
Namaku Miya Calandra, ibuku baru saja meninggal, ayahku pergi entah kemana, aku butuh biaya kuliah, ibuku meniggal karena bunuh diri dengan luka sayatan di bagian tangan dan lehernya, saat masih hidup ibuku meniggalkan utang yang banyak pada satu keluarga yang kaya raya dan masih belum di lunasi, aku tak tahu utang apa yang ibu utangkan pada keluarga itu.
"Ini berapa?" tanya Miya pada seorang penjual pakaian.
"Ini seharga 8 dollar!" jawab sang penjual sambil menunjuk ke arah pakaian itu.
Saat baru saja mengeluarkan uang di dalam dompet tangan miliknya, Miya langsung di seret 2 orang pria berbadan kekar sampai ke mobil mereka.
"Lepaskan aku!" ronta Miya kepada dua orang pria tersebut.
"Diam!" jawab salah satu dari dua pria tadi.
Selama perjalanan, Miya hanya bisa meronta dan mencoba meminta tolong pada seseorang melalui kaca mobil yang di tutup rapat.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah besar bak istana dengan ukiran-ukiran di bagian dinding, ditambah lagi dengan kolam renang di depan rumah serta bunga tulip berwarna merah dan kuning menghiasi pekarangan rumah.
Kedua orang itu kembali menyeret Miya ke arah rumah dan langsung menyeret Miya ke lantai atas dan berhenti di depan pintu sebuah kamar.
(Tok-tok-tok)
"Tuan, saya membawa orang yang anda mau" pinta salah satu dari kedua orang itu.
"Bawa dia masuk!" suara pria dari dalam kamar tersebut.
Miya di lemparkan ke depan seseorang yang duduk di atas ranjang dan masih memakai piyama tidur.
"Sini! Duduk di sini" jawab sang pria sembari meletakkan tangannya di sebelah bantal yang ia jadikan sandaran.
Miya hanya tetap berdiri di tempat tanpa bergerak sama sekali, Miya hanya gemetaran ketakutan dan hampir menangis karena ia di paksa tanpa ada sebab.
"Aku bilang sini!" jawab sang pria mulai membentak Miya.
Miya mendekat ke arah bibir ranjang sambil melihat kebawah tanpa berani melihat sang pria.
"Kau tahu kenapa kau di bawa ke sini?" sahut sang pria dengan wajah dingin.
"Ti....tidak!" jawab Miya terpatah-patah mengucapkan kalimatnya
"Kau tahu kan, ibumu punya utang, kau tahu seberapa besar utang ibumu, hah?" mengucapkan kalimat mulai dari nada biasa sampai meningkat ke nada naik.
"Ti....tidak, aku tidak tahu!" jawab Miya dengan kalimat yang masih terpatah-patah.
"Ahh! Itu....itu sakit!" pinta Miya meringis kesakitan.
"Kau ingat ya, utang yang di utangkan ibumu sebesar 100 juta dollar dan telah membuat ibuku bunuh diri!" marah sang pria sambil menarik rambut Miya dengan sangat keras.
"Bu...bun...bunuh diri?" Bingun Miya sambil menahan sakitnya.
"Ya! Karena ibumu menggoda ayahku dan membuat ayahku berada dalam penjara karena di tuduh membunuh ibumu, ibuku kemudian stres mendengar berita itu dan bunuh diri!" sahut sang pria menyipitkan mata. "Dan sampai lunas ibumu belum lunas, kau akan menjadi pembantu di rumahku!" lanjut sang pria lagi.
"Tapi...tapi kuliahku?, aku harus kuliah minggu depan!" pinta Miya meminta agar di lepaskan.
"Itu tidak ada hubungannya denganku, yang pastinya kau akan bekerja dan tinggal di sini mulai sekarang!" jawab sang pria sambil mendekat ke arah telinga Miya dan membisikan sesuatu, "Ingat! Namaku Malvin, kau harus patuh, ingat itu!" sambung kalimatnya.
Miya tak menjawab apa-apa, ia hanya mengangguk.
"Diam di sini, aku akan kembali lagi membawakanmu hadiah!" sahut malvin sambil berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu.
"Bu....buka, A...aku....aku ingin pulang!" teriak Miya sambil berjalan ke arah pintu dan mengetuk-ngetuk pintu sambil menangis.
Beberapa menit kemudian, datanglah Malvin membawa sebuah pakaian satu set berwarna hitam putih.
Malvin melemparkan pakaian itu pada wajah Miya yang sedang tertidur di lantai.
"Hey, bangun! Lihat, lantaiku jadi banyak kumannya karna kau, pakai itu dan mulai bekerja!" sahutnya sambil melemparkan pakaian. "Jika saat aku selesai mandi dan masih melihatmu di kamarku dan belum bekerja, aku akan menyambukmu!" lanjut Malvin yang membuat Miya langsung berdiri dari tidurnya.
"Ba...baik!" jawab Miya singkat..
Malvin melangkah ke arah kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi, Miya yang mulai memakai pakaian pelayan yang di lemparkan Malvin tadi membuatnya merasa malu pada dirinya sendiri memandangnya di depan cermin di kamar itu.
Tangis Miya langsung pecah karena melihat dirinya sendiri sudah tak bisa memakai seragam universitasnya dan malah di ganti dengan pakaian pelayan.
"Hikss....hikss...ke....kenapa ibu membuatku seperti ini!" tangis Miya meratapi hidupnya.
Miya langsung bangkit dari tangisnya dan mulai membuka pintu lalu berjalan menuju lantai bawah untuk bekerja seperti pelayan yang lainnya.