
Sekitar beberapa menit kemudian, Rio mendengar mobil milik Malvin sudah terdengar berhenti di depan rumah.
"Rio, mana kakakmu?" tanya Malvin.
"Dia ada di atas, kepalanya sedikit sakit. Kak Miya berpesan, jika kak Malvin sudah datang, kakak di suruh makan malam, dan dia juga menyampaikan maaf tadi, aku tidak mengerti maaf apa itu?" jawab Rio datar.
"Baiklah, kau makan lah 6, aku akan mengecek kakakmu dulu lalu kembali!' Malvin segera naik ke atas kamar untuk mengecek keadaan Miya.
"Miya, apa kau baik-baik saja?" ujar Malvin langsung membuka pintu.
Terlihat Miya sedang berbaring membelakangi Malvin dan menoleh. "Malvin, apa kau sudah baik-baik saja, sejak kapan kau bangun, apa perlu ku pijit lagi?" Miya malah bertanya balik ke Malvin.
Kening Malvin lalu berkerut, ia lalu mendekati Miya dan membuatnya terbaring dalam posisi pahanya menjadi bantal Miya.
"Malvin ada apa?" tanya Miya lagi menghalangi Malvin menyentuh keningnya.
Malvin lalu menyentuh kening Miya dan merasakan kening Miya sangat panas. Malvin lalu mengembalikan posisi Miya dan turun dari ranjang serta melarang Miya bergerak.
"Jangan bergerak! Kalau kau turun dari kasur, akan kupatahkan kakimu!" ancam Malvij yang membuat Miya tak berani bergerak.
Malvin lalu kebawah mengambil kompres dan naik kembali untuk mengompres dahi Miya.
Malvin lalu mengubah posisi awal, pahanya menjadi bantal Miya. Lalu Malvin mengompres dahi Miya.
"Malvin, aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan!" ujar Miya lagi-lagi menghentikan tangan Malvin melakukan tugasnya.
"Lepaskan tanganmu, biarkan aku mengompresnya" jawab Malvin tegas.
Miya lalu melepaskan tangannya dari tangan Malvin yang sedang bergerak mengompres kening Miya.
"Terima kasih!" pinta Malvin singkat.
"Hah? Kau bilang apa?" tanya Miya bingung.
"Terima kasih telah menggantikan ku tadi!" jawab Malvin lalu menatap Miya.
"Mm..tidak apa-apa, aku melakukan itu juga karena menebus kesalahanku kemarin, kau jadi sangat lelah karena mencariku, dan kau minum-minum gara-gara aku, Maaf!" sahut Miya lagi.
"Tidak, itu bukan salahmu. Tapi, jika kau merasa bersalah, kau harus patuh pada satu hal yang kukatakan!" jawab Malvin tersenyum sinis.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Miya.
"Mm...tapi, aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan!" ujar Miya menolak
"Kau harus patuh, aku akan makan malam dulu, kau sudah makan kan? Apa aku perlu membawakan makananmu kemari?" tanya Malvin mengubah ekspresi.
"Mmm....ya aku sudah makan tadi, kau makanlah, aku akan menunggu!" sahut Miya memberanikan diri tersenyum manis dan memegang pipi Malvin.
"Baiklah, jangan turun dari ranjang oke!" sempat mengelus kepala Miya dan meninggalkan Miya.
Malvin lalu turun untuk makan malam sebentar lalu menelpon salah seorang temannya yang bekerja dalam bidang medis.
(Panggilan terhubung)
"Billy, tolong datang ke rumahku, aku membutuhkanmu untuk memeriksa Miya, cepatlah!" ujar Malvin membuka pembicaraan.
"Miya, siapa dia? Apa dia kekasihmu?, baiklah aku akan kesana dalam 10 menit!" jawab Billy sang dokter teman dari Malvin.
"Bisa di bilang ia kekasihku. Baiklah, cepat sedikit!". Mengakhiri panggilan.
10 menit Malvin menunggu, akhirnya Billy datang dan langsung memeluk teman lamanya itu.
"Hey, Malvin. Kau sudah sangat sukses sekarang, hahaha di ingat-ingat kau dulu sangat culun!" ejek Billy pada Malvin.
"Sudahlah, jangan membahas itu, sebaiknya kau cepat periksa Miya sekarang. Ia ada di kamar atas!" sahut Miya mendorong tubuh Billy.
Mereka berdua ke atas dan membuka pintu. Mereka melihat Miya yang sedang duduk-duduk di atas ranjang sambil terus menatap kearah koper kecil milik Billy.
"Miya, apa kau sudah lebih baik? Ini temanku, namanya Billy" ujar Malvin mendekati Miya.
"Ha...hai, senang bertemu dengan anda dokter Billy!" jawab Miya.
"Senang juga bertemu denganmu nona cantik, nona mengalami gejala apa?" tanya Billy.
"Mm....saya hanya kelelahan dan kepala saya pusing, itu saja, dan selebihnya lagi demam ringan" jawab Miya masih menatap koper kecil milik Billy.
"Anda hanya butuh stamina, aku akan menyuntik anda dan memberi resep obatnya!" sahut Billy menjelaskan.
Ketakutan Miya terjadi, Miya dari tadi memandangi koper kecil milik Billy karena Phobia akan suntik, itu sudah ada sejak ia masih SD.
Miya lalu membisik Malvin tentang ketakutannya. "Malvin, aku takut jarum suntik! Kumohon jauhkan itu dariku!" bisik Miya takut.
Malvin lalu menatap Miya dan membantah keluhannya. "Kau harus tetap di suntik, mau tidak mau kau pasti di suntik, ini untuk kesehatanmu, Billy lakukan" suruh Malvin tegas.