FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 21: Sekertarisku[Miya]II



"Tapi nona Miya, kami tidak pernah akur sebelumnya, dan aku bahkan tidak mau melihat wajahnya apa lagi bekerja sama dengannya!" ujar Alga membantah.


"Memangnya aku setuju dengan mu, aku tidak akan pernah mau bekerja sama dengannya!" ujar Yugo juga membantah.


"Kalau kalian tidak mau, kita batalkan saja kesepakatan kita, aku permisi!" sahut Miya mulai berdiri.


"Tunggu nona, jangan langsung membatalkannya!" teriak Yugo menahan Miya.


"Baiklah, aku akan memberi kalian kesempatan untuk bicara, jika kalian sudah memutuskannya aku ada di ruangan Direktur Malvin, sampai jumpa, kita akhiri rapat ini!" sahut Miya dan meninggalkan mereka.



Miya kembali keruangan Malvin dan menelpon Rio tentang keadaan Malvin sebelum meninggalkan rumah.


(Panggilan terhubung)


"Rio, saat meninggalkan rumah, apa kak Malvin sudah bangun?" ujar Miya membuka pembicaraan.


"Tidak kak, kak Malvin masih tidur dan tak bergerak sama sekali, kak Malvin sepertinya sangat lelah!" jawab Rio singkat.


"Mmm...apa kau masih di sekolah?" tanya Miya lagi.


"Ya kak, sepertinya sebentar lagi bell akan berbunyi, sudah dulu ya kak, dah!" menutup panggilan.


Setelah menutup panggilan. Datanglah dua kakak beradik itu dan di temani oleh duke. Mereka berdua yang hampir mirip satu sama lain namun tidak akur sungguh membuat Duke kewalahan mengatur mereka.


"Nona, kami sudah memutuskan, kami setuju untuk bekerja sama!" sahut Alga.


"Bagus, aku akan memberi tahu ini kepada Malvin, sebagai hadiah karena kalian telah menyepakati kerja sama kita aku akan menaktrir kalian, ayo kita makan siang! Duke kau juga ikut!"


"Terima kasih nona!" jawab ketiganya bersamaan.


Disisi lain, Malvin terbangun dari tidur panjangnya. Malvin terkejut melihat ke arah jam dinding dan mendapati bahwa ini sudah sangat siang dan sudah mulai measuki sore hari. Ia lalu teringat bahwa hari ini ia ada rapat untuk membicarakan saham perusahaan kepada dua bersaudara itu. Mengapa tidak ada yang membangunkannya?


Malvin lalu bersiap dan pergi ke perusahaan.



Disisi lain Miya sedang makan siang bersama Yugo, Alga dan Duke. Mereka menikmati hidangan dari restoran dekat dari perusahaan mereka.


"Nona, apa nona tidak suka beef?" ujar Duke.


Mereka bertiga sempat memperhatikan dan pada akhirnya tertawa karena kepolosan Miya yang sangat beda dari umurnya.


"Kalian kenapa, apa yang lucu?"sahut Miya jengkel.


"Hahaha....Anda sangat polos nona, tidak semua beef di paris ini mengandung alkohol, pasti yang membuat anda menjauh dari beef adalah tuan Malvin, ku dengar ia sangat menyukai beef khas paris itu, apa itu yang membuatmu menjauhi beef?" jawab Alga tertawa.


"Hum, bagaimana pun aku tidak mau makan beef!" ngambek Miya memalingkan wajahnya. "Aku sudah kenyang, aku akan pulang dan mengecek Malvin, sampai jumpa dan tolong, Duks bisakah anda mengurus perusahaan dulu?" sahut Miya berdiri.


"Ya nona!" ikut berdiri.


"Baiklah semua, saya permisi!" pinta Miya meninggalkan ketiga lelaki itu.


10 menit setelah Miya meninggalkan perusahaan datanglah Malvin dan langsung ke arah Mereka bertiga yang dari tadi tidak meninggalkan tempatnya. Malvin sedikit tidak percaya melihat Yugo dan Alga sedekat itu, bahkan semuanya tau permusuhan mereka. Siapa yang percaya jika mereka bisa se akrab itu.


"Kenapa kalian ada di sini, ayo kita rapat sebelum sore berganti malam, dimana Miya?" tanya Malvin ikut duduk.


"Kami sudah rapat tuan, kami tadi makan siang bersama nona Miya, 10 menit lalu ia sudah pulang!" ujar Duke.


"Kalian rapat bersama Duke?" tanya Malvin lagi.


"Tidak tuan, nona Miya yang memimpin rapat kali ini, kami memutuskan bekerja sama dengan perusahaan Malya, dan itupun karena Miya, aku mengakui sekertaris anda hebat!" ucap Yugo canggung.


Malvin tak menanggapi dan langsung berdiri dari duduknya dan berpamitan untuk ke rumah.


"Duke, tolong bilang kepada pegawai yang lain, besok gajian, namun kau yang akan membagi gajinya, aku tidak akan hadir besok, dan juga saat jam 5 sore kau bubarkan pegawai dan biarkan mereka pulang!" pinta Malvin lalu pergi.



Disisi lain, Miya yang sedang menyiapkan makan malam untuk Rio dan Malvin agar bisa di santap oleh mereka mulai mempercepat aktivitas memasaknya karena kepalanya mulai sakit dan pandangannya mulai berputar.


"Rio, makan malam sudah siap, ayo kemari!" teriak Miya meletakkan makan malam di atas meja sambil memegang kepalanya.


Rio pun muncul. "Kak, kakak kenapa? Kakak sangat pucat. Istirahatlah kak, aku akan mengatur ini, tenang saja!" ujar Rio mendekat.


"Terima kasih, kakak akan istirahat sebentar, jika kak Malvin datang, biarkan dia makan ya! Kakak naik dulu".