FIRST AND LAST

FIRST AND LAST
Bagian 15: Bekerja lagi



Hari kelulusan/sarjana :


"Duke, tolong temani aku untuk menyaksikan


Miya sarjana, setelah meeting nanti, kau langsung ke ruanganku ya!" ujarnya pada Duke.


"Baiklah tuan, saya permisi dulu saya harus menghadiri meeting hari ini, permisi!" sahut Duke lalu pergi meninggalkan ruangan Malvin.


Malvin sedikit melamun, Malvin terus menanti Miya saat ini. Malvin berpikir untuk semakin memanjakan Miya agar Ia bisa jatuh ke pelukan Malvin dalam waktu dua setengah bulan ini.


Malvin menelpon Miya dan mengabari bahwa ia akan datang sebentar lagi.


(Panggilan terhubung)


"Halo Miya, sebentar lagi aku akan ke sana! Acaranya belum mulaikan?" ucap Malvin dan langsung berdiri dari duduknya.


"Belum, cepatlah oke!" jawab Miya senang.


"Baiklah, aku akan kesana sekarang! Dah sayang!" (menutup panggilan)


Maafin author ya! Author sengaja buat ceritanya lebih cepat karna menurut Author ceritanya akan sangat panjang nantinya, bahkan besar kemungkinan episode dari novel ini bisa mencapai episode 100,jadi Author sengaja percepat ceritanya!


Di sisi lain Miya yang akan segera berpamitan dengan Universitasnya tengah menunggu Malvin datang. Beberapa menit kemudian datanglah Malvin dan langsung menghampiri Miya yang sudah memakai seragam dan siap menerima idjazah nya.


"Maaf, aku terlambat!" ujar Malvin mencium punggung tangan Miya.


"Eh, haha tidak apa-apa! Bisakah kau berhenti melakukan itu?" menarik kembali tangannya dari genggaman Malvin.



Setelah selesai menerima idjazah Miya lalu bertemu dengan Sarah dan Stefan yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Miya, selamat loh!" Sarah memluk Miya.


"Selamat juga untukmu!!" melepas pelukan.


"Hey, kami akan segera bertunangan bulan depan, nanti aku akan mengundang kalian saat kami menikah, hehe!" tawa sinis Sarah menepuk-nepuk pundak Stefan.


"Hah? Kalian akan segera menikah, secepat itu!" ujar Miya heran.


"Apa yang salah dengan itu, aku juga berpikir untuk segera menikahimu!" Sahut Malvin menyelip pembicaraan.


"Haha, tuan benar, kalian harusnya segera menikah! Ya sudah Miya, kami pergi dulu, sampai jumpa!" pinta Stefan menarik Sarah.


Miya dan Malvin sempat bertatapan penuh kebingungan dan dilanjutkan tertawa melihat tingkah laku Sarah dan Stefan.


"Ayo kita pulang, Rio sudah menunggu untuk bertemu denganmu, ayo!" Malvin mengulurkan tangannya kepada Miya.


"Mm...baiklah!" menerima tangan Malvin walau merasa canggung dengan suasananya.


Di dalam mobil mereka berbincang lagi soal perihal pekerjaan Miya yang sempat tertunda dua bulan lalu. Miya mulai bertanya :


"Itu...apa aku harus bekerja denganmu lagi? Bukankah seharusnya aku mencari pekerjaan di tempat lain saja!" tanya Miya tentang pekerjaannya.


"Kau kan sudah berjanji untuk tidak membantah, dan sesuai dengan kontrak juga kau harus tetap bekerja di perusahaanku. Kau harus membantuku, saham perusahaan sudah mulai meningkat drastis dua bulan terakhir. Dan lagi banyak perusahaan yang mau bekerja sama dengan perusahaan Malya Titanium ini!" ujar Malvin menerangkan.



"Hah? 'Perusahaan Malya'? Bukannya perusahaanmu bernama 'Aero Titanium' kau mengubahnya?" jawab Miya bertanya-tanya.


"(Tersenyum) aku sudah menggantinya seminggu yang lalu! Aku menggantinya karena ada sebab tertentu!" mencuri-curi pandang ke arah Miya yang dari tadi berpikir. "Sudahlah, jangan pikirkan itu, sebaiknya pikirkan saja belajarmu tentang dunia bisnis!"


Sampai di rumah, Miya langsung di sambut oleh adiknya yang memegang ponsel di depan teras sambil bermain game kesukaannya. Jujur saja Rio sudah mulai kecanduan bermain ponsel namun, ia tidak pernah meninggalkan pelajaran dan nilai dan juga peringkatnya tidak pernah berkurang, malahan nilainya semakin hari semakin baik dan dia juga bilang itu semua karena ponsel. Ya karena ponsel!


"Kakak, kakak sudah pulang, aku baru saja membeli ice cream tadi, kakak makanlah ice creamnya ada di freezer!" memeluk Miya.


"Terima kasih. Apa kau tidak lelah seharian menunduk karena ponsel?" tanya Miya lalu melepaskan pelukan.


"Tidak juga, gamenya bagus, aku menyukainya!" jawab Rio dingin.


"Huh, dasar kutu game! Cepat masuk, hari sudah mulai siang kau tidak mau istirahat, lihatlah matahari sudah mulai di atas kepalamu!" berjalan masuk meninggalkan Malvin dan Rio. "Oh ya! Malvin, kau tidak mau ice cream?"


"Eh, kau memanggilku?" ternganga.


"Kau tidak mau ya sudah, aku akan menghabiskannya" melangkah masuk ke rumah.


"Eh tunggu, aku mau!" langsung berlari mengejar Miya.


Malvin senang karena Miya sudah mulai membuka hatinya untuk Malvin, Malvin tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas itu hanya untuk mendengar saja. Itulah kenapa ia langsung mengejar Miya begitu tau kalau Miya tengah memanggilnya.