Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Melakukan Panggilan



Yuki menghampiri mereka. Si kembar menyapa Nobu dan Mirain dengan sopan. Nobu tidak peduli dengan sopan santun mereka. Dia hanya ingin mencubit pipi si kembar. Tapi Valley lebih pintar dan segera menghindar. Sedangkan Shirley hanya bisa pasrah.


"Little Shirley, kita bertemu lagi. Apakah kamu merindukan Bibi Nobu?"


"Rindu!" Shirley sangat pintar untuk menyenangkan pihak lain.


"Bagus, bagus! Ayo makan seafood. Bibi akan mentraktir kalian."


Mereka semua segera memasuki restoran seafood dan pergi ke kotak pribadi yang telah dipesan. Shirley dan Valley sangat suka dengan udang dan lobster.


Keduanya tidak bisa makan sendiri karena khawatir cangkang udang atau lobster melukai tangan. Jadi, Nobu dan Mirain yang awalnya ingin mengobrol sambil makan, tiba-tiba saja berubah jadi babysitter gratisan.


Awalnya mereka ingin membahas tentang percakapan sore tadi. Tapi karena si kembar ada di sini, topik itu sepertinya kurang tepat. Jadi mereka hanya membicarakan seputar pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.


"Sudah lama kita tidak pergi ke pantai. Bagaimana jika kita bersantai?" Mirain memberi ide.


"Ya, ide bagus. Kita bisa menginap dan melihat matahari terbenam. Lalu berenang dan berjemur di pantai." Nobu juga mengangguk.


Yuki berpikir sebentar, merasa ide itu tidak buruk. "Baiklah. Tapi tunggu aku menyelesaikan beberapa pekerjaan di perusahaan. Aku tak bisa pergi sesuka hati begitu saja."


"Serahkan saja pada asisten kepercayaan ayahmu itu. Siapa namanya? Loah?" Nobu pernah melihat Asisten Loah sebelumnya. Dia adalah pria muda yang berbakat.


"Aku tahu itu. Jangan khawatir."


Shirley dan Valley hanya menyimak. Dan keduanya juga ingin pergi ke pantai. Keduanya diam-diam ingin bertemu dengan Hayler sebenarnya. Tapi pria yang kemungkinan besar adalah ayah kandung mereka mungkin jarang bepergian ke tempat seperti itu.


Jadi bagaimana agar mereka bisa bertemu secara tidak sengaja?


"Bu, aku mau ke toilet," kata Valley.


"Apakah kamu ingin buang air kecil?" Yuki bersiap untuk mengantarnya ke sana. Tapi Valley menggelengkan kepala.


Anak itu menatap Nobu. "Aku ingin diantar Bibi Nobu," katanya.


Yuki sedikit kesal. "Kamu ini, Nak! Bagaimana bisa kamu merepotkan orang?"


"Tidak, tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku akan senang hati mengantarnya." Nobu buru-buru menyetujui. Dia juga ingin ke wastafel untuk memeriksa riasannya.


"Kalau begitu pergilah." Yuki menatap Valley dan menyipitkan mata. "Jangan berkeliaran, apakah kamu tahu?"


"Aku tahu!" Valley cemberut.


Keduanya segera pergi. Shirley tidak tahu niat kakaknya pergi ke toilet. Tapi sepertinya bukan untuk buang air kecil. Dia tidak mau peduli dan sibuk dengan udang yang telah dikupas oleh ibunya.


...----------------...


Karena masih anak-anak, tidak masalah jika Valley pergi ke toilet wanita. Dia masih ke salah satu bilik toilet dan meminta Nobu menunggu di luar.


"Kalau begitu Bibi tunggu di depan. Jika ada apa-apa, panggil Bibi. Jangan malu," katanya.


Valley mengangguk. Setelah Nobu pergi menuju wastafel, anak itu mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Baik dia ataupun Shirley memiliki ponsel untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi.


Dia mengetik sederetan nomor ponsel orang yang tak dikenal, lalu meneleponnya. Tak lama kemudian, panggilan terhubung dan suara pria terdengar dari seberang telepon.


"Halo, ini Asisten Brim. Maaf, siapa Anda?" Suara pihak lain tampak biasa.


Valley tidak menjawab untuk sementara waktu. Dia agak bingung tapi masih bertanya. "Apakah kamu kenal Hayler?" tanyanya agak berbisik.


Sedangkan di seberang telepon ....


Brim yang menunggu Hayler selesai rapat pun terkejut. Suara anak kecil.


