
Disisi lain, Sang ibu yang sedang menelpon terlihat senang dan bahagia.
"Menantuku yang cantik, rencananya berhasil! Tante akan menjemputmu besok dan membawamu ke sini, oke!" Sang ibu sedang bahagia dan mengungkapkan kebahagiaan itu dengan menelpon Chelsea.
"Tante! Terima kasih! Aku menunggumu tante, apa jalang itu sudah tante usir?" ujar Chelsea dibalik telepon.
"Maafkan tante Chelsea, dia belum tante usir! Tapi tante punya kabar bagus, kau akan bertunangan dengan anak tante minggu depan, kau mau hari apa menantuku?" Sang ibu kembali membagi kebahagiaannya.
"Tante terima kasih! Aku ingin hari selasa, dimana tanggal 14 July adalah ulang tahun Miya, aku ingin memberinya kado terindah padanya tahun ini!" Chelsea menyeringai.
"Wah benarkah? Bagaimana kau tahu kalau 14 july itu ulang tahun wanita itu?" sang ibu bertanya.
"Saat aku masih menjadi kekasih Malvin, aku pernah datang ke kantornya dan melihat biodata Miya di meja Malvin, jadi aku mengetahuinya!" Chelsea menjawab dengan santai.
"Baiklah kalau begitu sayangku, tante tutup ya! Tante sangat lapar saat ini, tante akan menelponmu lagi nanti!, dah!"
"Dah tante!" mengakhiri panggilan.
"Kakak, kakak baik-baik saja?" Rio yang baru saja masuk, langsung menghampiri Miya.
"Iya, kakak baik-baik saja! Tenang saja! Apa kau tidak punya PR, atau tugas?" Miya tersenyum.
"Tidak kak! Kenapa kakak bertanya?" Rio bertanya bingung.
"Kakak ingin tidur di kamarmu malam ini dan malam seterusnya! Boleh kan?" Miya mengelus kepala adiknya dengan lembut.
"Tentu saja kak! Kakak ingin pindah sekarang?" kembali Rio bertanya.
"Nanti saja saat selesai makan malam" singkat Miya agak malas menanggapi, "bisakah kau keluar dulu, kakak ingin sendiri!"
"Baiklah kak, sampai nanti!" Rio mencium pipi Miya kilas dan meninggalkan kamar.
Saat Miya termenung, ponsel yang ada di samping ranjang berbunyi, terlihat dengan jelas bahwa yang menelpon adalah Sarah!.
(Panggilan terhubung)
"Halo, Sarah? Ada apa?" Miya membuka pembicaraan.
"Aku baik-baik saja, kapan kau akan bertunangan dengan kak Stefan?" Miya balik bertanya.
"Dua minggu kedepan, mau ku undang sekarang? Baiklah, hari kamis oke! Jangan sampai kau tidak datang bersama tuan Malvin ya!" Sarah kembali riang membicaraka pertunangannya.
"Sepertinya aku tidak akan datang bersama Malvin, aku akan sendiri" Miya terdengar parau saat terdengar oleh Sarah.
"Mengapa bisa begitu, kalian bertengkar?" Sarah menebak.
"Tidak! Aku sudah bukan bagian dari hidupnya lagi! Dia akan bertunangan minggu kedepan!" Miya semakin tak semangat dan mulai lemah mengucapkan kata per kata.
"Apa? Dia akan bertunangan minggu depan? Dengan siapa, akan ku habisi dia!" Sarah sangat emosi dengan pernyataan Miya.
"Jangan dipikirkan, aku juga membiarkannya. Oh ya! Sarah, saat aku pergi dari sini, bisakah aku menumpang di rumahmu untuk beberapa minggu?" Miya berencana pergi dari rumah saat Malvin telah memberikan pernyataannya mengenai pertunangannya dan hubungannya dengan Miya.
"Dengan senang hati Sayangku! Aku akan menerima mu kapanpun kau mau tinggal disini, mau satu hari, bulan, tahun, bahkan abadpun tetap aku ijinkan!" Sarah melontarkan kalimatnya panjang lebar.
"Terima kasih Sarah! Terima kasih!" Miya sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Sarah yang selalu ada untuknya kapanpun Miya dalam kesulitan.
"Jangan sungkan Sayangku, apa adikmu Rio juga ikut denganmu?" Sarah kemudian bertanya.
"Ya! Dia akan ikut bersamaku, apa ada masalah?" Miya agak bingung dan khawatir dengan pertanyaan Sarah.
"Tidak ada sama sekali, malahan aku sangat senang jika Rio juga ikut denganmu, aku bisa bertanya tentang perasaan pria kepadanya, akhir-akhir ini, Stefan sangat sulit dihadapi, huh!" Sarah terlihat jengkel ketika menyebut nama Stefan, kekasihnya.
"Apakah Stefan juga tinggal di rumahmu, apa kau yang tinggal dirumahnya?" Miya kembali bertanya.
"Tidak Sayangku, dia pulang kerumahnya, aku menyuruhnya untuk mencari pekerjaan, dan dia mendapatkan pekerjaan sebagai Dosen sekarang! Hebatkan" Sarah memuji-muji Stefan.
"Benarkah? Itu bagus, Dosen memang pilihan yang tepat untuk kak Stefan yang sangat cerdas dan disiplin!" Miya terpukau, "Baiklah Sarah! Aku tutup dulu, aku harus istirahat sebentar, dah!"
"Dah Sayangku, salamku untuk Rio!" Mengakhiri panggilan.