
Hayler masih memperhatikan hasil lab yang diberikan oleh Carlos. Dia tidak tertarik untuk minum kopi sama sekali. Tangannya yang memegang kertas laporan itu sedikit mengencang. Matanya sangat dalam. Dia mungkin curiga padanya tapi tidak pernah ingin menuduhnya.
Namun sekarang dia melihat hasilnya, rasa dingin di hatinya semakin bertambah. Itu adalah ibu kandungnya sendiri. Kenapa dia harus melakukan hal-hal buruk itu pada Yuki. Merusak tubuh wanita itu dan menghancurkan kebahagiaan putranya sendiri. Kenapa?
Hasil lab mengatakan jika ramuan herbal yang diminum Yuki mengandung sejenis obat pencegah kehamilan yang biasanya sering diminum oleh para selir kekaisaran di negara C.
“Sepertinya aku pernah mendengar jika ayahmu dulu adalah mantan pacar ibunya Yuki. Apakah ini benar?” tanya Carlos.
Brim terkejut. Dia juga ingat tentang ini. Hayler memang pernah cerita soal masa remaja ayahnya dengan ibunya Yuki. Apakah ini saling berkaitan.
“Kamu curiga jika ibu Hayler melakukan ini pada Yuki hanya karena nyonya Elisa?”
“Jika tidak? Apa alasan lainnya? Jika bukan karena nyonya Elisa langsung dinikahi oleh tuan Frangky, apakah menurutmu ayah Hayler masih menikah dengan istrinya yang sekarang?”
Carlos dan Brim bertukar pikiran tentang masalah tersebut. Namun Hayler sendiri terdiam. Dia tahu ayah dan ibunya menikah bukan karena cinta. Begitu pula dengan orangtua Yuki. Keduanya sama-sama melakukan pernikahan bisnis. Jadi tidak heran dirinya dengan Yuki juga berakhir sama.
Mereka saling menghormati satu sama lain. Menutupi kekurangan masing-masing dan hidup bahagia demi anak dalam keluarga. Tapi Hayler tidak menyangka jika ibunya berani membuat hubungannya dengan Yuki memburuk.
Yuki selalu baik padanya, melayani dia sebagai istri dan jarang mengeluh tentang apapun. Lambat laun, Hayler yang memang menyukai tipe wanita seperti itu perlahan jatuh cinta. Tidak ada anak, tidak masalah. Cepat atau lambat juga akan ada.
Tapi orangtuanya selalu mendesak, terutama ibunya.
“Yuki selalu melakukan pemeriksaan ke rumah sakit tentang kesuburannya. Dokter tidak pernah curiga tentang ini. Apakah obat pencegah kehamilan seperti itu memang sulit terdeteksi oleh medis modern?” tanya Hayler.
“Tidak mungkin jika tidak terdeteksi. Dokter bersertifikat mana yang begitu bodoh tentang hal ini? Selalu ada residu yang tertinggal dalam obat sejenis ini.” Carlos berkata dengan nada meremehkan. Ia bukan dokter tapi bukan berarti tidak tahu apa saja yang dilakukan dokter.
Hayler terdiam lagi. Brim menatap Hayler seperti sedang memikirkan sesuatu. “Apakah Yuki selalu datang ke dokter yang sama setiap kali melakukan pemeriksaan?”
“Ya.” Hayler mengangguk.
“Jangan-jangan dokter itu juga suruhan ibumu.”
Mereka semua langsung terdiam, jatuh dalam perenungan. Jika ini benar lagi, maka Nyonya Luffs berniat sekali melakukan semua dalam satu kali gerakan.
"Periksa, apakah dokter itu masih ada satu tidak," kata Hayler pada Brim.
"Tentu, jangan khawatir. Aku juga penasaran dengan apa yang terjadi."
Di saat mereka sibuk membicarakan masalah obat herbal yang dikonsumsi Yuki, orang yang dibicarakan justru menelepon Hayler saat ini.
Hayler tanpa ragu menjawab panggilan telepon darinya. Mendengar suara wanita di seberang telepon tampak tidak senang dan kesal, Hayler mengerutkan kening.
"Jangan khawatir, aku akan segera datang dan membawa ibuku pergi dari sana. Jangan temui dia, tetaplah di kantormu." Hayler mengakhiri panggilan, berniat pergi ke perusahaan Sconava Enterprise.
"Yuki menelponmu? Ada apa?" Brim penasaran.
"Ibuku datang ke sana."
"Ibumu ke sana untuk apa? Menemui mantan menantu? Tumben?"
