
Setelah makan malam, si kembar belajar sebentar di kamarnya. Sedangkan Yuki membahas sesuatu dengan Hayler di kamar lainnya. Pria itu memeluk Yuki dan mencium pipinya dengan lembut.
"Kamu telah dianiaya hari ini. Maafkan aku. Bertahanlah sebentar lagi sebelum semuanya terbongkar," jelas Hayler mencoba untuk menenangkan hati Yuki yang masih kesal saat ini. "Anak kita bukan anak liar, okay? Mereka anak-anakku," imbuhnya.
"Aku tahu." Yuki mendesah tidak berdaya.
Hayler mencium keningnya. "Omong-omong, aku sudah menemukan dokter yang cocok untuk merawat kondisi Shirley. Apakah kamu tertarik dengan ini?" tanyanya.
"Dokter? Apakah kamu menemukannya? Bukankah itu sulit?" Yuki terkejut meski Hayler sebenarnya sudah menceritakan hal ini sebelumnya. "Apakah dokter itu mampu diandalkan?"
"Tentu saja dapat diandalkan. Namanya dokter Georgie. Dia setuju untuk datang dan merawat Shirley sampai sembuh."
Putri memiliki penyakit anemia aplastik. Ini bukan penyakit kecil yang sederhana. Bagaimana pun juga, Hayler tidak ingin Yuki kepikiran tentang masalah ini sehingga dia meringankan bebannya.
Dengan bantuan Georgie nanti, Shirley bisa dirawat secara bertahap. Jika putrinya butuh transfusi darah, ia juga siap memberikannya. Bahkan jika menginginkan sum-sum tulangnya sekalipun, Hayler tidak akan ragu untuk memberikannya.
"Bagus kalau begitu. Aku berharap dia bisa sembuh dan bermain seperti anak-anak kebanyakan. Aku merasa sedih saat melihatnya hanya bisa bermain sendiri di rumah bersama Valley. Valley bahkan enggan bermain dengan anak-anak lain karena khawatir adiknya akan sedih," jelas Yuki mulai menitikkan air mata.
Hati Hayler seperti diremas kuat. Yuki khawatir Shirley akan terluka dan mengalami infeksi. Jika mengalami pendarahan sulit untuk menghentikannya.
"Jangan khawatir, denganku di sini, semuanya akan baik-baik saja." Hayler memeluknya.
Percikan api cinta muncul di antara keduanya. Hayler menginginkan Yuki malam ini hingga ia tidak sabar untuk mencium bibirnya dalam-dalam.
Kedua situasinya semakin tak terkendali, Hayler membuka resleting gaun yang dikenakan Yuki. Baru saja hendak mulai menyalurkan hasrat satu sama lain, ketukan pintu dari luar kamar menyadarkan keduanya.
"Ibu, Ayah, apakah kalian di dalam? Kami sudah selesai mengerjakan PR." Suara Valley terdengar.
Hayler mendengkus, merasa kesal. Ia membenarkan pakaiannya dan membuka pintu kamar. Sedangkan Yuki sendiri hanya tersenyum kecil ketika melihat raut wajah Hayler yang tampak marah karena kesenangannya diganggu.
Ketika pintu dibuka, Valley dan Shirley langsung menerobos masuk dan naik ke tempat tidur. Malam ini keduanya akan tidur dengan Yuki dan Hayler.
"Kalian ...!" Hayler sangat tidak berdaya. Kedua anak ini cukup menyebalkan ketika mengganggu kesenangan orang dewasa.
Yuki menggelengkan kepala. "Ini waktunya mereka tidur." Ia memandang keduanya. "Baiklah, berbaring dan pakai selimut. Ibu akan menceritakan kisah domba yang menipu serigala ...."
Shirley dan Valley tidur di tengah. Sementara Yuki dan Hayler berada di sisi berlawan, menjaga kiri dan kanan. Tapi Hayler tak bisa memeluk Yuki karena ada anak-anak menghalangi.
Yuki mulai bercerita tentang domba yang menipu serigala di hutan. Dongengnya cukup panjang hingga di keduanya bertanya berulang kali. Hingga akhirnya, keduanya lelah sendiri tertidur pulas ketika Yuki belum selesai bercerita.
Melihat keduanya tidur, Yuki membenarkan selimut dan mencium kening keduanya. Lalu matikan lampu tidur. Kegelapan menyelimuti seisi kamar.
Saat ini Hayler belum tidur dan bangkit dari tempatnya perlahan agar tidak membuat kedua anak itu terjaga.
"Sayang, ayo pergi ke kamar sebelah," bisik Hayler tidak tahan.
"Tidakkah kamu akan tidur? Untuk apa pergi ke kamar sebelah?" Yuki sebenarnya bersiap untuk tidur juga. Namun Hayler menariknya dari tempat tidur.
