FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 4: Kontrak



Sesampainya di kantor, Malvin di sambut dengan baik, namun lain halnya dengan Miya yang di buat penasaran para karyawan dan mengata-ngatainya.


"Siapa dia, tidak mungkin kan dia kekasih tuan muda Malvin, sama sekali tidak bisa di bayangkan!" bisik para karyawan sambil melirik Miya.


Miya yang merasa tidak nyaman akan perlakuan para karyawan padanya sontak hanya bisa diam dan mengikuti langkah Malvin.


"Kemarikan tasmu, kau tidak bisa memilih tas ya, sangat banyak tas mahal milik adikku di atas namun kau malah memilih tas besar ini!" sahut Malvin yang masih berjalan menuju lift dan meraih tas milik Miya.


"Mmm, anu...apa sebaiknya aku pulang saja?" jawab Miya sambil melihat ke sekeliling.


"Tidak! Kita sudah sampai di kantor dan kau akan pulang tanpa membawa apa-apa, kau harus bekerja!" berhenti dan berbalik ke arah Miya.


"Mmm...baiklah, lan...lanjutkan saja jalanmu!" menatap Malvin penuh kebingungan.


Mereka langsung ke arah lift dan naik ke lantai 7, di lantai tujuh adalah lantai dimana ruangan Malvin berada.


Miya terkagum-kagum akan lorong lantai ke 7 itu saat melangkah kan kaki dari lift.


Miya melihat kanan kiri. Di dinding sebelah kanan ada sebuah lukisan, sedangkan di sebelah kiri ada nama-nama direktur yang pernah menduduki kursi direktur, nama-nama mereka terukir di dinding berwarna putih dan Miya juga melihat nama Malvin di sana, nama Malvin tepat di ujung kiri samping, setelah nama Yugo Bhim.



"Cepat sedikit jalannya, Kau benar-benar lelet!" kembali berhenti dan memutar tubuhmya ke arah Miya.


"Ma...maaf!" jawab Miya singkat.



Mereka berdua akhirnya sampai di ruangan Malvin yang seperti biasa yang di kelilingi banyak rak buku di samping kanan dan rak botol bir/alkohol di samping kiri.


"Duduklah di sana, saat kau kuliah, kau jurusan apa?" tanya Malvin sambil duduk di kursinya


"Aku...mmm, jurusanku, aku berjurusan politik!" menjawab dengan singkat.


"Berarti kau tau tentang dunia bisnis" tanya Malvin lagi.


"Emm...sepertinya begitu!" Jawab Miya.


"Baiklah, kau tanda tangani dulu kontrak ini!" menyerahkan secarik kertas.


Kontrak penebusan utang!


Pihak A(Malvin Ramon) dan pihak B(Miya Clandra) akan menjadi kekasih dan menjalin hubungan selama 5 bulan, hubungan kedua pihak akan berhenti sementara jika mereka sedang di tempat kerja kecuali pihak A menyetujuinya! Dalam melunasi utang pihak B tidak perlu menggunakan uang untuk melunasinya, Pihak B juga tidak boleh membantah atau melarikan diri dari pihak A tanpa sepengetahuan pihak A.


"Ap...apa ini, kenapa aku harus menandatanginya!" ujar Miya terkejut.


"Itu untuk melunasi utang ibumu, hanya dengan cara itu kau bisa melunasi utang ibumu! Mau tidak mau kau harus menandatanginya"


"Tapi....(menghentikan suara dan berpikir sejenak)baiklah aku akan menandatanginya!" meraih pena dan menandatangi kontrak itu.


"Baiklah, kemarilah aku ingin menunjukan sesuatu!" membuka leptop.


Miya mendekat dan tiba-tiba....tangan Miya di tarik oleh Malvin dan langsung di cium di bagian telapak tangannya.



Setelah mencium tangan Miya, Malvin lalu menarik Miya kepangkuannya dan memperlihatkan sesuatu yang ada pada layar leptop.


"Kau....kau melanggar kontrak, di dalam kontrak kita tidak boleh berhubungan...lepaskan aku!" sahutnya ketakutan dan mencoba turun dari pangkuan Malvin.


"Kau sepertinya kurang teliti, bukankah di sana tertulis 'Kecuali pihak A menyetujuinya', sepertinya kau sudah membaca kata itu dengan teliti!" sahutnya sambil memegang paha Miya.


"Aku mengerti....aku, cepat apa yang mau kau tunjukan!" Jawabnya panik akan perlakuan Malvin padanya.


"Kau akan aku angkat jadi sekertarisku dan membantuku mengurus urusan bisnisku, kebetulan aku punya pertemuan dengan klien hari ini, aku ingin kau menghadirinya denganku dan aku memerintahkanmu untuk menjelaskan beberapa materi dan lain-lain pada klien, selain itu aku juga akan memanfaatkan itu untuk melatihmu dalam bidang bisnis, mengerti!" ujarnya panjang lebar.


"Ba...baiklah, biarkan aku melihat file dan apa yang harus aku lakukan nanti!" Miya menatap Malvin dalam-dalam.


"Untuk itulah aku ingin memperlihatkan ini, lihatlah dan pelajari. Dari segi kepintaran mungkin membutuhkan waktu 1-2 jam, lagi pula pertemuannya 3 jam lagi, jadi belajarlah sekarang" sahut Malvin lagi.


"Aku sudah mulai mengerti, mungkin aku butuh waktu 30 menit saja!" sahutnya meraih leptop di meja.


"Sungguh, kau hampir mencetak rekor dan mengalahkan rekorku. Dulu aku mengerti tentang bisnis hanya dalam waktu 2 hari, sedangkan untuk mempelajari materi aku hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mengerti!" Mengusap rambut Miya yang sedang serius dengan leptopnya.


"Baiklah, berhentilah menggangguku, aku harus konsentrasi!" sahutnya tetap menatap leptop.