Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Siapa yang Menghamilimu?



Lita menyaksikan Hayler keluar kamar dan menutup pintu dengan lembut. Dia duduk di tempat tidur, mulai mengirim pesan pada Rodney. Dia sengaja menyimpan nomor Rodney dengan nama samaran sehingga tak akan ketahuan.


Intinya, Lita ingin meminta anak buah Rodney untuk mengintai Hayler selama beberapa hari ke depan. Terlebih lagi, lihat wanita mana yang bersamanya.


Sementara itu di ruang kerja, Hayler rebahan di sofa. Ia masih sempat mengirim pesan pada Steven untuk melakukan rencana selanjutnya. Tak menunggu lama, Steven meneleponnya.


"Dia pasti akan mengirim seseorang untuk mengintaimu besok. Jika Yuki dan kedua anakmu ingin selamat, lebih baik tidak saling bertemu lebih dulu." Suara Steven di ujung telepon seperti bos yang memerintah bawahan.


Sudut mulut Hayler sedikit berkedut. "Tidakkah kamu merasa jika nada bicaramu seperti penculik yang meminta uang tebusan?"


"Oh, mungkin." Tanpa diduga, Steven tertawa. "Baiklah, jangan khawatir tentang ini. Aku akan meminta mata-mata wanita untuk berpura-pura menjadi pasanganmu."


"Yuki akan salah paham lagi denganku nanti." Hayler tidak mau mengambil risiko dicap sebagai playboy.


"Jangan khawatir, wanita yang ku undang ini tak tertarik sama sekali dengan pria. Ia suka wanita."


"Kamu gila!"


Hayler mengakhiri panggilan secara sepihak. Kemudian dia mengirim pesan pada Yuki agar tidak khawatir selama beberapa hari ke depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari ke depan, Yuki sedikit bingung saat memeriksa dokumen. Dia mendapatkan pesan dari Hayler untuk tidak bertemu akhir-akhir ini. Tidak dijelaskan apa yang terjadi, tapi dia berkata ada hubungannya dengan Lita.


Namun semalam, dia mendapatkan pesan dari Nobu jika Hayler jalan dengan seorang wanita seksi. Merangkul lengan Hayler dan berjalan-jalan menikmati hari.


Nobu ingin tahu sikap Yuki terhadap masalah ini. Namun siapa tahu, Yuki tidak mengatakan apa-apa. Mungkin Lita curiga jika Hayler selingkuh sehingga meminta seseorang untuk membuntutinya.


"Tidakkah kamu khawatir jika pria itu berkhianat lagi?" tanya Nobu saat dia datang ke kantor Yuki dengan alasan urusan penting.


"Tidak apa-apa. Dia sudah memberitahuku sebelumnya," jawab wanita itu merasa lelah.


Hubungan seperti ini, bukan sesuatu yang diinginkannya. Tapi harus bagaimana lagi? Dia tak bisa memaksakan Hayler untuk melakukan hubungan terbuka dengannya. Yuki tidak ingin anak-anaknya terpengaruh karena masalah tersebut.


Jadi daripada memikirkan masalah ini, lebih baik untuk membiarkan Hayler menyelesaikan tugasnya. Sisanya bukan urusannya.


"Apakah dia mengaku padamu? Lalu siapa wanita itu?" Nobu penasaran.


"Harusnya salah satu orangnya sendiri."


"Kenapa dia melakukan hal seperti itu? Apakah sengaja untuk membuat Lita cemburu?"


"Masalahnya tidak sesederhana itu. Ingatlah untuk menjauh dari Lita di masa depan jika kamu bertemu. Dia tidak sederhana." Yuki menasihatinya.


"Aku tahu, aku tahu. Siapa juga yang mau bicara dengannya?" Nobu memasang ekspresi tidak senang. "Apakah Mirain menghubungimu akhir-akhir ini?" Ia mengalihkan topik pembicaraan.


Yuki menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa sambil menggelengkan kepala. "Tidak. Apakah ada sesuatu terjadi padanya?"


"Dia berkencan dengan seseorang setelah ulang tahun si kembar sebelumnya. Tapi tidak tahu apa yang terjadi, dia sedikit linglung akhir-akhir ini."


Nobu mengkhawatirkan Mirain. Biasanya Mirain selalu ceria meski agak pendiam. Tapi kali ini sikapnya agak salah. Mirain juga jarang menghubunginya akhir-akhir ini.


"Mungkin putus cinta," tebak Yuki.


"Tidak mungkin. Jika benar, dia pasti akan cerita padaku."


Yuki sempat terdiam sebentar. "Kalau begitu, kita datangi saja rumahnya dan tanyakan sesuatu. Aku punya waktu sore ini."


"Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali dulu." Nobu tidak ingin mengganggu pekerjaan Yuki dan meninggalkan kantor.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kalian datang ke sini?" tanyanya bersikap seperti biasanya.


"Kamu tampak berubah akhir-akhir ini. Kupikir kamu tidak ingin berteman lagi dengan kami." Nobu menjawab dengan nada kesal.


Mirain tersenyum lemah dan menggelengkan kepala. "Bagaimana mungkin? Aku hanya tidak enak badan akhir-akhir ini. Masuklah. Orangtuaku sedang sibuk di luar kota jadi tidak akan pulang sampai Minggu depan."


Yuki dan Nobu masuk. Keduanya langsung pergi ke kamar Mirain yang cukup luas.


"Apakah kamu ada masalah akhir-akhir ini? Jangan ragu untuk memberitahuku," kata Yuki.


"Tidak ada. Aku benar-benar hanya tidak enak badan." Mirain menggelengkan kepala, masih teguh dengan alasannya.


Namun Nobu adalah sahabat terdekatnya. Tentu saja tahu jika itu hanyalah alasan. Dia menjadi marah saat Mirain mencoba untuk tetap menyembunyikannya.


"Kamu benar-benar tidak percaya dengan kita bukan?! Mirain, berapa lama kita berteman? Sudah bertahun-tahun lamanya bahkan Yuki kita sudah punya anak! Kamu masih memendam masalah sendiri!"


Tanpa diduga, Mirain langsung menangis di tempat tidur. Ia tak tahan lagi dan memeluk Nobu, terus mengulang kalimat yang sama. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tidak memiliki keberanian.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apakah orangtuamu berdebat dan akan bercerai? Perusahaan akan bangkrut? Dijodohkan dengan pria tua yang jelek? Katakan saja." Nobu tak bisa menahan diri untuk mengelus punggungnya.


Mirain menggelengkan kepala. Dia menghapus air matanya, menangis sebentar hingga suasana hatinya sedikit membaik.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku hamil," ucapnya.


"Apa??!!" Nobu dan Yuki terkejut. "Hamil?"


Mirain mengangguk lemah. Dia ingin menceritakan apa yang terjadi hari-hari sebelumnya. Namun sebelum bercerita, ia menangis lagi.


"Siapa yang menghamilimu?" tanya Yuki penasaran.


"Ini Brim ...."


"Brim?" Yuki dan Nobu berkata bersamaan.


"Bukankah itu asisten Hayler? Bagaimana bisa kamu dan dia—" Nobu tak habis pikir. "Kapan kamu dan dia berada dalam ruangan yang sama?"


"Aku tak sengaja pulang malam hari itu ...."


Mirain menceritakan apa yang terjadi dengan isak tangis. Bukan hanya itu, keduanya juga sempat mengobrol dan minum alkohol hingga mabuk. Hingga tanpa sadar saat diantar pulang oleh Brim, adegan itu terjadi.


Setelah kejadian memalukan itu, Mirain melarikan diri tanpa memedulikan Brim yang masih terbawa suasana. Dan setelah kejadian itu, Mirain enggan untuk keluar malam. Bahkan tidak mau berpapasan dengan Brim yang ingin menanyakan sesuatu padanya.


"Aku ingin menggugurkannya. Tolong bantu aku." Mirain memiliki harapan sekarang.


"Kamu yakin? Brim bukan pria yang buruk menurutku," kata Yuki sedikit tidak setuju.


Meskipun Nobu tak suka dengan Brim tapi ini menyangkut masa depan sahabatnya. Brim memang tidak buruk. Kondisi keluarganya juga baik-baik saja harusnya. Meski hanya seorang asisten, gajinya tinggi. Belum lagi, Brim adalah sahabat Hayler. Keduanya pasti berasal dari status keluarga yang sama.


Keluarga Mirain juga termasuk kaya. Orangtuanya juga baik. Pasti tidak akan menolak Brim untuk pertama kalinya.


"Kalau begitu, apakah orangtuamu tahu tentang masalah ini?" tanya Nobu.


Mirain menggelengkan kepala. "Aku belum memberitahu mereka. Aku tak berani mengatakannya. Ayah dan ibu pasti akan kecewa padaku."


"Jangan mengambil keputusan untuk menggugurkannya. Kita tanya dulu sikap Brim. Jika dia tidak mau mengakui anak di perutmu ... maka lakukan sesuka hatimu saja."


Yuki berharap jika Mirain tak menggugurkan anak itu. Lagi pula, anak tak bersalah. Sepertinya dirinya dan Hayler di masa lalu. Bahkan dia hamil saat bercerai tapi tidak berniat untuk menggugurkannya.