
Hayler menjelaskan tentang penelitian yang dilakukan oleh Carlos. Obat tradisional yang selama itu dikonsumsi Yuki mengandung khasiat mencegah kehamilan. Ini bahan yang sering digunakan pada masa kekaisaran Tiongkok di masa lalu.
Sekarang Tuan Johnson Del harus percaya jika semua itu benar. Nyonya Luffs bukan hanya memberikan obat pencegah kehamilan pada Yuki tapi juga sengaja ingin membuat keduanya bercerai.
Tuan Johnson Del merosot di punggung sofa, mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tampak sangat lelah.
“Hayler, masalah tentang ibumu, kamu tidak perlu mengurusnya. Ayah sendiri yang akan mengurusnya. Lalu … kenapa ibumu ingin bertemu dengan Yuki? Apakah karena kedua anak itu?”
Hayler mengangguk. Tapi dia tidak memberi tahu ayahnya jika Valley dan Shirley adalah anak kandungnya sendiri.
“Apakah kamu masih berhubungan dengan Yuki?”
“Aku mencintainya,” jawabnya jujur.
“Kenapa kamu selingkuh jika kamu mencintainya? Kamu tidak akan menceraikan Yuki hanya karena masalah warisan keluarga. Sekarang kamu sudah bersama Lita dan punya anak, tidak mungkin kembali ke masa lalu,” jelas Tuan Johnson Del memperingatkannya lagi.
Hayler terdiam soal ini. Tapi kedua tangannya mengepal. Si kembar itu miliknya dan harus menanggung identitas sebagai anak tanpa ayah sejak lahir. Bukankah lebih menyedihkan?
Namun Hayler tidak berniat memberi tahu ayahnya jika anak Yuki adalah miliknya sendiri. Dia berniat meninggalkan ruang belajar keluarga. Tapi mendengar ayahnya kembali berkata.
“Jangan mengabulkan apapun yang diminta ibumu di masa depan. Dia sudah tidak layak lagi menjadi ibumu,” kata Tuan Johnson Del.
Hayler tertegun. “Apakah Ayah benar-benar akan ….”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayler dan Nyonya Luffs pergi ke rumah sakit untuk menjemput Lita. Tentu saja Lita senang karena Hayler sudah kembali. Apa lagi kini bersama Nyonya Luffs. Hayrus juga senang melihat ayahnya datang.
“Ayah!” Anak itu berlari menuju Hayler.
Hayler memeluk dan menggendongnya. “Apakah masih sakit?” tanyanya lembut.
Hayrus menggelengkan kepala. Lita menghampiri Hayler. “Dia sangat merindukanmu. Kupikir kamu tidak akan pulang cepat.”
“Pekerjaanku tertunda sementara waktu. Aku akan kembali ke perusahaan besok,” kata Hayler, menatap Lita sedikit berarti.
Nyonya Luffs memandang keduanya dengan harmonis, akhirnya menghela napas lega. Ia sepertinya melakukan sesuatu yang benar bukan? Lita lebih cocok dibandingkan wanita itu.
Mereka segera pulang dan merayakan kesembuhan Hayrus. Anak itu sudah makan sebelumnya dan kali ini sedikit mengantuk. Lita menidurkan Hayrus lebih dulu sebelum akhirnya makan malam bersama yang lain.
Setelah makan malam, Hayler kembali ke kamar dan mandi. Lita sudah menunggunya untuk menanyakan sesuatu. Ketika pria itu keluar dengan jubah mandi, jantung Lita berdetak kencang. Pria itu sangat sempurna dari sudut mana pun.
Seandainya ia bertemu dengan Hayler lebih awal, mungkin keduanya sudah hidup bahagia sejak lama.
Lita menghampiri Hayler dan membantunya mengeringkan rambut. “Hayler, kita sudah lama tidak bersama. Aku merindukanmu malam ini,” katanya malu-malu.
Lita memakai baju tidur seksi malam ini dan memeluk pria itu. Pandangan Hayler tampak dalam tapi dia membalas pelukannya. Pada akhirnya, Hayler tersenyum dalam.
“Aku juga merindukanmu Lita.”
Hayler melepaskan pelukan wanita itu dan duduk bersandar di tempat tidur. Melihat bahwa Hayler tidak menolak pendekatannya, Lita menjadi bersemangat. Ia mulai merayunya di tempat tidur sama seperti yang selalu ia lakukan sebelum Hayler bercerai dengan Yuki.
