FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 12: Bertemu



Keesokan paginya di kampus, semuanya sudah selesai menghias sekolah. Mereka juga membuat beberapa permainan dan membuat kedai kecil di pinggiran lapangan Universitas mereka. Yang tinggal ditunggu adalah tamu kehormatan kita yaitu tuan Malvin Ramon yang belum sampai dari tadi.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dia datang menuruni mobil putih panjang yang melintas di depan Universitas mereka. Semuanya menyambut dengan hangat kecuali Miya dan Sarah yang tidak ikut serta karena mengurus beberapa persiapan lain di ruangan osis.


Malvin di sambut dengan baik, dilayani dengan baik, Malvin juga sempat berbincang bersama para dosen dan staf di sana. Hingga akhirnya acara utama dibuka yaitu meresmikan Universitas ini menjadi Universitas tertua dan tercatat mencetak rekor Universitas paling berjasa dan memiliki mahasiswa terbaik di kota itu. tepat hari ini Universitasnya di beri penghargaan dari presiden dan beberapa gubernur serta dari Malvin sendiri berupa piagam emas asli.


Malvin juga ikut serta bermain, mulai dari basket, lari hingga lain-lain. Mahasiswa di sana begitu takjub akan kemahiran Malvin dalam bidang olahraga terutama soal bermain busur panah, semua yang menyaksikan Malvin benar-benar tak percaya akan kehebatan Malvin, tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi, namun juga dalam bidang olahraga dan bersenang-senang.


Disisi lain Miya yang memperhatikan dari jauh benar-benar jatuh cinta pada senyuman Malvin yang begitu lebar. Miya memang tidak pernah melihat Malvin tersenyum selebar itu saat terakhir kali ia bertemu dengannya. Namun, hari ini, semuanya terbalas dengan senyuman indahnya.



"Miya, ayo kita juga harus bergabung!" Ujar Sarah menepuk pundak Miya.


"Mm...nanti saja, aku akan ke ruang osis sebentar, kepala ku sakit. Ruang UKS sedang dalam perbaikan jadi aku akan istirahat di ruang osis, kau pergilah, dah!" langsung membalikan badan menuju kelas.


Sarah lalu mendekat dan mulai memberi isyarat kepada Malvin agar mendekat.


Malvin mengerti isyarar dari Sarah dan langsung menuju ke arah Sarah selepas bermain.


"Ada apa nona, dimana Miya?" tanya Malvin melihat sekeliling.


"Dia ada di ruang osis, dia sedang istirahat, dia sedikit kelelahan! Tuan ini kesempatan bagus untuk anda untuk mengobrol dengannya!" jawab Sarah menyuruh Malvin menuju ruang osis.


"Mmm...ruang osis ada di lantai mana?" tanya Malvin lagi.


"Di lantai tiga, di samping ruang lab itu adalah ruang osis, naiklah tuan. Saya harus melayani tamu lain!" jawab Sarah lalu meninggalkan Malvin.


"Terima kasih!" ucapnya.



Malvin langsung berjalan kearah atas untuk menemui Miya.


Sesampainya di ruang osis, Malvin melihat Miya sedang tidur dengan posisi terduduk dan wajah ditenggelamkan pada meja panjang di ruangan itu.


Malvin lantas mendekatinya dan duduk di samping Miya sampai menunggu Miya terbangun.


Beberapa menit kemudian, Miya bangun dan terkejut mendapati Malvin sedang duduk dan menatapnya. Sontak itu membuatnya langsung berdiri. Namun, langkahnya lebih dulu dihentikan oleh Malvin dan langsung menariknya kepangkuan dan pelukan Malvin.



"Jika kau berteriak seperti itu kau akan mengundang orang lain kesini. Diamlah!" jawab Malvin membisik.


"Un...untuk apa, untuk apa kau kesini?" tanya Miya.


"Aku ingin kau pulang bersama ku!" jawabnya dengan nada tenang.


"Tapi, aku tidak mau!..." Ujar Miya menolak mentah-mentah.


"Kenapa, berikan aku alasan yang paling meyakinkanku!" tanya Malvin kepada Miya.


"Aku...aku punya adik yang harus kujaga, aku juga harus sekolah, aku tidak mau menyusahkanmu. Selain itu, kau....kau...kau menakutkan!" jawabnya ragu.


"Aku menakutkan? Benarkah?" mengerutkan dahi. "Apa luka di sikumu ini baik-baik saja?" mengubah topik.


"Y...ya, jadi biarkan aku pergi kumohon!" Miya mencoba melepaskan diri.


"Apa kau lupa dengan kontrak kita?, waktunya lima bulan. Aku sekarang mengubah kontak itu jadi, dalam waktu lima bulan aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku, jika aku tak bisa maka kau boleh pergi!" ujar Malvin panjang lebar. "Adikmu bisa tinggal di rumahku juga bukan, fasilitas disana lebih terjamin, dan masalah sekolahmu aku akan membiarkanmu sekolah dan juga bekerja jika kau mau!"


"Ti...tidak, aku tidak mau! Kau akan menyiksaku lagi, aku...aku takut padamu!" memasang wajah murung.


"Kau mau aku mengubah sifat ku? Baiklah akan kulakukan, tapi kau berjanji tidak akan melarikan diri lagi, selain itu pikirkanlah nasib adikmu!" sahut Malvin menjelaskan.


"Tapi...!"


"Tidak ada tapi, aku sudah menelpon Duke untuk mengambil beberapa benda berharga milikmu, aku juga membawa brankas yang ada di apartemen mu itu, dan ini untukmu!" memberi ponsel baru yang mewah.


"Tapi, aku sudah punya ponsel, aku tidak mau!" memalingkan wajah.


"Ponsel butut mu itu sudah aku buang, nomor yang ada di ponsel lamamu sudah ku salin semua kedalam ponsel ini jadi kau harus menerima nya!" meraih tangan Miya dan langsung meletakkan ponsel itu ditangannya. "Jadi kau sudah setuju bukan, jadi kau tidak boleh membantah, adikmu sudah di jemput oleh Duke tadi dan dia sudah di rumah, kau tidak perlu berkomentar lagi. Sebaiknya kau istirahat, aku akan kebawah untuk menyaksikan permainan!"


"Aku ikut!" ujar Miya langsung berdiri.


"Kau sudah Baik-baik saja kan?" tanya Malvin lalu memegang tangan Miya.


"Ya, aku sudah baik-baik saja, ay...ayo ki..kita kebawah!" ujarnya dan langsung melepaskan tangam Malvin dan langsung keluar lebih dulu.