Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Brim Datang



Namun Yuki sama sekali tidak mau mendengar omong kosongnya. Dia bangkit dari tempat tidur. Setelah mandi, tubuhnya jauh lebih segar dan kedua kakinya tidak lemas seperti sebelumnya.


"Aku akan membuka kamar yang lain. Semoga kamu tidur nyenyak!" Dia pergi dengan membawa tasnya.


Hayler ingin menghentikannya tapi lagi-lagi ponselnya berdering. Lita kembali meneleponnya.


Melihat Yuki keluar dengan punggung yang tegas, dia merasakan kemarahan di hatinya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa membiarkan Lita curiga.


Mau tidak mau dia hanya bisa menyerah dan menerima panggilan telepon wanita itu.


"Ini jam tiga pagi. Apa yang kamu lakukan dengan menelponku? Apakah Hayrus baik-baik saja?" Hayler mencoba menahan amarahnya yang hampir meledak.


"Tidak apa-apa, dokter berkata darahku tidak cocok untuk kondisi Hayrus tapi ada pendonor lain yang sedang membutuhkan uang dan bersedia mendonorkan darahnya. Sayang, kamu tidak pulang ke rumah setelah jamuan makan keluarga Heart. Di mana kamu?" Suara Lita sedikit khawatir dengan Hayler yang tidak pulang sampai saat ini.


Dia tidak ingin Hayler selingkuh di luar sana seperti halnya pria itu lakukan pada istri terdahulunya.


Memikirkan Yuki, mantan istri Hayler di masa lalu, Lita sangat tidak senang.


"Aku menginap hotel terdekat dan akan langsung ke rumah sakit untuk menjenguk Hayrus pagi nanti. Jangan menungguku pulang, tidurlah."


"Apakah kamu bertemu dengan mantan istrimu di jamuan makan?" Lita tiba-tiba bertanya.


"Ya, dia ada di sana dengan seorang pria. Kenapa kamu tiba-tiba membahas tentang dia?"


"Tidak, bukan apa-apa. Aku pikir kamu mungkin masih merindukannya." Nada bicara Lita sedikit manja.


"Bagaimana mungkin. Ini sudah enam tahun setelah aku bercerai dengannya. Jika aku merindukannya, bukankah aku sudah pergi menemuinya secara diam-diam selama ini?"


Hayler meyakinkan Lita lebih dulu. Tapi tanpa sadar dia menyentuh bibirnya dengan senyum lembut saat ini.


"Yah, aku tahu. Aku hanya khawatir. Kalau begitu sampai jumpa besok. Aku akan membawamu sarapan ke rumah sakit besok. Mari makan bersama," katanya.


"Ya." Dia mengiyakan dengan mudah. Lalu kemudian percakapan berakhir.


Setelah mengakhiri panggilan telepon, Hayler meremas ponselnya cukup erat.


Jika wanita itu tidak menghubunginya pada jam-jam seperti ini, Yuki tidak akan marah dan membuka kamar sendiri.


Untungnya Lita tidak meneleponnya saat dia dan Yuki sedang panas-panasnya di tempat tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada keesokan paginya, Hayler bangun terlambat dari biasanya. Tapi lagi masih agak gelap.


Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Tanpa diduga, tamu tak diundang masuk dan membangunkannya dari mimpi indah.


Hayler terganggu dengan suara berisik itu dan secara alami terbangun. Dia mengundurkan semua jadwal kerjanya malam tadi dan hari ini pasti sibuk lagi.


"Hayler!! Bangun untukku! Cepat!" Suara Brim membuatnya terjaga sepenuhnya.


Hayler masih mengenakan jubah mandinya saat ini. "Ada apa? Bagaimana kamu bisa masuk?"


"Tentu saja aku meminta kunci pada orang yang menjaga meja depan. Lagi pula aku masih anggota VVIP di hotel ini." Brim terlihat bangga untuk sementara waktu.


Namun melihat tempat tidur yang cukup kacau dan gaun putih yang robek, ia menebak hampir keseluruhan ceritanya tadi malam.


Brim sangat terkejut. Masalahnya, dia mengenali gaun putih itu. Semalam, dia datang ke jamuan makan keluarga Heart untuk mewakili keluarganya.


"Katakan padaku, apakah kamu dan ... mantan istrimu berkumpul tadi malam?" Brim bertanya agak ragu.