Bagaimana tahu nomor teleponnya?


Meski begitu, dia tidak meremehkan pihak lain karena khawatir ada sesuatu yang tak terduga.


Karena pihak lain sepertinya tidak berniat membicarakan bisnis, Brim juga santai. Tapi penasaran.


"Dia bosku. Anak kecil, bagaimana kamu tahu bosku?"


"Tidak tahu." Anak itu menjawab dengan polos.


"Lalu siapa namamu?"


"Tidak perlu tahu!"


"..." Anak itu sangat sombong, batinnya.


"Apakah bosmu orang yang ... baik?" tanya Valley di seberang telepon.


Brim merasa aneh. "Tentu saja ... lumayan." Dia mengangguk, ragu untuk menggosipkan Hayler. "Tapi anak kecil, kenapa kamu menanyakan dia?"


"Tidak perlu tahu."


"..." Brim menyerah untuk bertanya lagi. Sebelum dia mengatakan sesuatu, panggil telepon ditutup secara sepihak.


Brim menatap layar ponselnya. Rasa penasarannya semakin besar. Dia ingin tahu siapa anak laki-laki yang meneleponnya dengan berani. Bahkan tahu nomor teleponnya. Walaupun ia tahu bahwa nomor teleponnya tertera di sebuah situs perusahaan mereka.


Tapi ... bisakah anak kecil membuka internet dan berselancar di situs web mereka?


Atau ada seseorang yang menginstruksikannya untuk memeras uang?


Ketika Brim sedang berpikir, Hayler keluar dari ruang rapat dengan sekretaris barunya.


"Ada apa denganmu?" Hayler menaikkan sebelah alisnya.


Brim pulih kembali dari pikirannya. "Seorang anak baru saja menelepon ku dan menanyakan namamu."


"Anak-anak?" Hayler jelas tidak percaya.


"Aku tidak berbohong. Dia jelas menanyakan apakah kamu orang baik atau bukan."


Pertanyaan itu sebenarnya agak konyol. Hayler tidak aku mengabaikannya. Tapi kemudian ponsel Brim berdering lagi. Masih dari nomor yang sama terakhir kali.


Brim ingin menjawabnya tapi tiba-tiba saja Hayler mengambil alih.


Ketika Hayler yang menjawab telepon, dia langsung berkata dengan nada tegas. "Panggilan iseng yang mengganggu bisa dilaporkan ke polisi. Bicaralah, apa tujuanmu?!"


Pihak lain di seberang telepon cukup terkejut. Kali ini sepertinya bukan orang yang sama.


"Kamu sangat galak! Apakah kamu Hayler?"


"Ada apa mencariku?" Hayler benar-benar tidak berniat bicara serius dengan anak kecil.


"Hanya ingin tahu."


Hayler terkekeh. "Nak, keingintahuanmu bisa membuatmu mati. Apakah kamu yakin kamu ingin mengenalku atau ibumu yang ingin mengenalku?"


"Hmmph! Ibuku pasti tidak ingin mengenalmu. Kamu orang jahat!"


Panggilan telepon diputus lagi oleh pihak lain. Wajah Hayler hampir hitam saat dimarahi anak itu. Tapi dia tidak mengerti apa yang dimaksud pihak lain.


Tiba-tiba meneleponnya dan berkata dia jahat?


Keberaniannya sungguh besar.


Hayler menyerahkan ponsel pada Brim. "Cari tahu tentang pemilik nomor ini dan semua tentang identitasnya."


"Ya." Brim mengangguk.


Hayler berjalan ke arah kantornya dan sekretaris sudah lama pergi untuk mengurus pekerjaan lain. Ia merasa pihak lain tidak asing. Seperti ada kedekatan yang tak terkatakan. Tiba-tiba saja dia ingin melihat si kembar.


Dia juga ingin bertemu dengan mereka untuk memastikannya secara langsung. Tapi masalahnya, Yuki tidak boleh tahu. Jika tidak, wanita itu akan menganggap dirinya sengaja mendekati si kembar untuk dijadikan ancaman.


Pikiran wanita itu lebih tajam daripada beberapa tahun lalu. Ia diam-diam menghubungi seseorang untuk mengetahui semua keseharian Yuki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Valley yang baru saja menutup telepon, sepertinya sangat gugup. Suara pria itu tidak ramah dan sangat galak. Bahkan berani mengancamnya.


Mungkin kakeknya benar, ayah kandungnya itu pasti baji*gan. Tidak mungkin dia memiliki ayah seperti itu.