
5 hari setelah insiden jatuhnya Miya :
Malvin yang sudah mencari-cari ke seluruh kota tentang keberadaan Miya tak pernah menyerah. Saat pencarian di bawah jurang itu, tidak ada tanda-tanda jasat Miya di bawah sana, Malvin yakin bahwa Miya masih hidup dan sedang bersembunyi. Malvin tidak percaya jika Miya sudah tiada, Malvin akan percaya jika jasat Miya di temukan.
Satu hari seb
Satu hari sesudah insiden itu :
"Dimana aku?" Miya tersadar bahwa ia ada di sebuah rumah kecil yang hanya beralaskan karpet saja.
"Nak, kau sudah bangun! Kau butuh sesuatu?" pinta nenek tua yang tiba-tiba muncul dari luar pintu membawa sebuah ramuan herbal di tangannya. "Minumlah obat ini, apa kepalamu sudah tidak apa-apa?"
"Nenek siapa?, kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Miya kebingungan dan meraih ramuan itu.
"Kau terjatuh dari atas dan tepat mendarat di gerobak kapuk ku. Untung saja di gerobak itu ada bantal yang sudah aku buat dan kau tepat mendarat disana!" ujar nenek menjelaskan apa yang terjadi kepada Miya.
"Nenek seorang pembuat bantal?" tanya Miya lagi.
"Ya! Nenek tinggal bersama cucu nenek, namun cucu nenek sedang keluar mencari kayu bakar, nenek menjual bantal nenek keluar kota, cucu nenek yang membawanya kesana!" ujar nenek.
"Mm, berapa umur cucu nenek?" tanya Miya lagi ke sekian kalinya.
"Dia berumur 15 tahun, dia seorang perempuan loh!" sahutnya.
"Benarkah? Wah cucu nenek hebat!" pinta Miya tidak percaya.
Tak lama kemudian datanglah sang cucu membawa kayu bakar untuk neneknya.
"Nek, Frisi pulang!" teriak Sang cucu dengan nada lembut.
"Ah, frizi kau sudah pulang!" sahut nenek menyambut cucunya.
"Ah, kakak kau sudah bangun, apa kakak baik-bsik saja?" ujar frisi kepada Miya.
"Ya, terima kasih sudah merawat kakak. Oh ya! Namaku Miya!" tersenyum.
"Salam kenal kak!".
Setelah kejadian itu, Malvin tidak pernah berhenti mencari keberadaan Miya. Saat Malvin termenung di ruangannya, datanglah Duke mengabarkan sesuatu tentang Chelsea yang menjadi tahanan Malvin.
"Tuan, Nona Chelsea mengamuk lagi!" teriak Duke sambil berlari ke arah ruangan Malvin.
"Ada apa dengannya, bukankah aku sudah bilang untuk tidak mengusiknya!" jawab Malvin.
"Tapi tuan, kami sama sekali tidak mengusik nona. Nona langsung berteriak memanggil anda dan minta di lepaskan!" jawab Duke khawatir.
"Baik tuan, saya permisi!" meninggalkan ruangan Malvin.
Malvin mengarah pada ruang bawah tanah kantor yang ditempati oleh Chelsea di tahan.
"Kau kenapa?" tanya Malvin pada Chelsea yang terus berteriak.
"Lepaskan aku! Ayo kita menikah, aku tak sanggup hidup tanpamu!" teriak Chelsea histeris.
"Apa kau gila? Aku sudah tak memerlukanmu lagi, kita itu hanya di jodohkan karena bisnis keluarga, jadi berhentilah berharap! Kau sudah membuat Miya menghilang, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" pinta Malvin berteriak kepada Chelsea.
Malvin lalu pergi meninggalkan Chelsea yang terus berteriak, Malvin lebih memikirkan kondisi Miya sekarang ini. Malvin khawatir kepada kondisi Miya yang sebelum insiden itu sudah terluka.
Malvin bertekad untuk menemukan Miya dan meminta maaf serta berjanji akan menjaga Miya.
Di waktu yang sama, Miya yang sedang mengganti perban yang ada di bagian kepala dan sikunya sedang mengoleskan herbal tumbuk yang diberikan Frisi tadi. Sembari mengoleskan herbal tersebut, ia sesekali berbincang bersama frisi.
"Frisi, kapan kau akan ke kota?" tanya Miya sambil mengoleskan herbal pada sikunya.
"Mungkin sore nanti, kakak mau ikut?" jawab Frisi.
"Ya! Kakak harus bertemu dengan adik kakak juga, dia sedang berada di kota! Kakak juga harus bersekolah" jawab Miya tersenyum kecut mengingat adiknya.
"Mm...sebaiknya kakak segera berpamitan dengan nenek, ini sudah mulai sore, aku akan menyiapkan gerobak, kakak bersiaplah setelah ini"
"Baiklah, kakak akan kedalam dan membantu nenek sedikit lalu berpamitan!".
"Nek, nenek sedang apa?" Miya masuk ke dalam rumah.
"Ini nenek buat sup buat Frisi, Frisi akan segera pergi bersamamu kan?" jawab Nenek menebak-nebak.
"Eh, bagaimana nenek bisa tau?" tanya Miya.
"Nenek hanya menebak, lagipula kau pasti punya keluarga di kota, dari pakaian rumah sakit yang kau kenakan saat menemukanmu menunjukan bahwa kau baru saja masuk rumah sakit dan terlihat sangat jelas kau adalah gadis kota. Jadi nenek akan membuat banyak!"
"Baiklah nek, sepertinya Frisi sudah menunggu, aku pergi ya nek!" sahut Miya berpamitan.
"Sampai jumpa nak, jangan sampai tersesat lagi ya!" sahutnya.
Miya keluar dan mulai berjalan bersama Frisi menuju kota.