FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 23: Berita gembira untuk Malvin



"Tapi, aku...aku takut! Aku tidak mau" pinta Miya mentah-mentah.


"Tapi kau harus mendapatkan suntikan itu, Billy lakukan dengan cepat!" ujar Malvin menyuruh dan memalingkan wajah Miya ke dadanya dan menutupnya.


"Nona, apa kau siap?" Billy menyiapkan suntikannya.


Billy mulai memegang lengan Miya dan memberi penghilang rasa sakit di lengan Miya agar Miya tidak kesakitan.


Baru saja jarum itu menyentuh permukaan kulit Miya, Miya sudah menangis dan tak berani membuka mata.


"Tunggu Billy!" dengan cepat Malvin menghentikan Billy yang siap menusukkan jarum itu, namun sudah di hentikan oleh Malvin.


Malvin lalu berisyarat kepada Billy agar keluar sebentar dan memberinya waktu menenangkan Miya.


Billy keluar dari kamar dan membiarkan Malvin melakukan tugasnya.


"Miya, hey...buka matamu, apa kau benar-benar takut? Jika kau takut kau tidak perlu melakukannya" ujar Malvin menenangkan Miya.


"Ak...aku, aku takut....aku tidak mau, jauhkan itu dariku" jawab Miya masih menutup mata dan menahan tangisnya.


"Baiklah-baiklah kau tidak akan disuntik, tapi jelaskan padaku mengapa kau takut disuntik?" tanya Malvin penasaran.


"Dulu aku sering melihat ibuku disuntik paksa oleh ayahku, ayahku mengatakan bahwa ibuku sakit dan harus disuntik setiap hari, namun saat ibuku disuntik ibuku langsung mual dan hari itu tiba, untuk terakhir kalinya ibuku di suntik oleh ayahku dengan paksa, dan saat selesai di suntik ibuku...ibuku dia, dia...jadi seorang pemabuk! Aku tidak mau hal yang sama pada ibuku terjadi padaku juga, aku tidak mau!" makin menangis dan mengepal kaos milik Malvin.


Malvin lalu merasa sedih dan bersalah telah memaksakan kehendak Miya yang tidak di inginkan Miya. Malvin lalu berusaha menenangkan Miya agar tidak bersedih lagi.


Tenanglah, aku janji tidak akan ada suntikan lagi, aku akan bicara pada Billy untuk tidak menyuntikmu oke! Tapi hapus dulu air matamu" sahut Malvin menghapus air mata Miya.



Malvin lalu menyuruh Billy masuk kembali dan bertanya apa tidak ada cara lain untuk memberi Miya Vitamin.


"Mmm...ada cara lain, yaitu dengan memberinya obat atau pil Vitamin, namun Vitamin berbentuk Pil ini tidak sama kuatnya dengan Vitamin suntikan. Jadi kau mau tidak?" pinta Billy menjelaskan.


"Baiklah, berikan saja itu, apa dia hanya butuh istirahat saja?" tanya Malvin lagi.


"Mmm...ya, mungkin cuma istirahat dan menjaga pola makan, hanya itu sih!" jawab Billy.


"Baiklah, aku akan mengantarmu keluar!" sahut Malvin mengusir Billy dengan sengaja.



"Sepertinya begitu, dia hanya kelelahan, tenang saja!" jawab Billy santai.


"Baiklah, kau boleh pergi!" usir Malvin.


"Kau mengusirku, hum...aku tidak akan memberi tahu apa yang membuat Miya pusing, baiklah aku pergi!" acuh Billy berbalik badan.


Malvin lalu menahan Billy dan bertanya. "Apa, apa yang membuat Miya pusing, bukankah hanya karena kelelahan?" tanya Malvin sigap.


"Aku beri tahu ya, Miya kelelahan karena adanya faktor yang membuat tubuhnya melemah, aku belum memastikan dengan pasti sih, tapi kemungkinan besar ia hampir menumbuhkan benih bayi, tapi kau jangan langsung senang dulu, aku hanya memperkirakan saja, kelelahan Miya di sebabkan oleh tumbuhnya benih-benih bayi, seperti itu! Kau jangan memberi tahu Miya dulu loh!" jawab Billy panjang lebar membuat Malvin terkejut.


"Apa! Apakah kau sudah memastikan itu?" senyuman lebar tergambar di wajah Malvin.



"Mmm...kita lihat saja perkembangannya, jika terjadi sesuatu pada Miya tanya aku ya!" melangkah turun dari tangga.


Malvin lalu kembali ke kamar dengan perasaan yang amat sangat bahagia karena mendapat kabar dari Billy yang mengejutkan itu.


"Miya, apa kau butuh sesuatu? Kau mau makan, atau ku pijit?" tanya Malvin masih tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Kau kenapa, apa yang dikatakan dokter Billy padamu?" tanya Miya kebingungan.


"Tidak ada, sebaiknya kau tidur sekarang, aku akan menemanimu, cepatlah!" suruh Malvin membaringkan Miya..


Miya sangat bingung dengan keadaan Malvin saat ini, terlihat dari rau wajahnya ia sangat bahagia setelah berbicara dengan Billy.


"Malvin apa benar tidak terjadi apa-apa?" tanya Miya lagi tambah kebingungan.


"Iya, tidur saja! Mari aku akan membuatmu tertidur, ayo tidur!" sahut Malvin mengelus kepala Miya.


"Baiklah, selamat malam!" jawab Miya singkat dan menutup mata.