Hayler menatapnya dengan penuh peringatan. "Kamu tidak perlu mengurus hal ini. Kenapa kamu menelepon ku tadi malam? Mengganggu kesenangan orang saja!"


Pria itu berkumpul dengan Yuki tadi malam. Dilihat dari gaun yang robek, seharusnya Hayler memaksa Yuki tadi malam. Ini sungguh ... tidak terduga.


"Aku menelepon mu tadi malam karena pria yang datang dengan mantan istrimu malam tadi ... mulai menggila saat tahu kamu membawanya pergi. Jika aku tidak menenangkannya, mungkin dia sudah mencari keberadaan kalian secara besar-besaran tadi malam. Hayler, kamu terlalu impulsif."


Brim sedikit tidak berdaya. Dia sama sekali tidak mengerti pikiran pria itu sama sekali.


Hayler mencibir saat tahu ceritanya. "Dia mencari Yuki? Sungguh kasih sayang yang besar. Tapi sayangnya ...."


Dia ingin berkata jika Yuki hanyalah miliknya. Tapi mengetahui jika masalah itu tidak diketahui oleh Brim sama sekali, dia tidak melanjutkan sisa kata-katanya.


Brim sama sekali tidak menunggunya melanjutkan kata-katanya. "Meski Daleon hanyalah dokter kandungan, dia berasal dari keluarga pebisnis. Jika tidak, keluarga Heart tidak akan mengundangnya ke jamuan malam tadi."


"Keluarganya masih di negara J?"


"Ya, jadi tadi malam dia yang datang sebagai perwakilan. Aku tidak tahu apakah keluarga Haltes akan menetap di sana atau tidak."


Nama Daleon Haltes mungkin asing di negara A. Lagi pula, Daleon mengabdikan diri sebagai dokter kandungan di negara J.


Walaupun lahir di negara A dan mengenyam beberapa tahun pendidikan sebelum pindah ke sana, ia masih berkewarganegaraan A.


"Lupakan saja, dia tidak penting saat ini," kata Hayler acuh tak acuh.


"Hah? Apa maksud mu jika dia tidak penting sekarang?" gumam Brim bingung.


Maksudnya, apakah Daleon akan penting di masa depan?


Otak Brim tidak bisa mencerna maksudnya. Dia belum jatuh cinta dan tidak terlalu mengerti perkelahian antar pria untuk memperjuangkan satu orang wanita.


"Keluar dulu, aku akan siap-siap untuk pergi ke rumah sakit," kata Hayler.


"Apakah anakmu masih ada di sana?"


"Ya. Ada orang yang mendonorkan darahnya untuk putraku. Bukankah bagus?" Hayler sedikit tersenyum sinis setelah akhirnya bangkit dari tempat tidur.


Brim sedikit tidak yakin, apakah dia salah lihat sebelumnya?


Kenapa dia sepertinya melihat jika Hayler tampaknya mencibir?


"Sepertinya kamu tidak senang ketika membicarakan anakmu," goda Brim.


Setelah tidur dengan mantan istri, apakah otak pria itu mulai menemukan titik terang?


"Tentu saja aku senang. Bagaimana mungkin aku tidak senang?" Hayler tersenyum datar dan meliriknya. "Kenapa kamu tidak menelepon seseorang untuk membawakanku baju ganti?"


"..." Brim yang baru saja duduk di sofa, sangat tidak berdaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuki meninggalkan hotel lebih awal daripada Hayler. Dia tidak ingin berpapasan dengan pria itu atau pergi bersamanya.


Semalam, ada banyak panggilan tak terjawab dari Daleon. Tapi untungnya ayah dan ibunya tidak curiga.


Setelah keluar hotel dengan setelan gaun baru, Yuki menghubungi Daleon dan mengatakan dirinya baik-baik saja. Valley dan Shirley mungkin sedikit tidak nyaman saat dia tidak pulang semalam.


Namun siapa yang menyangka jika si kembar justru bersama Daleon semalam dan menginap di rumahnya. Seharusnya Daleon sudah memberikan alasan yang tepat untuk si kembar.


Yuki hanya pulang sebentar untuk melihat kedua anaknya lalu pergi ke perusahaan untuk mengurus pekerjaan yang tertunda. Dia kembali disibukkan dengan banyaknya dokumen yang harus diurus. Ia sama sekali tidak memikirkan kejadian semalam.