FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 16: Takut!



Miya yang mengambil Ice Cream yang ada dalam Freezer terkejut dengan tangan yang langsung menyusuri pinggang kecilnya.


"Ka...kau, kau membuatku terkejut!" berbalik ke arah Malvin.


"Memangnya kenapa, aku hanya memelukmu, Oh ya! Berikan aku Ice Creamnya juga!" Ujar Malvin meraih Ice Cream dari tangan Miya.


"Taruh Ice Creamnya di meja makan, aku akan mengambil sendok!" melepaskan diri dan langsung mengarah lemari perabot makan.


Malvin menuruti perkataan Miya dan langsung menuju meja makan untuk menyantapnya bersama Miya. Ia ingin melihat wajah Miya yang penuh dengan Ice Cream. Bagi Malvin membayangkannya saja sudah membuatnya sampai senyum-senyum sendiri dan memikirkan apa yang terjadi jika itu benar-benar terjadi.


"Ini sendoknya!" datanglah Miya membawa sendok dan membagi Ice Creamnya.


"Kau mau apa?" menarik kembali kotak Ice Cream.


"Aku mau membaginya, kau tidak mau makan, atau kau tidak mau membaginya!" ujar Miya kebingungan.


"Kita makan satu mangkuk saja, tidak usah di bagi dan sendoknya satu saja!" mengerutkan kening.


"Huh, terserah saja!" mengambil sendok dari tangan Malvin dan mulai memakannya.


Saat makan, Miya cukup belepotan memakan Ice Cream, itu masalah baginya namun tidak untuk Malvin yang dari tadi memperharikan Miya saat makan Ice cream seperti anak kecil.


Lantas itu membuat Malvin tidak tahan melihat Ice cream yang ada di bibir Miya. Sontak itu membuatnya mencium bibir Miya dan sempat membersihkan sisa Ice cream itu.


"Enak, sangat manis!" ucap Malvin melepaskan ciuman dan memegang bibir Miya dengan ibu jarinya.


"Ka...ka...kau....!" langsung menunduk dengan wajah memerah.


"(Tersenyum) suapi aku!" membuka mulut lebar-lebar.


"Ka...kau makan saja sendiri!" mengerutkan kening dan lanjut memakan Ice Creamnya.


"Sekarang!" mengubah ekspresi dengan wajah marah.


Miya langsung menyuapi Malvin tanpa melihat Malvin, lantas itu membuat Miya membuat Ice creamnya terkena hidung Malvin dan sekitaran bibirnya. Itu membuat Miya tersenyum menahan tawanya.



"Apa yang kau tertawakan?" tanya Malvin sambil memakan sisa ice cream yang ada di mulutnya.


"Tidak ada" masih tersenyum. "Baiklah, Ice creamnya sudah habis, aku akan menyiapkan air mandimu. Naiklah duluan, aku akan menyusul!"


"Baiklah, terima kasih!" Malvin berjalan menuju tangga dan naik ke kamarnya.


Di atas kamar, baru saja membaringkan diri di atas ranjang, Malvin langsung mendapat telepon dari Duke.


(Panggilan terhubung)


"Maaf tuan, tapi ini gawat! Nona Chelsea kabur, sepertinya ia dibantu seseorang karena aku melihat penjaga yang menjaga di bawah semuanya tak sadarkan diri!" Jawab Duke panik.


"Terus cari dan lacak dia, kalau bisa cari dia menggunakan helikopter, cepat! Jangan sampai dia memulai Miya lagi!" jawab Malvin merubah ekspresi.


"Baik tuan! Laksanakan" menutup panggilan.


Di saat itulah Malvin bangkit dan terkejut mendapati Miya sedang gemetaran di depan pintu karena mendengar bahwa Chelsea kabur.


"Mi...miya, ada apa, kau baik-baik saja? Jangan takut, ia akan segera tertangkap!" Malvin langsung menghampiri Miya dan langsung memeluknya.


"Aku...aku, TAKUT!" menggigil ketakutan.


"Tidak apa-apa, aku di sini, aku akan melindungimu tenang saja" ujarnya menenangkan Miya. *



*


"Kau janji?" tanya Miya masih takut.


"Ya aku janji, aku berjanji!" melepas pelukan. "Istirahatlah, aku akan mandi sebentar dan membangunkanmu nanti!"


"Ba...baiklah!".



Malvin selesai mandi dan mendapati Moya yang sedang tertidur pulas.


Malvin lalu memperbaiki posisi tidur Miya yang sedikit acak-acakan. Malvin mengecup kening Miya lalu melanjutkan memakai pakaian.


Sore harinya, Miya terbangun dengan suasana yang sudah mulai membaik. Ia lalu turun dan mencari Malvin namun, ia tak menemukannya, ia lantas ke kamar adiknya dan bertanya.


"Rio, dimana Malvin?" tanya Miya.


"Oh kak Malvin dia sedang keluar. Katanya mengurus sesuatu, ia juga berpesan jika kakak sudah bangun, kakak di suruh tidak usah memasak, katanya ia akan membawa makanan dari luar!" jawab Rio masih sibuk dengan ponselnya.


"Mmm, baiklah. Kau sudah mandi, atau kau mau makan?" tanya Miya lagi.


"Aku sudah mandi, aku tidak mau makan, lebih baik kakak menemani ku bermain sekalian bisa main bareng!" jawab Rio lagi.


"tidak-tidak, aku tidak tau bermain itu. Ya sudah kakak akan mandi dulu, kau jangan kemana-mana, lebih baik kau belajar!" menutup kamar Rio dan beranjak ke kamar.