
Miya turun dari kamar dan tidak melihat satu pun pembantu atau karyawan di bawah, bahkan rumah itu seperti istana kosong tak berpenghuni kalau di lihat dari sudut pandangnya.
Saat itu pula datanglah Malvin ikut turun dan tepat di belakang Miya dan masih memakai handuk putih.
"Kau pikir kau akan di bantu oleh karyawan lain dalam mengurus rumah!" tiba-tiba muncul dari belakang Miya. "Kau akan bekerja sendiri, mulai dari pekerjaan ringan yaitu membersihkan semua isi rumah ini sampai pekerjaan berat yaitu memasak makanan kesukaanku, jika kau mau tau makanan kesukaanku akan ku beri tahu, makanan kesukaan ku adalah 'Beef burguigno' yaitu makanan khas perancis, ingat jika makanan itu salah resep maka itu bisa membuat seseorang yang memakannya akan mabuk karena kadar alkoholnya sangat tinggi, jika kau salah resep aku tidak tahu aku bisa mengendalikan hasratku padamu nantinya!" lanjut kalimat Malvin yang membuat Miya bergetar.
Makanan khas perancis yang mengandung kadar alkohol berlebih!
"Ba...baik, lalu kapan aku bisa beristirahat?" tanya Miya ketakutan.
"Kita lihat saja nanti, sudah bagus aku memperlakukan mu dengan lembut jadi kau tinggal patuh saja!" meninggalkan Miya, dan berjalan menuju tangga.
Miya langsung pada pekerjaannya yang mulai membersihkan seluruh rumah bak istana itu, mulai dari mencuci perabot rumah seperti alat makan, mencuci mobil, mengepel, membersihkan koleksi Malvin yang gemar mengoleksi sepatu, arloji, dan beberapa barang antik super mewah dan mahal, selain itu Malvin memelihara 4 kucing dengan warna yang berbeda dan jenis yang berbeda, kucing-kucing itu harus di rawat dan di beri makan setiap hari. Kucing itu berada di atas atap yang sudah di persiapkan Malvin agar sang kucing tidak kedinginan saat hujan, tidak kepanasan saat musim panas.
Miya selesai dengan membersihkan seluruh rumah dan tinggal memberi makan dan memandikan kucing milik Malvin satu-persasatu. Kucing Malvin sangat bersahabat dan tak bertingkah saat di mandikan apa lagi saat di beri makan. Miya selesai dengan pekerjaannya hari ini kecuali Makan malam Malvin yang ia minta, menyadari hari sudah mulai senja Miya langsung ke arah dapur dan mulai mencari resepnya di monitor dapur khusus masakan, memang rumah ini di berikan kecanggihan tersendiri karena Malvin tidak mampu membereskan semuanya sendiri jadi Malvin menggunakan teknologi untuk membantunya, Malvin memang dari umur 15 tahun sudah hidup sendiri dan menjadi direktur termuda saat itu, sejak Malvin menjadi di rektur di 3 perusahaan dan masih berumur belia, datanglah saudari Malvin di temani oleh kedua orang tuanya.
Kembali kepada Miya yang sibuk memasak, masakan itu siap untuk di makan oleh Malvin tanpa adanya kekurangan menurut Miya, segeralah Miya menyajikannya di atas meja makan dan di panggillah sang pemilik rumah turun untuk merasakan masakan Miya itu.
Miya naik ke kamar memanggil Malvin untuk ke bawah!
"Permisi, makan malamnya sudah siap!" pinta Miya yang berbicara di depan pintu yang masih tertutup rapat.
"Y...ya, aak...aku akan kesana!" suara yang agak buram dan sedikit terisak serta terpatah-patah membuat kebingungan Miya yang sedang mendengarnya.
"An..anu, apa kau baik-baik saja?" tanya Miya lagi memberanikan dirinya!
"Ku bilang aku akan kesana, kau ingin ku hukum, sana pergilah!" jawabnya membentak Miya.
Miya segera turun karena ketakutan akan terjadi sesuatu padanya, ia lebih baik menyediakan apa yang di butuhkan Malvin sekarang.
10 menit berlalu, Malvin belum juga turun dan tak ada kata-kata menyuruh dari dalam kamar, Miya hanya terus duduk di tangga sambil menunggu Malvin turun.
Tidak ada tanda-tanda dari Malvin setelah 20 menit berlalu, Miya lalu berani mengecek keadaannya dengan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
(Tok-tok-tok)
Tidak ada jawaban yang di berikan Malvin, Miya berusaha masuk, saat membuka pintu, pintu tidak terkunci sama sekali, Miya langsung melihat kedalam dan mengintip dan mendapati Malvin sedang di atas ranjang dengan wajah yang penuh keringat sambil terus mengatakan 'ibu'.
Miya mendekati Malvin dan melihatnya, Miya tak berani menyentuhnya karena takut, namun semakin ia membiarkan Malvin seperti itu, Malvin semakin tak karuan dan bahkan menitikkan air mata di sana.
Miya seketika memegang tangan Malvin yang bergetar, Miya kaget merasakan tangan Malvin yang begitu dingin dan basah akan keringat, wajah Malvin mulai memucat, Miya segera ke arah telepon rumah di kamar itu dan...tangan Malvin tidak mau melepas tangan Miya, Miya tak bisa berbuat apa-apa selain di depan ranjang dan tidak berbuat apa-apa sampai....Malvin membuka matanya. Namun Malvin sama sekali tak marah namun hanya berkata :
"Jangan tinggalkan aku, ak...aku kesepian!" ujarnya sambil terus menggenggam tangan Miya yang gemetaran.
"Apa...apa kau baik-baik saja?" tanya Miya memberanikan dirinya.
"Tid...tidak, aku...aku ingin kau di sini itu saja!" Malvin menarik tangan Miya sampai ke dadanya yang membuat Miya semakin gemetaran ketika merasakan dada Malvin yang berdetak sangat kencang dan keras.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Miya lagi.
"Aku mau kau menemaniku, itu saja. Aku tak membutuhkan yang lainnya!" jawab Malvin semakin menarik tangan Miya
"Kau mau aku membuatmu tertidur?" bertanya kesekian kalinya.
"Mmm(mengangguk), aku...aku lelah!" mengangguk dan masih tetap menggenggam tangan Miya.
Miya tanpa pikir panjang langsung naik ke ranjang tanpa melepas tangannya dari Malvin, Miya memindahkan kepala Malvin ke pangkuannya dan meminta izin untuk mengelus kepala nya.
"Apa boleh aku mengelus kepalamu?" meminta izin kepada Malvin.
"Mmm, buat aku tidur" meletakkan tangan Miya ke dahinya.
Miya lagi-lagi terheran-heran merasakan keringat dingin di sekitar dahi Malvin yang menetes kemana-mana.
Miya mulai mengelus kepala Malvin dan bersenandung sekiranya. Malvin mulai tenang dan membuka mata sesekali melihat ke arah Miya dan kembali menutup matanya.
10 menit kemudian, Malvin akhirnya lelap dalam tidurnya dan tidak mengeluarkan keringat lagi. Miya ikut tidur dalam posisi terduduk karena kelelahan.