Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Menjaring Sekelompok Ikan



Selembar foto yang ditunjukkan Dave sebenarnya merupakan seorang wanita yang usianya sedikit lebih tua darinya. Itu merupakan kakak angkatnya sendiri.


Selama ini, meski komunikasi Nyonya Jessica dan kakak angkatnya telah lama hilang, dia masih melindunginya diam-diam.


Kakak angkatnya telah berkeluarga sendiri, hidup dengan baik. Berbeda dengannya yang harus selalu mematuhi aturan organisasi dunia bawah.


"Sepertinya orang dalam foto itu sangat berharga bagimu. Yah, hidupnya juga baik, anak-anak patuh dan suami yang penyayang."


Steven mengatakannya dengan nada santai seolah-olah sedang menceritakan sesuatu yang membosankan.


"Kubilang jangan menyentuhnya! Aku ... Aku akan mengatakan apa yang kamu inginkan selama kamu tidak menyentuh hidupnya!" Nyonya Jessica menggertak gigi dengan wajah pucat.


Dia sudah tua dan ekspresi marah serta tak berdaya membuat wajahnya sedikit jelek. Tapi dia tak ada pilihan lain.


Di organisasi, meski dia cukup kuat tapi pasti memiliki kelemahan. Kakak angkatnya adalah kelemahan terbesarnya, kerabat satu-satunya di dunia ini.


Selama dia tinggal di sini, rasanya sangat asing dan kesepian. Saat Nyonya Luff datang pun, itu hanyalah formalitas menjalankan tugas.


"Bagus. Kami tidak pernah mengingkari janji selama yang kami inginkan berhasil didapat. Ceritakan semua yang kamu tahu."


Steven melihat arlojinya. Ia mungkin tidak memiliki banyak waktu untuk hal ini.


Tapi setelah menenangkan emosi, Nyonya Jessica tidak langsung bercerita. Dave sedikit tidak sabar saat melihatnya sedang menunda waktu.


"Jangan buang-buang waktu. Kamu pikir kami hanya berdua saja datang ke sini? Orang-orang yang sedang datang ke sini mungkin sudah dicegat sejak lama," cibirnya seolah tahu apa yang dipikirkan.


Nyonya Jessica terkejut dan mau tidak mau tidak bis memikirkan cara lain. Akhirnya, dia hanya memejamkan matanya sebentar dan menghela napas panjang.


"Ceritanya panjang. Tanyakan saja apa yang kamu butuhkan dariku."


Nyonya Jessica tidak mau bercerita terlalu panjang. Dia sudah tua dan akan melelahkan. Ia merasa tenggorokannya sedikit kering.


"Aku ingin tahu kerja samamu dengan Rodney selama ini," kata Steven.


Terlihat Nyonya Jessica mengerutkan kening, berpikir keras kapan dia mengenal pria itu.


"Aku hanya mengenalnya kurang dari enam tahun," ungkapnya mencoba mengingat lagi. "Setidaknya sejak dia mengincar perusahaan Johnson Del. Lita yang saat ini menjadi istri tuan muda keluarga itu adalah istri sahnya."


"Apakah Rodney dan Lita memang sudah bekerja sama untuk mencuri informasi penting perusahaan keluarga Johnson Del?"


"Ya. Mereka selalu bersama. Aku tidak tahu alasan pastinya tapi aku dapat memastikan jika keduanya selalu terlibat dalam hal-hal seperti ini. Kali ini, Lita memiliki anak dari Rodney untuk meyakinkan Hayler dan bisa memasuki keluarga itu. Karena keduanya tahu bahwa Hayler sangat menginginkan seorang anak, maka ini menjadi kesempatan bagus untuk mereka."


Nyonya Jessica terus berbicara tentang tahun-tahun itu.


Meski pun Hayler dan Yuki saling berdebat dan bertengkar hebat karena misi ini, Steven tak punya pilihan lain.


Ia tahu, orang yang paling dirugikan dalam masalah ini adalah Hayler. Terutama saat Yuki melahirkan anak kembar itu seorang diri, dan mungkin ditemani pria lain.


Bagaimana mungkin Hayler tidak membenci dirinya sendiri.


Sebenarnya, masalah internal keluarga Johnson Del cukup rumit.


Steven ditarik dari pikirannya lagi karena suara tawa Nyonya Jessica.


"Heh, kalian mungkin tidak tahu kenapa Nyonya Luff sangat menyukai Lita bukan? Bahkan jika dia tidak menyukai menantu sebelumnya, tidak mungkin untuk membuat putranya sendiri menceraikan istrinya. Apakah kamu tahu kenapa?" Nyonya Jessica sedikit menyeringai.


Tanpa diduga, Dave mengeluarkan pistolnya sendiri dan menodongkannya ke dahi wanita kuyu itu.


"Kurangi provokasi dan ceritakan saja semuanya!" Dave berkata dengan dingin.


Ekspresi Nyonya Jessica berubah lagi. Kepalanya terasa kesemutan. Akhirnya, dia tidak berani lagi untuk bermain-main dan menceritakan semuanya tanpa ragu.


Barulah setelah itu, Steven berjanji untuk tidak menyakiti keluarga kecil kakak angkatnya. Sementara untuk dirinya sendiri, tentu saja tidak bisa hidup lagi.


Melihat Nyonya Jessica yang telah tak bernyawa akibat luka tembak di dahi, keduanya lega.


"Ketua, orang-orang kami tidak lagi bisa menahan mereka terlalu lama," kata Dave setelah menerima sebuah pesan rahasia dari anak buah yang lain.


"Kalau begitu lepaskan saja. Biarkan mereka datang. Kita selesaikan semua. Jangan sampai ada ikan yang lolos dan mengagetkan Rodney."


"Ya!"


Dave mengangguk. Dia pergi ke lantai bawah untuk memantau situasi. Tentu saja pihak lain pasti sudah curiga jika tindakan mereka setelah diketahui oleh polisi atau pengintai internasional.


Oleh karena itu, beberapa anggota kelompok dunia bawah bergegas untuk mengetahui kondisi Nyonya Jessica.


Mereka tidak berani untuk menghubungi ponsel wanita itu sama sekali. Siapa tahu, sesuatu mungkin akan terungkap.


Kurang dari seperempat jam, dua mobil hitam berhenti di depan rumah Nyonya Jessica. Ada saat itu, Steven dan Dave sudah keluar rumah dan bersembunyi. Keduanya memantau situasi.


Sekelompok pria keluar mobil dan mengetuk pintu rumah Nyonya Jessica. Tak ada jawaban, mereka mencoba membuka pintu sambil memegang senjata api laras pendek.


Tak ada warga di sekitar sana sehingga kejadian itu tak diketahui oleh siapa pun.


Karena saat Dave menembak mati Nyonya Jessica, dia menggunakan peredam suara.