Dua orang yang sedang mereka bicarakan justru terlibat saat ini. Apakah ini begitu kebetulan. Hayler mengerutkan kening. Obat herbal itu terkait dengan ibunya sendiri. Dia datang ke perusahaan untuk bertemu dengan Yuki, kemungkinan besar ibunya tahu tentang kedua anak itu.
Hayler ingin tahu apa yang akan dilakukan ibunya jika tahu kedua anak itu adalah cucunya sendiri. Senang atau marah?
"Aku akan pergi dulu."
Hayler pergi ke perusahaan Yuki dan menemukan ibunya menunggu di lobi dengan ekspresi kesal. Dia duduk cukup lama menunggu tapi Yuki tidak datang untuk menyapanya. Wanita itu menunjukkan sifat aslinya setelah bercerai dengan putranya.
"Bu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Hayler tanpa basa-basi.
Nyonya Luffs melihat Hayler datang, terkejut. "Dan kamu sendiri apa yang kamu lakukan di sini? Apakah kamu masih memiliki hubungan dengan wanita itu?" Suaranya jelas tidak senang.
"Justru aku datang untuk membawa Ibu pergi. Kecuali jika Ibu ingin membicarakannya di depanku juga."
"Hayler!" Nyonya Luffs tidak menyangka jika putranya akan datang ke sini untuk membawanya kembali. "Apakah dia menelepon mu?"
"Tentu saja. Mintalah aku datang dan membawa Ibu pergi dari ini. Johnson Del dan Sconava sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Untuk apa Ibu menemui Yuki? Ayo pergi sebelum aku memberi tahu ayah tentang ini."
Nyonya Luffs ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya terdiam. Ternyata dia diminta menunggu di sini bukan karena Yuki akan turun menemuinya. Tapi justru meminta putranya sendiri untuk datang.
Nyonya Luffs tidak ingin membuat keributan di perusahaan Sconava. Jadi dia ikut dengan putranya meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di tempat parkir yang sepi, Nyonya Luffs mulai melontarkan banyak pertanyaan pada Hayler.
"Hayler, katakan pada Ibu. Apakah kamu masih memiliki hubungan dengan wanita itu?" tanyanya.
"Bu, kenapa kamu selalu menanyakan masalah ini setiap saat? Apakah Ibu menyembunyikan sesuatu dariku?" Hayler menatap ibunya dalam-dalam.
"Tidak, tentu saja tidak. Ibu hanya tidak suka saja padanya. Dia hanya wanita yang suka berpura-pura."
"Hanya karena suka berpura-pura atau karena hal lain?"
"Hayler, apa maksudmu? Apakah kamu menuduh Ibu?" Nyonya Luffs menatap Hayler, menunjukkan ekspresi menyedihkan.
Melihatnya selalu seperti ini, Hayler akhirnya bosan. " Tidak. Aku hanya ingin tahu apa yang Ibu lakukan di sini?"
"Tidak ada. Ibu hanya ingin tahu kabarnya dia bagaimana."
Pada akhirnya, Hayler memberanikan diri untuk bertanya. "Bu, sebenarnya kamu tahu segalanya 'kan?"
"Apa maksudmu?" Nyonya Luffs tidak mengerti.
"Ibu tahu sebenarnya jika Yuki subur selama ini."
Jantung Nyonya Luffs berdetak kencang. Apakah Hayler sudah tahu sesuatu sebelumnya? Nyonya Luffs terdiam, membuat Hayler yakin dengan tebakannya.
"Kenapa Ibu melakukan ini pada Yuki? Apakah Ibu masih memiliki dendam pada ibunya Yuki karena ayah selalu mengingatnya?"
Tanpa diduga, Nyonya Luffs menjadi marah saat membahas tentang masa lalu suaminya.
"Diam!! Hayler, bagaimana kamu bicara? Aku adalah ibumu. Kamu sengaja ingin memprovokasi hubungan ibu dengan ayahmu bukan? Suamiku tetaplah suamiku, tidak ada yang berubah meski dia masih memiliki Elisa di hatinya. Pada akhirnya dia adalah suamiku!" Dia memelototi Hayler, setengah cinta dan benci.
Putranya sendiri mirip dengan suaminya. Tatapan ini sama dengannya saat pertama kali dijodohkan oleh keluarga. Tatapan tidak suka yang tinggi.
Nyonya Luffs tidak pernah menyangka jika Hayler akan memberinya tatapan itu untuk pertama kalinya.
"Hayler! Kamu juga tidak menyukaiku seperti ayahmu bukan? Kenapa memberiku tatapan seperti itu? Kenapa?!" Nyonya Luffs sedikit gemetar.
Hayler sendiri terkejut. Ia memberikan tatapan yang sama seperti ayah?