
Keesokan paginya, Miya terbangun dengan suasana hati yang enak, Miya mulai meregangkan otot-otot tangannya dan sesekali menguap. Saat menoleh ke arah sampinya, Ia terkejut lagi karena melihat Malvin yang telanjang dada di sampingnya, Miya sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam hingga ia berpikir sejenak dan mulai mengingat kejadian semalam.
Miya langsung ke bawah dan mulai memasak dan membangunkan adiknya yang sangat lelap dalam mimpinya.
"Rio, Bangun Rio...waktunya sekolah!" ujarnya membangunkan Rio seperti biasa.
Rio tak ada respon sehingga membuat Miya geram dengan tingkah laku Rio yang susah dibangunkan.
Lalu Miya berteriak sekuat tenaga menyebut nama Rio hingga lantang keluar rumah.
"Rio......!" Teriak Miya.
Suara lantang Miya membuat Malvin terbangun dan langsung menuju ke asal suara Miya yang keras dan bergema di seluruh sudut rumah.
"Ada apa? Rio kenapa?" langsung membuka pintu kamar Rio.
Malvin hanya ternganga melihat ke kamar Rio dan menyadari bahwa tidak ada yang terjadi, Malvin lalu menarik tangan Miya keluar dan berkata:
"Rio, mandilah aku akan membawa kakakmu dulu!" sahutnya dan menutup kamar.
Malvin menyeret Miya ke arah sofa dan membuatnya dalam posisi baring di bawah Malvin.
"Kenapa kau berteriak sangat keras?, kau membuatku panik!" ujar Malvin mengerutkan kening.
"Maafkan...maafkan aku, aku...aku terbiasa membangunkan Rio seperti itu!" jawab Miya dan meminta maaf.
"Siapa yang menyuruhmu minta maaf, aku hanya memintamu untuk tidak membuat seisi rumah panik, kau mengerti!" jawab Malvin mencium kening Miya singkat. "Sekarang mandilah, kau harus kuliah bukan?"
Miya lalu berpikir sejenak dan berpikir bagaimana dengan pekerjaannya di perusahaan Malvin yang menugaskannya jadi sekertaris.
"Anu, apa kau boleh meneruskan kuliahku?" tanya Miya berani bertanya.
"Tentu boleh, kenapa tidak?, aku menyuruhmu untuk kuliah agar kau bisa sedikit bersenang-senang dan tidak terkurung di rumah saja, aku dengar kau akan segera sarjana dua bulan lagi bukan?, itu bukan waktu yang lama, jadi kuputuskan untuk membiarkanmu berkuliah lalu bekerja sebagai sekertarisku!" ujar Malvin panajang lebar.
"Sungguh?" jawab Miya tidak percaya
"Tentu, kau juga sangat menyukai membaca buku dan lebih menghabiskan waktumu membaca suatu kertas yang bertuliskan beberapa materi, jadi aku putuskan kau boleh kuliah!" ujarnya lagi mengangkat sudut bibirnya.
"Te...terima kasih!" ucap Miya berterima kasih.
Malvin kemudian makin melebarkan senyumannya dan mencium bibir Miya lagi dengan penuh nafsu.
Malvin melepaskan ciumannya, nafas mereka terengah-engah, kemudian Malvin menyuruh Miya bersiap agar Malvin bisa mengantarnya.
"Baiklah, sarapanmu ada di meja, aku akan memanggil Rio dulu untuk sarapan lalu mandi, dan tolong menyingkirlah!" sahutnya sedikit gemetaran.
Malvin lalu menyingkir, Miya menggunakan kesempatan itu dan langsung menuju ke kamar Rio.
Selesai dari kamar Rio, Miya langsung menuju kamar mandi dan mandi setelah itu bersiap dan turun ke bawah.
Malvin yang sudah selesai dari tadi sedang menunggu di sofa dan sedang menikmati kopi sambil membaca koran paginya.
"Anu, aku sudah siap, ayo kita berangkat! Oh ya dimana Rio?" tanya Miya memandang sekeliling
"Dia sudah berangkat dari tadi, dia juga sudah memakan sarapannya jadi kau tidak perlu khawatir!" jawab Malvin langsung berdiri dari duduknya. "Ayo kita berangkat!"
Mereka pun menaiki mobil Milik Malvin yang lain, mobil kali ini adalah mobil yang mewah berwarna merah serta gaya mobilnya tidak tertutup. Selama di mobil, Miya meminta agar Malvin mengantar Miya sampai lampu merah dekat Universitasnya dan jangan sampai ke gerbangnya. Miya takut menumbulkan kerusuhan dan menjadi bahan gosip lagi.
Malvin menuruti apa yang di minta Miya, Malvin menurunkan Miya di lampu merah dekat Universitas Miya dan berpamitan lalu pergi.
Miya pun langsung menuju Universitasnya dan langsung di sambut oleh Sarah yang melompat kearahnya.
"Miya, bagaimana harimu dengan tuan Malvin?" tanya Sarah dan melompat ke pundak sahabatnya itu.
"Eh, kenapa kau bisa tau kalau aku sudah bersama Malvin?" tanya Miya curiga.
"Ups! Keceplosan deh, maaf ya! Sebenarnya yang menyuruh tuan Malvin ke atas ruang osis adalah aku, hehe aku minta maaf" meminta maaf dengan menunduk.
"Oh jadi kamu biangkeroknya, huh. Baiklah aku maafkan kau kali ini, tapi lain kali kau tidak boleh seperti itu, kau mengerti!" ujar Miya mengacak-acak rambut Sarah.
"Iya-iya. Eh mau ku beri tahu rahasia besar?" sahutnya mendekat ke arah telinga Miya.
"Apa? Rahasia apa?" jawab Miya penasaran.
"Aku pacaran sama kak Stefan loh, baru aja semalam dia nembak aku!" bisik Sarah ke arah telinga Miya.
"Benarkah, karna kau sudah resmi berpacaran, bukankah kau harus menaktrirku saat istirahat?" tersenyum sinis.
"Em, baiklah! Sekarang yang penting adalah ayo kita cepat ke kelas, hari ini dosennya galak loh, lagi pula jurusan kita politik jadi butuh waktu penjelasan yang banyak, ayo kita masuk!" Sarah menarik tangan Miya berjalan menuju kelas.