
Di rumah sakit, Yuki sudah dikirim ke ruang operasi karena mengalami banyak luka di tubuhnya. Bahkan kedua kakinya juga terjepit badan mobil. Tidak tahu apakah baik-baik saja atau tidak.
Si kembar sudah berlinang air mata. Bahkan Shirley sendiri, matanya sedikit bengkak. Keduanya ditemani oleh wali kelas—Guru Mei yang selalu menemani mereka dijemput oleh Yuki.
Guru Mei terkejut ketika si kembar menelpon seseorang dan memanggil pihak lain 'ayah'. Setahunya, Yuki belum menikah meski ada desas-desus jika ia adalah mantan istri presiden Delton Corp.
"Bu Guru, apakah ibu akan baik-baik saja?" tanya Shirley.
"Jangan khawatir, ibumu pasti akan baik-baik saja." Guru Mei juga kurang yakin.
Persimpangan jalan dekat dengan sekolah. Ketika Guru Mei menemani si kembar dijemput, mobil Yuki akan terlihat di belokan. Tapi hari ini, ia terkejut saat melihat adanya tabrakan secara langsung. Lalu tahu jika itu adalah Yuki.
Panik mengetahui kecelakaan itu, ia langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta bantuan.
Tak lama, Hayler datang hampir bersama dengan Daleon. Guru Mei terkejut melihat dua pria tampan itu melangkah lebar. Ekspresi keduanya jelas tidak bahagia.
"Ayah ... Ayah Angkat!" Shirley langsung menangis lagi dan menghampiri keduanya.
Hayler melihat wajah sedih putrinya mau tidak mau langsung menggendongnya. "Jangan khawatir, ibu pasti akan baik-baik saja," katanya Langsung menenangkan.
Sementara Valley dipeluk oleh Daleon. Dia lebih pendiam daripada adiknya. Tapi bukan berarti dia tidak peduli. Hanya saja sebagai anak laki-laki, dia harus lebih kuat demi membuat adiknya tenang. Namun jelas air mata sudah berjatuhan.
Daleon mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap air mata anak itu. "Ibu kalian adalah wanita yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja," katanya.
Guru Mei bingung dengan keadaan yang tiba-tiba saja berubah. Anak itu memanggil keduanya dengan ayah dan ayah angkat. Siapa ayah asli dan mana yang menjadi ayah angkat?
Guru Mei mungkin mengenali sosok Hayler. Tapi dia tidak kenal dengan Daleon. Kedua pria itu berterima kasih pada Guru Mei karena telah menelepon pihak rumah sakit lebih awal sehingga pertolongan pertama pun tidak terlambat.
"Guru Mei, bisakah ceritakan apa yang terjadi saat itu? Persimpangan jalan dekat dengan area sekolah. Harusnya ketika menunggu Shirley dan Valley dijemput, kamu akan menunggu di sana juga bukan?" tanya Daleon segera melepaskan kacamatanya.
Guru Mei mengangguk, menceritakan secara singkat apa yang terjadi. Ia hanya menyadari jika ada kecelakaan mobil saat itu. Dan pelaku yang menabraknya pergi begitu saja, tidak santai atau terburu-buru.
Logikanya, jika seseorang menabrak pasti akan melarikan diri. Atau paling tidak akan turun untuk melihat kondisi korban sebelum memanggil pihak rumah sakit.
Namun Guru Mei yakin jika mobil yang menabrak itu tidak berniat untuk melakukan upaya pertolongan apapun. Tapi malah pergi begitu saja.
"Apakah kamu ingat pelat nomor kendaraan nya?"
Guru Mei menggelengkan kepala. Ia bahkan tidak memeriksa hal lain. Hayler tidak menyalahkannya karena hal ini dan akhirnya mereka menunggu selesai dioperasi.
Kecelakaan itu juga segera diketahui oleh orangtua Yuki. Mereka yang sedang melakukan perjalanan bisnis mau tidak mau langsung pulang.
Ketika lampu operasi mati, pintu dibuka. Dokter keluar dan mengatakan jika operasinya berhasil.
Kedua kaki Yuki untungnya tidak terlalu memiliki luka serius. Lukanya akan membaik setelah dirawat secara rutin. Hanya sekarang kakinya terbungkus seperti mumi. Dokter berkata jika Yuki tak bisa berjalan normal selama kurang lebih dua bulan.