"Lanjutkan yang tadi."
"Kamu gila!" Yuki memelototinya dalam gelapnya kamar. Namun setidaknya masih ada cahaya remang-remang masuk dari luar jendela.
Mau tidak mau, Yuki juga bangun. Keduanya meninggalkan kamar diam-diam dan menutup pintu sepelan mungkin. Ketika tiba di kamar tamu, Hayler segera mengunci pintu dan memojokkan wanita itu, lalu menciumnya dalam-dalam.
Kali ini Hayler tidak menahan diri lagi. Secara alami melepaskan pakaian dan keduanya sibuk di tempat tidur. Meski begitu, Yuki tetap menjaga suaranya agar tidak terlalu keras.
Waktu berlalu dan keduanya kelelahan. Yuki bersandar di tubuh Hayler dengan tubuh berkeringat. Sementara Hayler tak jauh lebih baik darinya. Namun ada kepuasan di wajahnya yang tidak bisa hilang.
"Apakah kamu masih menginginkannya?" tanya Hayler.
Hayler adalah mantan suaminya saat ini. Keduanya sering berkumpul diam-diam. Kadang Yuki merasa bersalah atas semua ini. Namun karena kata-kata Hayler yang memintanya untuk tidak khawatir, ia pun mencoba untuk tenang.
"Jika aku benar-benar tidak bisa punya anak, apakah kamu masih mau bersamaku?" tanyanya tiba-tiba.
Hayler mengerutkan kening. "Tentu saja. Kenapa pertanyaanmu begitu aneh? Bahkan jika tidak ada anak, kita bisa mengadopsi satu."
"Tapi orangtuamu tak akan setuju untuk melakukan itu."
"Ini hidupku. Mereka tidak bisa mengaturnya jika mau."
"Bukankah itu artinya kamu akan kehilangan posisi di perusahaan?"
Tanpa diduga, Hayler terkekeh. "Dulu aku memang menginginkannya. Tapi aku sadar semua itu hanyalah cangkang kosong. Hidupku kesepian tanpa dirimu. Jujur saja, aku menyesal menyetujui permintaan Steven untuk bekerja sama."
"Tapi ibu mu ...."
"Kondisi ibuku sedikit istimewa. Aku akan mengatakannya di masa depan." Hayler mengelus kepalanya.
Ia segera membalikkan tubuh Yuki sehingga dirinya yang kini di atas. Setelah cukup beristirahat, keduanya siap untuk bekerja keras lagi malam ini.
Hayler tidak sabar untuk menikmati setiap gerakannya malam ini. Ketika Yuki merasakan sesuatu memasuki tubuhnya lagi, kedua tangannya merangkul leher pria itu.
"Hayler ...," bisiknya lemah.
Pria itu mencium bibirnya sekilas. "Sayang ... Aku mencintaimu."
"Kamu tidak memakai pengaman sekarang," kata Yuki sedikit khawatir. "Pakai dulu."
"Tidak, rasanya tidak nyaman. Jangan pakai kali ini. Bukankah kamu sendiri suka jika aku tidak memakai pengaman?" godanya.
"Aku tidak mau hamil saat ini."
"Jangan khawatir, aku mengontrol diri."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Shirley dan Valley bangun pagi. Keduanya mendapati Hayler dan Yuki masih tidur pulas di sisi kiri dan kanan. Namun Shirley suka memeluk ayahnya sehingga Hayler terbangun gara-gara anak itu.
"Pagi, my little princess," ucap Hayler ketika melihat putrinya sudah bangun.
"Pagi, Daddy!"
Hayler memeluknya. "Tidurlah lebih lama. Ini hari libur."
Semalam dia dan Yuki bersenang-senang hingga larut malam. Wanita itu kelelahan sekarang. Jadi jangan biarkan si kecil mengganggunya.
Shirley juga masih mengantuk. Kakaknya juga tidur kembali, memeluk ibunya seperti koala. Seberapa enggannya Hayler membiarkan anak itu menyentuh istrinya, ia tak bisa egois. Setidaknya, ia masih memeluk putrinya.
Tak lama, ponselnya berdering. Nama ayahnya tertera di layar. Hayler menjawabnya tanpa ragu. Keduanya bicara selama beberapa saat mengenai pertengkarannya dengan Lita.
Rupanya wanita itu menelepon ke rumah orangtuanya untuk mengadu.
"Ayah, siapa yang menelepon?" tanya Shirley yang baru tidur kembali, sedikit terganggu karena suara Hayler terdengar di sampingnya.
Di seberang telepon, Tuan Johnson Del terkejut. Suara anak perempuan memanggil Hayler dengan sebutan 'ayah'.