
Sampai di taman, Malvin langsung mencari sesuatu yang ia cari-cari dari tadi, "Ayo ke sana!"
Sampai di tempat yang di tuju mata Malvin, Malvin langsung masuk ke sana sambil terus menarik tangan Miya untuk ikut, "Ayo!"
"Apa ini, Foto box? Untuk apa kita jauh-jauh dari rumah menuju taman hanya untuk berfoto?" Miya jengkel.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membuat kenangan bersamamu!" Malvin tersenyum manis, "Ayo tersenyum!"
Mereka berdua yang mendengar hitungan mundur dari kamera yang ada di dalam foto box itu segera mengambil pose terbaik mereka.
Kadang Malvin merangkul dan memeluk untuk membuat pose romantis. Sedangkan Miya membuat wajah konyol atau seakan-akan sedang marah, sedih bahkan terlalu ceria.
"Sudah cukup, ini sudah banyak! Ayo cari sesuatu yang lain atau kita langsung pulang!" Miya langsung menghentikan aktifitas mereka yang sedang berlama-lama di depan kamera dengan segera keluar dari foto box.
"Apa kau lapar? Ayo kita cari sesuatu untuk kita makan!" Malvin ikut keluar.
"Baiklah, aku memang agak lapar, ayo cari makanan di sekitar sini".
_
Malvin menuju cafe terdekat untuk makan sesuatu agar perut mereka terisi dan tidak kosong ketika melanjutkan aktivitas mereka.
"Pesanlah Miya!" Malvin langsung mendorong kursi untuk Miya dan ikut duduk juga.
"Baiklah, aku hanya ingin makan puding dan minum Matcha!" Miya menjelaskan.
"Baiklah, aku akan memesan itu juga!".
Setelah memberi tahu pesanan mereka pada pelayan, mereka yang seharusnya berdua dan menghabiskan waktu bersama langsung di hancurkan oleh Chelsea yang tiba-tiba mucul di dampingi oleh sang ibu di sampingnya yang tengah berjalan menuju meja mereka berdua.
"Sayang, kenapa kau bisa disini? Dan untuk apa kau mengajak dia?" Chelsea langsung menuju Malvin dan duduk di sampingnya.
"Miya tolong ambilkan pesanan juga untuk Chelsea dan tante, Tolong!" Sang ibu langsung menyuruh Miya untuk menyingkir dari sana dan menyuruhnya mengambil pesanan untuk Chelsea agar Chelsea bisa berduaan dengan Malvin.
"Baik tante!" Miya hendak berdiri, tapi Malvin langsung mencegahnya.
"Miya, duduklah! Biar aku yang mengambil pesanannya!" Malvin mencegah Miya pergi dari sana.
"Tidak! Biar dia yang pergi! Kau akan meninggalkan tunanganmu begitu, duduk saja!" kembali ibunya mencegah, "Miya, cepatlah!"
Miya mengangguk dan langsung mencari pelayan dan meminta pesanan yang sama lagi untuk dua orang lagi.
Miya yang melihat kedekatan mereka dari jauh berniat tidak ingin mengganggu, Miya langsung meminta tiga pesanan saja, "Maaf! Tiga saja! Dan tolong antar ke meja sana!"
Pelayan itu mengangguk! Setelah itu, Miya langsung keluar dari cafe. Untung saja pintu keluar cafe membelakangi tubuh Malvin. Meski Chelsea dan ibu Malvin melihat Miya keluar, mereka sama sekali tidak menghentikannya.
Miya yang sudah di luar cafe langsung mencari taksi untuk pulang dan menjemput Rio dari sekolah. Biasanya, jam seperti ini Rio sudah pulang, jadi tidak ada salahnya kalau Miya menjemput Rio.
Sampai di sekolah Rio, terlihat Rio sudah keluar dari gerbang dan berjalan kaki menuju rumah, "pak, berhenti sebentar! Saya akan menjemput adik saya dulu!"
Sang supir mengiyakan, "baik nona!"
_
Disisi lain, Malvin yang dari tadi menunggu Miya tanpa memakan sesuatu yang sudah terhidang di meja yang telah di antar pelayan.
"Sayang, Miya pasti sedang di toilet atau sedang menelpon, dan mungkin saja sedang mencari cemilan lain!" Chelsea ikut berdiri dan mencegah Malvin pergi.
"Iya Malvin, Chelsea benar! Miya pasti ada di sekitar sini, mungkin saja dia sedang membeli aksesoris atau cemilan untuk Rio!" sang ibu ikut mencegah Malvin.
Malvin tak punya pilihan lain, ia kembali duduk dan tetap bersama sang ibu dan mantan kekasihnya yang sangat ia benci itu.
"Rio, kemasi barang-barangmu sekarang! Kita akan pindah ke rumah kak Sarah sekarang!" sampai di rumah Malvin, Miya langsung menyuruh Rio membereskan pakaian dan ikut bersamanya untuk pindah ke rumah Sarah.
"Kakak yakin ingin meninggalkan kak Malvin?" Rio yang mendengar pernyataan kakaknya langsung berhenti melihat ponselnya.
"Iya, cepat kemasi barangmu! Sebelum kak Malvin datang, kita sudah harus pergi!" Miya menjawab dan langsung menuju kamar untuk mengemasi pakaiannya juga.
Melihat kakaknya yang tergesa-gesa langsung ikut tergesa-gesa menuju kamarnya dan ikut berkemas.
Selesai berkemas, Miya langsung melesat pergi bersama Rio dengan menggunakan taksi yang menunggu mereka tadi.
_
"Ayo kita pulang, ini sudah sore! Chelsea Malvin akan mengantarmu pulang!" Ibu Malvin berdiri.
"Kalian pulanglah dulu, aku akan menunggu Miya sampai Miya kembali!" Sudah tiga jam lebih mereka menunggu kedatangan Miya di cafe itu, tapi Miya tak kunjung datang.
"Malvin, ini sudah tiga jam lebih, mungkin saja Miya sudah pulang duluan!" ibu Malvin membujuk.
"Baik ayo pulang! Tapi, aku tidak akan mengantarnya pulang!" sambil menatap tajam Chelsea.
"Tapi Malvin...!" ibu Malvin kembali membujuk.
"Tidak! Aku bilang aku akan langsung pulang, jika ibu memang ingin mengantar dia pulang! Antar saja!" Malvin langsung keluar dari cafe dan menuju mobil.
"Chelsea, maafkan tante, mari! Tante akan mengantarmu pulang!" Sang ibu memegang pundak Chelsea.
"Baiklah tante!".
_
Di sisi lain, Malvin yang telah sampai di rumah, mencari-cari ke seluruh ruangan yang biasa Miya datangi, "Miya! Apa kau di rumah?"
Saat memasuki kamar Rio, terlihat lemari pakaian Rio terbuka dan tidak ada pakaian sama sekali di dalam lemari itu.
Malvin panik, segera Malvin menuju kamarnya dan mencari lemari milik Miya di atas. Ternyata sama, lemari Miya sudah kosong tak bersisa. Malvin kembali turun ke lantai pertama dan tidak mendapati seseorang di bawah.
Segera Malvin memanggil kepala pelayan untuk bertanya, "dimana nona Miya?"
"Saya tidak tau tuan!".
Malvin yang benar-benar marah saat itu langsung melampiaskan amarahnya kepada benda di sekitarnya dengan menghancurkannya.