FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 20: Penebusan & Perdebatan



"Miya, aku peringatkan lagi padamu, kau jangan pergi tanpa sepengetahuanku kau mengerti!" ujar tegas dari Malvin membuat Miya terpaku di tempat. "Naik ke kamar!"


Miya tanpa membantah langsung naik ke kamar dan meninggalkan Malvin yang terduduk disana, sambil memegangi kepalanya karena sangat lelah.


Saat Miya di atas dan melamun saja, ia jadi merasa sangat bersalah pada Malvin karena telah membuatnya khawatir setengah mati dan membuatnya lelah mencarinya.


Beberapa saat kemudian, Miya turun untuk mengecek Malvin. Terlihat Malvin sedang minum-minum di bawah dan tak terkendali. Sontak Miya mendekat dan ingin merebut gelas yang ada di tangan Malvin.


"Malvin, sudah jangan minum lagi!" berusaha merebut gelas dari Malvin.


"Menjauhlah, jangan dekati aku, kupikir kau ingin meninggalkanku, pergi saja!" teriak Malvin bangkit dari duduknya.



"Malvin, aku tidak bermaksud meninggalkanmu, aku... Aku minta maaf!" ujar Miya merasa sedih. "Aku bantu kamu ke kamar ya!"


"Tidak, aku tidak mau!" sifat kekanak-kanakan milik Malvin mulai muncul. Malvin lalu membaringkan diri ke sofa dan mulai terlelap karena lelah.


Miya tidak punya pilihan lain selain membiarkannya tertidur di sofa karena tidak mungkin kalau dia kuat menopang tubuh Malvin ke atas dan harus menuju tangga. Miya lalu mengangkat kepala Malvin dan membiarkan pahanya jadi bantal Malvin.


Miya mulai mengusap rambut lembut nan lebat milik Malvin naik turun. Malvin mulai melepas gelas dari tangannya hingga menjatuhkannya dan pecah. Miya juga memijit pelipis milik Malvin dengan di putaran yang sesuai dengan lantunan senandungnya yang biasa ia pakai menidurkan Malvin.


Tak lama kemudian, Miya juga mulai lelah dan perlahan tertidur



Esoknya Miya terbangun dan mendapati Malvin masih tidur dengan lelapnya. Miya cepat bangun dari duduknya dan meletakkan perlahan kepala Malvin dan mulai ke kamar mandi dan bersiap.


Selang beberapa menit, selesai bersih-bersih dan bersiap. Miya lalu mendatangi kamar Rio dan berpesan agar tidak membangunkan Malvin hari ini.


"Rio, bangunlah dan bersiap ke sekolah, kakak minta kau jangan membangunkan kak Malvin oke! Sarapanmu ada di lemari, setelah kau sarapan langsung ke sekolah oke!" ujarnya kepada Rio yang masih menutup matanya.


"Baiklah kak!" bangun dari tidurnya.


Miya mulai melihat materi yang diberikan oleh Duke dan mempelajarinya. Saat masih membaca, Duke sempat bertanya perihal Malvin.


"Nona, apa tuan Malvin tidak hadir?" tanya Duke.


"Maafkan aku, aku sengaja tidak membangunkannya, ia semalam minum-minum, dia terlihat sangat lelah kemarin. Jadi aku tak membangunkannya" ujar Miya menjelaskan.


"Lalu rapat hari ini, anda yang mengurusnya? Anda berencana melakukan rapat dimana nona?" tanya Duke lagi.


"Di perusahaan kita saja, ruang rapat B juga cukup besar dan dapat menampung orang hingga ratusan bukan, kita gunakan itu saja, tolong persiapkan semuanya!" sahut Miya menjelaskan lagi.


"Baik nona saya permisi!"


Setelah jam menunjukkan jam 13:50 Miya mulai melangkah menuju ruang rapat B dengan percaya diri.


"Maaf semuanya telah membuat anda menunggu!" ucap Miya membuka pintu ruangan. "Baiklah, mari kita mulai pendiskusiannya. Menurutku saham yang ada di perusahaan ini mulai berkembang pesat. Saya meminta anda memberikan alasan mengapa kalian semua ingin bekerja sama dengan perusahaan Malya? Silahkan tuan Alga anda duluan!"


Alga menjawab. "Terima kasih pada nona Miya sekertaris dari Tuan Malvin. Menurut saya dengan bekerja samanya antara perusahaan Malya dan perusahaan Garden. Menurut dari penglihatan saya, saham yang dimiliki perusahaan saya cukup bisa menampung dan membagi dengan saham milik perusahaan Malya. Jadi saya menyarankan untuk Nona anda harus menjalin kerja sama dengan saya!" ujar Alga panjang lebar.


"Saya keberatan!" teriak Yugo. "Saya juga ingin mengatakan hal yang sama tentang perihal saham ini. Namun, saya lebih fokus pada tali pertemanan antara perusahaan kita. Saya berpikir kenapa kita tidak menguji kapasitas dan kekuatan dari perusahaan masing-masing dan membuktikan siapa yang berhak?"


"Tidak, saya tidak setuju! Nona juga bisa melihat sendiri bagaimana perusahaan saya bisa memecahkan masalah setiap saya bekerja sama dengan perusahaan lain, anda harus percaya kepada saya!" ujar Alga.


"Tapi, perusahaan anda pernah mengalami kebangkrutan karena salah mempertimbangkan sesuatu, anda juga sangat bertele-tele dalam memutuskan sesuatu!" ejek Yugo.


"Cukup!" teriak Miya. "Saya akan memutuskan agar kedua perusahaan ini saya terima menjalin kerja sama dengan perusahaan saya!" sahut Mia.



"Apa?" keduanya terheran-heran.