
Steven sama sekali tidak marah atau tersinggung dengan sikap wanita setengah baya tersebut.
"Wanita tua, namaku S," ucap Steven alih-alih menjawab pertanyaan wanita itu.
Nyonya Jessica terdiam cukup lama. Karena pakaian Steven yang terlihat biasa saja, dia jelas sangat curiga.
Tapi ketika Steven mengeluarkan kartu aneh yang hanya diketahui sebagai kecil orang-orang dunia bawah, Nyonya Jessica menghilangkan kecurigaannya.
Kartu di tangan Steven tidak mudah didapat. Hanya beberapa orang internal saja yang mengetahuinya.
Dia sekarang yakin jika pihak lain telah diutus oleh orang itu.
"Masuklah." Nyonya Jessica akhirnya menghela napas ringan.
Steven masuk dengan santai seolah-olah ini hanya pekerjaan yang telah dilakukan berkali-kali. Namun ketika Nyonya Jessica berjalan memunggunginya, ia mengambil kesempatan untuk membuatnya pingsan.
Wanita itu belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan sudah tumbang lebih dulu.
Setelah pingsan, Steven menghubungi rekannya yang masih menunggu di mobil untuk datang.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan membuatnya pingsan? Kupikir kamu hanya akan membuatnya takut saja." Dave, rekan Steven, langsung bertanya ketika dia masuk rumah.
Namun Dave membawa tali. Tentu saja dia tahu ini untuk mengikat wanita itu.
"Siapa yang tahu apa yang ada di rumah ini. Aku akan berkeliling untuk mencari tahu. Kamu bawa dia ke lantai atas dan ikat di kamarnya."
Steven selalu berjaga-jaga. Jadi dia segera berkeliling ke setiap ruangan untuk mencari tahu. Mungkin ada beberapa kamera tersembunyi.
Untungnya, rumah itu tidak terlalu banyak barang. Namun ada beberapa kamera pengawas di beberapa sudut tertentu.
Steven menghindari kamera pengawas dan mematikan sambungan listrik di rumah tersebut. Kemudian, dia juga mencabut semua kabel kamera pengawas untuk mencegah hal-hal di luar dugaan.
Baru kemudian dia pergi ke tempat Dave berada. Nyonya Jessica diikat ke salah satu kursi kayu yang ada di kamar. Dia belum siuman.
"Aku tidak menyangka jika wanita yang terlihat biasa saja ini adalah salah satu komplotan Rodney." Dave mengerutkan kening. "Apa posisinya di kelompok dunia bawah?"
Dunia bawah hanyalah sebutan untuk sekelompok orang yang melakukan tindakan ilegal atau kejahatan. Mereka berkelompok dan membuat susunan posisi tertentu.
Steven menggelengkan kepala. "Kali ini kita akan tahu setelah menanyainya. Tapi kita tampaknya tidak memiliki banyak waktu. Ada beberapa kamera pengawas di rumah ini dan letaknya tidak biasa. Kemungkinan besar Nyonya Luff sendiri tidak tahu adanya kamera pengawas saat berkunjung ke sini."
"Mengintai gerak-geriknya?"
Steven mengangguk. "Aku semakin yakin jika wanita bernama Sonya itu tahu tentang ini juga."
Keduanya tidak mau menunggu lebih lama jadi Dave mengambil segelas air putih, memercikkan sedikit ke wajah Nyonya Jessica.
Tak lama, wanita berusia lebih dari setengah baya itu mengerutkan kening perlahan. Lalu kesadarannya pulih sedikit demi sedikit.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya benar-benar tidak ramah.
Steven dan Dave tidak langsung bicara. Melihat interior kamar yang sederhana, tampaknya ini bukan rumah permanen yang akan ditinggali oleh Nyonya Jessica.
Memang, sebagai anggota dunia bawah, tidak mungkin untuk menetap di suatu tempat dengan tenang.
Alih-alih menjawab pertanyaan nyonya Jessica, Steven justru mengatakan sesuatu.
"Sebagai anggota dunia bawah, kamu cukup pintar."
Pikiran Nyonya Jessica tenggelam. Sepertinya bukan hanya itu saja yang diketahui oleh pria itu.
"Sayangnya, Rodney sendiri tidak akan jauh dari kematiannya di masa depan," imbuh Steven.
"Kamu—" Nyonya Jessica mengangkat kepalanya dan menatap Steven, kaget. "Bagaimana kamu tahu tentang dia?"
Bukan masalah nama atau sesuatu, tapi identitas Rodney sendiri. Selama ini, Rodney tidak pernah menggunakan nama samaran apa pun. Itu semua untuk menghilangkan kecurigaan.
Jika Rodney terus berpindah-pindah tempat dan menggunakan nama palsu, prosesnya rumit. Jadi dia lebih suka menggunakan cara biasa tapi tidak meninggalkan bukti bahwa dirinya adalah penjahat.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku dan bagaimana aku tahu tentang Rodney, tapi dia duduk terlalu lama menjadi buronan internasional. Kamu tidak mungkin jika tak mengetahuinya, bukan?" Steven menaikkan sebelah alisnya.
Nyonya Jessica tidak langsung membalas kata-katanya. Dia memikirkan beberapa hal tentang masa lalu. Rodney memang penjahat yang cerdik.
Di kelompok dunia bawah, dia terkenal dengan kelicikannya saat melakukan sesuatu. Hingga akhirnya menjadi kecanduan.
Namun siapa yang tahu jika saat ini, sekelompok orang telah mengetahui gerak-geriknya dengan baik.
Itu artinya, rencana Rodney gagal.
"Lalu apa yang kalian inginkan dengan menangkapku?"
Nyonya Jessica mengetahui dirinya mungkin tak akan bisa selamat hari ini. Namun setidaknya dia harus bertanya dan mengulur waktu untuk mencari tujuan mereka.
Ia sedang menunggu seseorang.
"Wanita tua, mari kita bicarakan bisnis."
Dave tersenyum dan mengeluarkan selembar foto yang tidak terlalu kecil.
Ketika Nyonya Jessica melihat siapa yang ada dal foto itu, wajahnya menjadi pucat. Dia pun meronta-ronta seperti orang gila.
"Jangan coba-coba menyentuhnya! Jika tidak, orang-orang di dunia bawah tidak akan membiarkan kalian hidup!!" teriaknya sedikit serak. Matanya juga sedikit memerah.