Yuki dipindahkan ke ruang rawat VIP sesuai dengan yang dipesan Hayler. Melihat wanita itu terbaring lemah dan pucat, Hayler menyipitkan mata. Mendengarkan penjelasan Guru Mei tadi, setidaknya pria itu bisa menebak siapa dalang di balik kecelakaan mobil yang menimpa Yuki.
“Ayah, aku ingin menemani Ibu di sini.” Valley ingin melihat ibunya lebih dekat.
“Jangan ganggu ibu kalian. Dia sedang sakit. Tunggu Ibu bangun, okay?” Hayler membujuknya.
“Tapi ….”
Daleon yang ada di samping mereka mengelus kepala Valley untuk menenangkannya. “Ketika Ibu bangun, kamu bisa duduk di samping tempat tidurnya. Jadi tunggu Ibu bangun dulu.”
Shirley penasaran. “Kapan Ibu bangun?”
“Segera. Jadi kalian harus pulang dan belajar. Besok kita ke sini untuk melihat Ibu.”
Shirley dan Valley tampaknya memikirkan masalah ini. Jika keduanya pulang, mengerjakan PR dan tidur yang cukup, Yuki pasti akan senang. Tentu saja ucapan Daleon langsung membuat keduanya mengangguk patuh.
“Kalau begitu, malam nanti, kalian akan tinggal di rumah Ayah Angkat.” Daleon mengajak keduanya tinggal bersamanya semalam.
“Tidak!” Hayler langsung menolak proposal itu.
Daleon dan Hayler saling bertatapan, sangat dingin. Yang satu adalah ayah kandung. Satunya lagi merupakan ayah angkat. Si kembar juga bimbang. Di sisi lain, tentu saja ingin tidur dengan ayah kandung mereka. Tapi di sisi lain mereka juga suka tidur dengan ayah angkat.
Hayler dengan dominan menyatakan dirinya sebagai ayah kandung mereka. “Tentu saja mereka harus bersamaku. Mereka adalah anakku!”
Tapi Daleon juga tidak mau kalah. Dia tersenyum tenang. “Aku telah menemani mereka sejak lahir. Aku tahu apa yang mereka suka dan apa yang tidak mereka suka. Jadi bagaimana jika kamu adalah ayah kandungnya? Kamu tidak tumbuh bersama mereka.”
“Kamu—!” Hayler mengepalkan kedua tangannya.
Suhu di ruangan itu langsung turun ke titik beku. Baik Hayler dan Daleon tidak mau menyerah untuk mendapatkan kedua anak itu. Shirley dan Valley saling melirik dan takut kedua ayah itu akan bertengkar satu sama lain hanya karena mereka.
Akhirnya memutuskan sesuatu. Shirley meraih tangan Daleon. Sedangkan Valley memegang tangan Hayler. Kedua pria yang menatap dingin satu sama lain pun menoleh pada mereka.
“Ayah … kami akan tinggal bersama Guru Mei hari ini,” ucap Valley.
Kedua pria itu terkejut dengan keputusan si kembar. Tapi Guru Mei yang mendengarnya langsung pusing. Ya Tuhan, apa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya? Kedua anak yang diperebutkan oleh CEO Delton Corp dan seorang dokter kandungan justru memilih untuk menginap di rumahnya.
Tidak, jangan! Jika tidak, karier nya mungkin akan berakhir besok.
Bukannya Guru Mei tidak mau, hanya saja rumah kecilnya tak bisa menanggung kedua anak bangsawan itu.
Hayler dan Daleon akhirnya saling menatap dengan saling pengertian. Kedua anak itu tidak ingin membuat dua ayah saling bertengkar. Pada akhirnya Daleon tertawa nyaman dan menyentuh kepala keduanya.
“Tinggalah dengan ayah kalian hari ini. Ayah Angkat harus kembali ke rumah sakit dan tidak bisa pulang hingga tengah malam nanti.”
Kedua anak itu terkejut. Tapi Guru Mei langsung menghela napas lega. Nyawanya terselamatkan.
Hayler sepertinya tahu jika pria itu hanya menggodanya. “Daleon, kamu—benar-benar!”