
(Panggilan terhubung)
"Halo Sarah, apa kau akan segera hertunangan, kapan aku di undang?" kesal Miya.
"Hehe, minggu depan kami sudah akan bertunangan, tenang saja! Aku akan mengabarimu kapan kau akan hadir oke!" jawab Sarah menggaruk tengkuk.
"Baiklah kalau begitu, apa kak Stefan baik-baik saja?" tanya Miya.
"Mmm...dia sangat baik, bahkan dia menjadi agak gemuk karena terlalu kumanjakan!" jawab Sarah lagi.
"Hahahaha, Baiklah-baiklah, aku akan menutup teleponnya, aku harus tertidur sejenak, aku benar-benar lelah saat ini!" sahut Miya menguap.
"Mm...baiklah kalau begitu, aku juga harus melihat Stefan yang sedang tidur, dah Miya!" mengakhiri panggilan.
Miya lalu meletakkan ponselnya dan mulai membaringkan dirinya dan menutup matanya sambil tersenyum membayangkan musim panasnya kelak.
"Rio makan malam sudah siap, ayo turun!" teriak Miya memanggil Rio.
Rio pun turun dan mendapati sambutan dari aroma harum masakan kakaknya malam itu. "Kak, kak Malvin mana?" tanya Rio menari kursi.
"Ah dia, dia sedang keluar dan mengurus dokumen penting saat ini, jadi ia makan diluar!" jawab Miya menghidangkan makanan.
"Baiklah, kakak aku boleh menginap dirumah temanku malam ini kan, dia sedang membuat pesta rumahan di rumahnya, akan banyak yang datang kok!" sahut Rio meminta izin.
"Hanya semalam kan, tidak masalah! Nikmatilah musim panasmu!" jawab Miya tersenyum. "Makanlah, kakak akan menelpon kak Malvin dulu".
Miya lalu menuju kamar dan meraih ponselnya dan menekan nomor Malvin dan menghubunginya.
(Panggilan terhubung)
"Halo, jika kau sedang menanyakan tuan Malvin, sebaiknya nanti saja, aku sedang bersenang-senang bersama tuan Malvin disini, Ahh... Mmhh...tuan jangan kasar, aku tutup dulu ya, kami sedang bergulat jadi berhentilah mengganggu kami!" ujar sang wanita yang mengangkat ponsel Malvin yang membuat Miya terkejut.
Miya berlari sekuat tenaga, terengah-engah dan akhirnya sampai. Miya menerobos tanpa adanya penjagaan, di dalam barr itu terlihat semuanya sedang tertidur bahkan ada yang pingsan dikarenakan mabuk. Terlihat Alga dan Yugo juga setengah sadar disana, Miya tak menghiraukan mereka dan langsung menelusuri setiap ruangan, saat menuju ke lantai dua, ia mendapati suara erangan dan desahan dari kamar yang ada di atas sana.
Kamar itu sedikit terbuka sehingga Miya bisa mengintip. Terkejut, Miya terkejut melihat Malvin sedang di jelajahi oleh wanita yang sangat seksi dan sudah bertelanjang disana. Miya lantas menerobos dan mendorong wanita itu sehingga tersungkur.
"Kau, apa kau tidak lihat aku sedang melayaninya? Jangan mengganggu kami untuk bersenang-senang, dasar pengganggu Minggir!" dorong sang wanita dan memungut pakaiannya lalu keluar dari ruangan.
Miya lalu menoleh ke arah Malvin yang sedang tak sadarkan diri dan setengah telanjang. Miya lalu memapah tubuh kekar milik Malvin, walau sedikit kesulitan, akhirnya ia bisa memapahnya sampai keluar jalan raya dan mencari taksi untuk mengantarnya pulang.
Sampai di rumah, Miya cepat-cepat memapah Malvin ke atas kamar. Ia lalu mengambil pakaian yang tipis dan mulai mencari sesuatu untuk membuat Malvin merasa lebih baik.
Bagaimana ini? Rio sedang tidak ada, siapa yang bisa membantuku! Apa yang harus kulakukan!
Miya lalu teringat sesuatu, satu-satunya yang bisa membantunya adalah ponsel Malvin. Miy mulai meraba kantong celana, jas, kemeja namun tak mendapatkan apa yang ia mau.
Miya lalu berusaha menenangkan Malvin yang dari tadi selalu mengerutkan kening dan berbalik kanan dan kekiri. Miya mulai melakukan aksinya yang seperti biasanya yaitu membuat Malvin tertidur pulas. Setelah menyadari Malvin sudah mulai tenang, Miya pun keluar dari rumah dan menelpon Rio terlebih dahulu.
(Panggilan terhubung)
"Halo, Rio! Kakak minta saat kau kembali ke rumah, tolong belilah makanan untuk kak Malvin jangan lupa untuk membangunkannya untuk rapat besok ya! Kakak sedang ada urusan di luar, tolong ya!" langsung mengakhiri panggilan.
Miya mulai pasrah dan tak tau harus kemana, mood yang saat ini dialami Miya benar-benar berbeda dari biasanya, ada kekecewaan yang tersembunyi ketika melihat Malvin dekat dengan seseorang apa lagi ia adalah wanita. Hati Miya benar-benar merasakan seperti di tusuk oleh pisau dan yang menusuknya adalah Malvin sendiri, itu benar-benar membuatnya depresi dan bahkan sampai menangis dalam kekecewaanya.
Hatiku, hatiku sakit! Kenapa aku memiliki perasaan yang seperti ini terhadapnya, aku tak tau harus mengeluh pada siapa! Bantu aku!