" sahut Malvin tegas.
"Lalu, bagaimana denganmu yang terus bermain bersama seseorang dan tak memperdulikan ku?" ujar Miya cuek.
Malvin lalu mengeratkan pelukan dan terdiam sejenak dan mencium pucuk kepala Miya sejenak dan melontarkan kalimatnya. "Apa kau cemburu?"
Miya terdiam. "Aku tak cemburu, aku hanya tak menyukai sikap yang seperti itu, memberiku waktu untuk mencintai dirimu, namun kau malah membuatku semakin tak ingin mendekat padamu!" sahut Miya sigap.
Malvin lalu melepaskan pelukan dan menatap dalam Miya. "Dengarkan aku, aku tak pernah berbuat seperti itu padamu, aku benar-benar mencintaimu apa adanya! Hanya saja...." menghela napas panjang dan melanjutkan kalimat. "Hanya saja....aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, kadang aku mengungkapkannya dengan bercinta dan menyayangimu serta perhatian padamu, kadang juga aku membuatmu cemburu...namun aku tak melihat reaksi apapun darimu selain terdiam dengan pipi memerah! Tidak bisakah kau mengungkapkannya juga dengan mengatakannya atau melakukan sesuatu untukku dan membuatku semakin mencintaimu?".
Miya mencengkram kemeja Malvin dan menunduk menahan tangis lalu berkata. "Beri aku waktu!"
Malvin pun mengeratkan pelukannya semakin erat sampai mengangkat tubuh Miya. "Baiklah, aku tunggu jawabanmu!".
"Ayo kita pulang! Rio sudah menunggu untuk diberi makan!" ujar Malvin mengulurkan tangan dan membantu Miya turun dari Bianglala.
"Baiklah".
Sampai di rumah, Miya langung menuju dapur dan membuat makanan untuk Rio dan Malvin. Beberapa menit kemudian selesai memasak, Ia lalu memanggil Rio dan Malvin untuk makan malam.
"Rio, makanan sudah siap, tolong panggil kak Malvin juga!" teriak Miya memanggil Rio.
Miya yang masih di dapur dan sedang mencuci piring yang kotor dikagetkan dengan tangan yang melilit pinggangnya.
"Malvin, kau membuatku terkejut! Makanlah bersama Rio, cepat lepaskan!" sahut Miya masih sibuk mencuci.
Wajah Miya memanas. Ia langsung menyingkirkan tangan Malvin dan beralih ke meja makan.
Disana Rio juga turun dari kamar dan langsung duduk di sana, Miya juga ikut duduk dan didampingi Malvin di sebelahnya.
"Selamat makan!" ucap mereka bersamaan.
Miya lalu berdiri dan mengambil beberapa piring yang kotor dan dibawa ke dapur lalu kembali ke meja makan dan. "Aku tidur duluan, selamat malam" ujarnya dan melangkah ke anak tangga.
Setelah Miya naik kesana, Malvin langsung menyusul hendak menghabiskan waktu bersama Miya.
"Miya, kau sudah tidur?" sahut Malvin membuka pintu kamar.
Saat melihat Miya dalam posisi terduduk dan sedang mengganti bajunya dengan piyama tidur, ia dikagetkan dengan luka cambukan di punggungnya. Ia langsung menghampiri dan bertanya.
"Mengapa luka cambukan ini bisa ada?" ujar Malvin panik dan langsung membalikkan tubuh Miya.
"Ini bukan luka tapi bekas luka, ini aku dapatkan ketika aku masih sekolah dasar!" sahutnya cepat dan mengerutkan kening.
"Apa? Kau pernah di cambuk?" sekali lagi Malvin semakin terkejut.
"Mmm....ya! Dulu saat ibuku sakit dan hanya ayah yang merawatnya dengan sangat kejam, aku mulai mencari pertolongan seseorang namun, itu diketahui oleh ayahku dan aku dimarahi dan di cambuk tiga hari berturut-turut karena aku hendak memberi tahu seseorang dengan penyakit ibuku!" jawab Miya jelas.
Malvin lalu sempat terdiam dan memeluk Miya sambil mengelus punggungnya. "Kau jangan memikirkannya lagi, sekarang kau hanya perlu memikirkan hidupmu bersamaku dan masa depan kita nantinya, aku tak akan membiarkan mu menderita lebih lama lagi, aku akan menjamin keselamatan mu mulai sekarang dan selamanya, Aku mencintaimu!"
Miya lalu melepas pelukan. "Mm...baiklah, jadi sekarang bisakah kau menyingkir, aku ingin memakai pakaianku, kau membuatnya sampai melorot kebawah"
Malvin lalu terkekeh dan membantu Miya memakainya. Dan mengecup Miya kilas lalu membaringkan Miya dan mengucapkan selamat malam.
"selamat malam!" ujarnya sambil membaringkan Miya.
"Selamat malam".