
Saat Miya keluar dari ruangan itu, saat itu juga Lisa masuk untuk menjalankan tugas yang di berikan David padanya.
"Tuan Malvin, ini kopi anda!" Lisa masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Nona, kenapa anda mengunci pintunya? Apa kau sedang menjalankan siasat mu saat aku lengah disini?" tangkas Malvin menatap tajam ke arah kopi yang di bawa oleh Lisa.
"Tidak tuan, saya hanya tidak ingin orang lain mendengar kita, Saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting!" jawab cepat Lisa tanpa ada kegugupun dalam hatinya sambil meletakkan kopi di depan Malvin.
"Hari ini, saya melihat sekertaris anda nona Miya sedang bermesraan dengan tuan David di kantor, saat saya menelpon tuan David, saya mendengar suara erangan seorang perempuan, saya yakin perempuan itu adalah Miya karena di lantai tiga itu hanya ada ruangan Tuan David dan Nona Miya saja, itupun para pegawai biasa dilarang menggunakan lantai itu jika hanya lalu saja!" dengan cepat Lisa melanjutkan kalimatnya.
"Jadi, anda kemari membawakan saya kopi dan hanya untuk menjelek-jelekan sekertaris saya di depan saya, begitu?" ujar cepat Malvin menanggapi dengan berdiri dari duduknya, "sebaiknya anda cepat keluar sebelum saya melaporkan anda kepada tuan David, Keluar!" usir lembut Malvin namun mengancam, oh ya! Bawa kopinya juga".
Lisa meraih kopi tersebut dan meninggalkan ruangan itu dalam keadaan marah, ia tak tahu bagaimana Malvin bisa sepercaya itu pada Miya yang hanya sekertaris saja, Tidak! Dia harus menyelidiki apa hubungan diantara mereka berdua.
Jam makan siang telah tiba, Miya melangkah keluar dari ruangannya dan hendak ke perusahaan Malya.
Seperti biasa, Miya membawa bekal yang berbeda dari bekal Malvin yang penuh dengan daging dan berbau alkohol, sedangkan Miya lebih menyukai makanan yang mempunyai sayuran dan ayam.
"Malvin? Kau di dalam?" Miya mengetuk pintu ruangan Malvin.
"Masuklah!".
Miya melangkah masuk dan mendapati Malvin sedang duduk di di sofa dengan mata tertutup yang sudah di sediakan di ruangan itu, ia terlihat lelah, "kunci pintunya, Miya".
Miya pun mengunci pintu tersebut, lalu menuju meja dan meletakkan kotak bekal itu di sana dan duduk di samping Malvin dan memegang kening Malvin.
"Kau terlihat pucat, apa kau sedang sakit?" Miya langsung memegang kening Malvin, "sepertinya tidak panas, kau kenapa?".
Malvin meraih tangan Miya dan membawanya kebibir dan mengecupnya, "tidak apa-apa, aku hanya lelah!"
"Kalau begitu, Beefnya jangan dimakan, kebetulan aku membawa salad buah dan sayur, kau mau?" Miya cepat meraih kotak bekal berwarna coklat pekat dengan tangannya yang lain.
"Lepaskan aku dulu, bagaimana aku mau menyuapi mu kalau kau tak mau melepas tanganku?" ada tawa yang keluar saat melontarkan kalimat dari mulut Miya itu.
Malvin melepas tangan Miya. Miya lalu mulai membuka kotak tersebut dan menyodokkan salad campur itu kedalam mulut Malvin, "Enak?".
Malvin mengangguk, "tadi aku menelpon Rio, dia bilang ia membawa teman nya menginap di rumah agar ia tak kesepian".
"Lalu kau mengijinkannya? Bagaimana jika mereka mengacau?" tangan Miya berhenti bergerak mengaduk salad.
"Biarkan saja, lagi pula di rumah tidak ada siapapun, jadi kuijinkan saja, tidak apa-apa jangan khawatir!" Malvin cepat menanggapi, "ayo berikan lagi saladnya!".
Miya lalu mengambil Salad itu dan memasukkannya lagi kedalam mulut Malvin, "Malvin, beritahu aku bagaimana cara beralasan saat menghadapi David, aku terlalu gugup untuk menyusun kalimatku jika ia mendesakku!".
Malvin lalu menegakkan punggungnya, "mmm...kurasa kau harus bisa melawan dengan kalimat yang langsung muncul di kepalamu, kalau bisa kau harus menggunakan kalimat yang membuatnya terpojok atau langsung berhenti mengganggu!".
"Tapi, bukankah itu sedikit berlebihan, kalau aku mengeluarkan kalimat yang seperti itu bisa saja, ia...semakin mendesak" ujar Miya cepat.
"Dia tidak akan berani mendesakmu jika kau berhasil memojokkannya, ia akan mulai berpikir dua kali untuk mendesakmu lagi, aku berpikir bagaimana kalau kita menggunakan rencana yang diberikan Duke"
"Memangnya apa rencananya?" tanya Miya semangat.
"Dia berkata, kita yang harus membuat Duke dan Lisa tunduk dengan cara yang sederhana yaitu menggodanya dengan cara apapun!" Malvin cepat menjawab pertanyaan Miya.
"Maksudmu, godaan yang bagaimana?" Miya mulai bingung kembali.
Malvin lalu menyeringai, hatinya sedikit tergelitik dengan tanggapan Miya yang polos, lalu ia menarik tubuh Miya untuk mendekatkan dirinya ketubuh masing-masing, lalu ia mencium bibir Miya singkat.
"Seperti itu, tapi aku tidak akan mengijinkanmu untuk menciumnya".
Miya terkejut dengan penjelasan yang diberikan Malvin, ia lalu segera menjauh dan pipinya panas memerah, "Apa? Aku tidak mau!"