FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 42 : Paris



Malvin tengah duduk di ruangan tunggu sambil terus menatap ke bawah dengan pasrah menyerahkan kehidupan Miya pada pihak medis.


Setelah lama menunggu, sekitar dua jam lebih, Seorang dokter keluar dari ruang ICU dan menuju ke arah Malvin yang sedang terpuruk. Malvin lalu mendongak ketika mendengar hentakan sepatu datang mendekat ke arahnya, ia sontak berdiri saat melihat seorang Dokter mendekatinya.


"Bagaimana keadaannya?" Malvin terlihat panik


"Keadaan nona Miya sudah membaik, untung saja dia cepat di bawa kemari untuk mendapat darah, namun, lengannya patah akibat benturan dan beban tubuhnya, jadi tangannya akan di berikan penyangga selama beberapa minggu, bahkan sampai sebulan, Pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan setelah tangannya selesai di urus oleh beberapa perawat, Tuan"


"Apa boleh, saya langsung membawanya pergi, saya ingin membawanya pulang ke paris, apa itu tak masalah?" Malvin meminta izin untuk membawa Miya ke Paris secepatnya.


"Boleh saja jika lengan dan kepalanya tak di usik atau mengalami goncangan selama perjalanan. Kalau bisa, pasien harus di bius selama pasien dalam perjalanan ke negara yang anda tuju"


"Baik Dokter, saya akan melakukan semua yang diperlukan, terima kasih!" Malvin menjabat tangan sang dokter.


"Baik, saya permisi!" dokter itu lalu pergi meninggalkan Malvin.


Beberapa menit kemudian, Miya di keluarkan dari ruang ICU dan di masukkan ke ruang perawatan untuk mendapat penanganan yang lebih.


Malvin pun langsung masuk setelah perawat yang membawa Miya keluar dari ruangan. Malvin langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan pihak rumah sakit di samping ranjang pasien untuk para penjenguk yang berkunjung ke rumah sakit.


Malvin bergumam :


Miya, cepatlah sadar! Aku akan membuat orang yang menyakitimu menderita, lebih para dari yang kau alami! Aku berjanji.



Malvin lalu keluar dari ruangan setelah lama di dalam ruangan Miya yang dipenuhi dengan bau obat dan hal yang berkaitan dengan rumah sakit.


Saat ia keluar dari ruangan, ia mendapati Duke dan David tengah duduk menunggu keluarnya Malvin untuk menceritakan apa yang terjadi, "David, apa yang kau lakukan di sini?"


Duke langsung berdiri dan dilanjut oleh David, "tuan, saya sudah tahu apa yang terjadi dengan nona Miya, dan saya juga sudah memberi tahu tuan David soal itu!"


"Apa penyebab Miya terjatuh?" Malvin pun bertanya.


"Nona Miya terjatuh karena di dorong oleh nona Lisa, Nona diketahui sedang mengurus beberapa file untuk diberikan kepada tuan David, namun saat Nona masih sibuk, Nona Lisa langsung masuk tanpa permisi, nona sudah berbaik hati menawarkan nona Lisa masuk, namun nona Lisa malah mendorong nona Miya sampai terjatuh dari lantai tiga" ujar Duke panjang lebar kepada Malvin.


Malvin terlihat marah akan kelakuan Lisa kepada Miya, namun ia berusaha tenang karena ia sedang berada di rumah sakit, dan tak penting memikirkan itu dulu karena yang harus di pikirkan adalah keadaan Miya dan bagaimana caranya agar ia cepat membawa Miya pulang ke paris.



"Duke, pesan tiket pesawat untuk kepulangan kita, perusahaan Malya yang ini aku akan meminta Alga untuk langsung terbang kesini dan mengurus perusahaan ini!" Malvin langsung membalikkan badan.


"Baik tuan, saya permisi!".


David terlihat terkejut akan keberangkatan Malvin yang akan langsung terbang ke Paris nanti, "Malvin, apa kau akan langsung membawa Miya ke Paris?"


"Memangnya kalau aku tidak membawa Miya ke Paris, kau mau merawatnya begitu? Kau pikir kau siapa mengaturku dan hidup Miya" Malvin terlihat memuncakkan emosinya kepada David yang tak kunjung pergi, "kau pergi saja! Kunjungan untuk Miya tidak dibuka lagi, aku akan langsung membawanya pergi setelah ini, pergilah!".


David pun pasrah dan langsung pergi.


"Duke, tolong angkat kopernya ke mobil, aku akan menggendong Miya!" Malvin langsung menggendong Miya dan membawanya ke mobil.



Sampai di bandara, tak butuh waktu lama Malvin menunggu, ia langsung menggunakan hak kepemilikan VVIPnya untuk langsung naik ke pesawat tanpa menunggu.


Di pesawat, Miya diberikan tempat yang paling aman dan istimewa oleh pihak bandara, Miya di berikan kenyamanan kelas tinggi agar saat perjalanan Miya tak merasa kesakitan atau terbentur sesuatu, untung saja saat di rumah sakit tadi, Miya sudah di bius agar Miya tak terbangun untuk melindungi tangan dan kepalanya agar tak terbentur akibat pergoyangan tubuh Miya, bisa saja Miya terkejut dan langsung bergerak ketika mengetahui kalau dia sedang dia atas pesawat dan tak mendapati Malvin di sampingnya.



"Duke, tolong kau hubungi Yugo, ponsel Alga tidak aktif, bilang pada Yugo untuk mengutus Alga ke Amerika untuk menangani perusahaan Malya Goldenim disana" Malvin memasang sabuk pengamannya.


"Baik tuan!".


Setelahnya, Pesawat pun lepas landas menuju Paris.