FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 19: Direkturku[Malvin]



Miya yang ditinggal oleh Malvin untuk menjaga kantor agar terkendali mulai bosan. Miya selesai mengerjakan semua file dan dokumen yang diminta Malvin dari tadi dan sekarang, ia sangat bosan hanya duduk di mejanya saja.


Miya lalu turun untuk melihat semuanya berjalan lancar seperti biasa atau tidak. Semuanya biasa-biasa saja, Miya menghampiri semua pegawai lain dan hanya menyapa saja.


Tapi, Miya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Bukannya menyapa balik, pegawai itu malah cuek dan pindah ketika Miya menghampirinya, Miya juga sering jadi bahan gosip mereka setiap Miya terlihat di lantai bawah.


Miya lalu keluar dan duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu sambil menunggu Malvin datang. Entah apa yang terjadi pada Miya hingga sangat merindukan atasannya itu(Malvin) dia benar-benar ingin menemuinya, dan tak ingin menjauh darinya.


Apakah Miya sudah jatuh hati pada Malvin?


"Kak Miya!" seseorang berteriak memanggil namanya.


Miya menoleh dan ternyata yang memanggilnya adalah Frisi yang sedang mendorong gerobak bantalnya.


"Frisi, kenapa kau bisa ada di sini?" Miya berlalari mendekati Frisi yang berdiri di sebrang jalan.


"Aku sedang berjualan kak, lalu kakak sedang apa duduk disana?" jawab Frisi tersenyum


"Ah...kakak bekerja di sini, kakak bosan, kakak hanya duduk disana tanpa berbuat sesuatu!" ujar Miya.


"Benarkah, kalau begitu kakak temani aku saja menjual sisa bantal ini, lagi pula bantal ini tinggal sedikit, kakak mau kan? Ini tidak akan lama!" ucap Frisi bersemangat.


"Ah...aku mau, kalau begitu ayo kita pergi!" balik tersenyum dan mulai mendorong gerobak juga.


Miya pergi begitu saja tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi jika Malvin mengetahui ini.


*Pasti atasannya itu mencari-cari ia kemana-mana, dia dalam masalah besar!



*


Siang harinya, Malvin akhirnya tiba kembali di kantor dan sedang sangat lelah. Ia butuh Miya untuk membuatnya segar kembali.


Malvin memasuki kantor dan di sambut dengan baik dari pegawainya yang langsung beridiri dan tersenyum ketika mendengar suara langkah kaki dari sepatu milik Malvin.


Malvin lalu naik ke lantai 7 dimana ruangannya berada. Ia tak sabar menanti pijitan khas tangan milik Miya yang enak dan sejuk jika tersentuh oleh pelipisnya.


"Miya aku datang!" ujarnya melihat sekeliling ruangannya dan tidak mendapati Miya ada di sana.


Malvin lalu masuk lebih dalam dan menyusuri semua sudut ruangannya dan tidak mendapati Miya ada di sana. Malvin mulai panik dan turun kembali kebawah dan menanyakan Miya kepada pegawai lain.


"Apa kalian melihat sekertaris Miya?" ujar Malvin bertanya pada pegawai satu persatu.


Lantas Malvin mulai mencari seorang diri menggunakan mobil pribadinya.



Disisi lain, Miya yang sudah menjual bantal bersama Frisi sangat senang. Frisi lalu berpamitan kepada Miya karena hari sudah mulai sore.


"Sampai jumpa kak, lain kali aku akan berkunjung lagi!" tersenyum.


"Sampai jumpa Frisi, salamku kepada nenek ya!" teriaknya dari jauh.


Miya lalu menyusuri kota dengan keringatnya yang menetes kemana-mana, ia juga sempat melirik ke arah taman yang kedatangan wahana baru di sana.


Setelah beberapa saat memandangi taman, Miya di kejutkan oleh seseorang yang berteriak memanggil namanya.


"Miya!"


Saat Miya menoleh ternyata yang memanggilnya adalah Malvin, wajah terlihat sedang marah, habislah dia.


"Ma...malvin!" ucapnya panik.


Malvin lalu mendekati Miya dan langsung memeluknya. "Kau kemana saja hah? Kenapa kau keluar dari kantor!" sahut Malvin memarahi Miya.



"Ma...maaf, aku tadi keluar karena melihat orang yang pernah membantuku saat aku jatuh ke jurang, ia sedang berjualan bantal jadi aku membantunya, maafkan aku!" ujar Miya merasa bersalah.


"Lalu kenapa kau tidak mengabariku, dan juga tak meninggalkan surat ataupun semacamnya!" Malvin melepas pelukan dan menatap Miya tajam.


"Aku sungguh minta maaf, aku tidak membawa ponselku, aku langsung senang ketika melihat orang yang menyelamatkanku sehingga aku lupa mengabarimu, dan aku malah meninggalkan kantor tanpa dijaga!" ujar Miya menunduk.


"Sudahlah, ayo kita kembali, disini sangat panas dan kau sudah berkeringat, ayo kita langsung pulang saja!" sahut Malvin menarik Miya kearah mobil.


"Tapi...aku mau kesana!, tapi kau sedang lelah!" ucap Miya mendongak ke arah taman dan bianglala.


"Aku janji akan membawamu kesana besok, kita pulang dulu ya! Aku juga sangat lelah aku butuh pijatan mu!" ujar Malvin yang membuat Miya luluh.


"Baiklah! Ayo kita pulang!" ujarnya.