“Hayler, bagaimana jika kita biarkan Hayrus memiliki adik? Aku ingin memiliki anak perempuan,” katanya.
Hayler menatap Lita dan mengerutkan kening. “Hayrus masih kecil. Mari tunggu sampai dia masuk sekolah dasar,” ucapnya.
Jika suatu hari nanti Rodney ketahuan dan menyeretnya ke dalam masalah, Hayler tidak akan menyalahkannya terlalu banyak. Dengan memiliki anak sendiri, rasanya lebih terjamin. Tapi Hayler jarang pulang dan sibuk dengan pekerjaannya selama ini.
Lita juga curiga jika Hayler masih memiliki perasaan dengan Yuki. Perasaan wanita selalu sangat kuat. Ia mengambil ponselnya dan bersandar di dada Hayler dengan mesra.
“Sayang, ayo ambil foto dan posting. Sudah lama kita tidak mengambil foto. Beberapa orang bertanya-tanya apakah kita bertengkar dan sejenisnya.”
Melihat fitur kamera dihidupkan, Hayler tak bisa menolak. Ia memakai jubah mandi longgar sedangkan Lita memakai piyama seksi. Keduanya tampak ambigu dan mesra saat di foto.
Lita segera mengirimnya ke momen dengan kata-kata yang penuh cinta. Setelah itu, dia meletakkan ponselnya dan mencoba membakar gairah Hayler. Dia duduk di pangkuannya dan mencoba untuk menciumnya namun Hayler mengelak.
Meski begitu, Hayler tidak membiarkannya berpikir terlalu banyak dan mengeluarkan lilin aromaterapi dari laci meja nakas.
“Kenapa mengeluarkan aromaterapi lagi?” tanya Lita agak aneh.
“Akan lebih menyenangkan jika suasananya lebih kuat lagi, bukan?”
Lita merasa tubuhnya semakin panas saat ini. Hayler memang selalu berhasil membuatnya mabuk setiap kali memakai aromaterapi. Ia juga merasa lebih bersemangat dan sangat menikmatinya.
Oleh karena itu ketika lilin aromaterapi dinyalakan, Lita mulai merasa pusing dan panas. Ini jelas efek pil biru.
“Hayler, aku sangat panas.” Lita mulai membuka piyama seksinya.
Tapi tak lama kemudian, tubuhnya lemas hingga setengah pingsan. Pandangannya kabur saat ini. Ia jatuh ke pelukan Hayler.
Hayler sama sekali tak bereaksi saat ini. Dia menyingkirkan tubuh Lita ke samping dengan hati-hati lalu bangkit dari tempat tidur. Ia membuka jendela besar yang ada di kamar itu. Seseorang ternyata sudah menunggunya di sana, memunggunginya.
“Masuklah dan lakukan seperti biasanya.”
Pria yang menunggu di balkon kamar itu berbalik. Penampilannya sama seperti Hayler, hampir mirip meski hanya memakai topeng kulit manusia. Pria yang hampir mirip dengan Hayler memiliki ekspresi acuh tak acuh.
“Aku sudah memeriksa informasi tentang Rodney itu. Dia memang dicurigai sebagai tersangka. Karena dia datang ke perusahaanmu, maka biarkan dia masuk dsn lihat rencana selanjutnya," kata pria itu.
Hayler menaikkan sebelah alisnya. "Tidak masalah."
Pria yang mirip dengan Hayler itu segera masuk dan melakukan apa yang harus dilakukan. Kini giliran Hayler sendiri yang menunggu di balkon kamar, menyalakan sebatang rokok dengan tenang.
Apa yang terjadi di kamar itu, dia tidak peduli. Yang dia pikirkan saat ini, tentu saja merindukan Yuki.
"Yuki ...," gumamnya.
Tak lama, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Valley membuatnya sedikit senang. Namun isi pesan itu membuatnya tak bisa berkata-kata.
Valley melampirkan foto dan menulis sesuatu.
—Apakah dia istrimu? Kamu buta.
Sudut mulut Hayler berkedut ringan. Dari mana anak itu belajar tentang kata-kata tersebut?
Heh! Dia memang buta, bukan? Jika tidak, dia tidak akan mencersikan Yuki demi Lita. Tapi ... Apa gunanya sekarang? Meskipun ada sesuatu yang dirinya sembunyikan, namun perselingkuhan itu memang nyata pada akhirnya.
Hayler membalas pesan itu tanpa terburu-buru.
—Anak-anak harus tidur lebih awal. Jangan berpikir seperti orang dewasa.