
"Tapi, Miya! Aku tidak akan pernah mau, berhentilah berkata seperti itu, aku tau dia pasti menyukai mu dan mencoba menjauhkanmu dariku, aku tidak akan setuju, kau mengerti!" jawab Malvin tegas.
"Dengarkan aku Malvin, Aku tidak mungkin tinggal diam kalau aku di celekai disana, tenang saja! Lagi pula perusahaan nya sangat dekat, bahkan aku bisa langsung teriak ke arah sana bukan? Lagipun aku juga tau kalau dia pasti memanfaatkanku untuk keperluan pribadi atau untuk merugikan perusahaan Malya!" sahut Miya serius menanggapi.
"Aku tetap menolak!" jawab singkat Malvin.
"Baiklah, kau boleh membiarkan Duke mengecekku setiap hari bahkan setiap jam!" sahut Miya mulai jengkel.
"Aku sudah katakan aku tetap menolak!" ujar Malvin mulai tegas dan menaikkan nada suaranya.
"Ya sudah kalau kau tak mau, kita tidak akan dapat tanahnya, bahkan ketika perusahaan itu jadi, mungkin saja David akan langsung menuntut atau merobohkannya, dan kita juga tidak akan mendapatkan keuntungan besar!" pinta Miya mulai bersikap seakan-akan ia yang membuat rencana.
Malvin lalu berpikir dan membuat keputusan yang sebenarnya. "Baiklah, aku akan mengijinkanmu bertukar dengan sekertarisnya, tapi kau harus ingat! Duke selalu mengawasi dan istirahat makan siangmu kau lakukan bersamaku, dan di kantorku. Paham!" sahut Malvin mengambil napas panjang dan merelakan Miya.
Miya lalu loncat kedalam pelukan Malvin. "Wah...akhirnya kau setuju, aku janji akan baik-baik saja disana, jika perlu kau bisa mengajariku sedikit jurus yang mematikan, hahaha!".
"Tidak-tidak, latihan berat tidak boleh, kau sudah cukup dalam pengawasanku saja, lagi pula aku akan menaruh pelacak di jam tanganmu!" jawab Malvin membalas pelukan Miya.
"Pelacak, bagaimana cara kerja benda itu?" tanya Miya dan melepaskan pelukan.
"Caranya, jika jam tangan itu terbentur dengan sangat keras, maka ia akan langsung mengirim sinyal padaku dan pada Duke, jadi setiap kau dalam masalah aku akan disana!" kembali memeluk Miya.
"Mm...baiklah, tenang saja aku akan baik-baik saja!".
Disisi lain, Lisa yany juga tidak mau ditukar, ia sedang membujuk David yaitu atasannya. "David, aku juga tidak mau ditukar, kenapa harus begitu?"
"Tenang saja, apa kau tidak mau mendapatkan Malvin, dia itu pengusaha sukses di paris loh, dan sangat kaya!" jawab David menyeringai.
"Tapi, kau kan tau kalau aku hanya mencintaimu, aku tidak mau!" sahut Lisa tetap menolak.
"Dengar ya Lisa, kita itu hanya sebatas antara tuan dan anak buah, jadi aku pasti memilih teman hidupku sendiri dan tidak di atur olehmu!" ujar David tetap pada ekspresinya.
"Tapi, aku tidak mau ditukar dan jauh darimu!" sahut Lisa makin menolak.
"Tapi, kau melakukan itu demi kau bisa bersama Miya kan, bagaimana denganku?" ujar Lisa mulai marah.
"Aku tidak akan melakukan itu, aku memisahkan mereka untuk mendapat keuntungan dari Miya yang akan mengungkapkan beberapa padaku tentang Malvin dan cara menjatuhkannya dan mengambil alih perusahaannya, tenang saja!" jawab David santai.
"Kau yakin? Kau yakin bahwa kau tidak akan melakukan itu, aku akan melakukannya untukmu!" ucap Lisa pasrah.
"Terima kasih, tolong pesankan aku beberapa makanan, aku sangat lapar, kau juga bisa memesan!" ujar David dan bersandar pada kursinya.
"Baiklah, aku permisi". Lisa menutup pintu ruangan itu dan keluar hendak memesan sesuatu.
Saat Lisa meninggalkan ruangan, David lalu menyeringai. "Dasar Bodoh!".
"Malvin, ini Beefnya!" Miya memberikan kotak makan pada Malvin yang herisikan makanan kesukaannya.
"Kau tidak makan, makanlah sedikit!" Malvin mengaduk-aduk makanannya dan hendak memberinya sedikit pada Miya.
"Tidak usah, aku sudah membawa bekal sendiri, kau makan itu saja. Lagipula aku takkan mau makan itu!" sahut Miya menaruh satu kotak makan lagi di atas meja.
Kali ini kotak itu membuat hidung Malvin dapat menebaknya, dari harum jagung bakar khas itu ia tau itu adalah makanan khas meksiko.
"Itu, Taco kan?" tebak Malvin.
"Wah, bagaimana kau bisa tau kalau ini adalah Taco? Pasti dari wangi jagungnya kan" sahut Miya duduk di samping Malvin.
"Ya, aromanya benar-benar khas kalau itu adalah Taco! Dari mana kau mendapatkan itu?" ujar Malvin membuka kotaknya.
"Ini, aku membuatnya tadi pagi, Rio sangat menyukai Taco jadi aku membuatkannya dan aku juga mengambil sedikit!" sahut Miya tertawa.
"Mm...baiklah kalau begitu, makanlah!" Malvin tersenyum.
"Selamat makan!" ujar Miya.