Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Rencana Rodney (2)



Setelah Roberto meninggalkan bar, Rodney menghubungi seseorang untuk menjalankan rencana berikutnya. Ia sudah mendapatkan salinan dari perencanaan tentang bantuan pusat perbelanjaan yang baru. Dia ingin tahu apa yang dipikirkan Hayler saat rancangan proyek barunya jatuh ke tangan musuh.


"Lakukan sekarang. Hati-hati, jangan sampai ketahuan," ucapnya saat anak buahnya mendapatkan panggilan telepon.


“...” Pihak lain mengiyakan dengan santai.


Setelah menelepon pihak lain, Rodney mengerutkan kening. Rencana kali ini tidak boleh gagal meski pun dia yakin tidak akan ada kesalahan. Hanya saja, Roberto tidak bisa dibiarkan bebas begitu saja. Meski dia percaya Roberto tidak akan membocorkan masalah ini pada pihak ketiga atau keempat dan seterusnya, ia harus mengendalikannya lebih dulu.


Setelah minum beberapa gelas kecil, Rodney meninggalkan bar.



Roberto mengendarai mobilnya menuju arah pulang. Tapi pikirannya tidak santai. Setelah memberikan rancangan bangunan gedung kantor cabang pada Rodney, Roberto seperti telah melakukan sesuatu dengan benar. Kini hanya tinggal menunggu hasilnya saja.


Ketika semua rencana berjalan dengan lancar, Roberto akan menghabiskan banyak waktu dengan dirinya sendiri.


“Kuharap Rodney tidak mengecewakanku,” gumamnya.


Roberto tidak memedulikan dua mobil hitam yang tampak mengikutinya di belakang. Namun ketika kedua mobil tak dikenal itu memblokir kiri dan kanan, Roberto tercengang. Siapa mereka dan kenapa mengikutinya?


Namun sebelum Roberto mencoba untuk mengendarai mobilnya lebih cepat lagi, salah satu kaca mobil pihak lain diturunkan. Pihak lain menodongkan pistol dan menembak ban mobilnya. Roberto sangat terkejut ketika tembakan dilepaskan.


“Sial!” Roberto langsung mengendalikan mobilnya yang mulai kehilangan kendali.


Karena kedua mobil itu tidak memberinya peluang untuk menghindar, akhirnya mobil yang dikendarai Roberto keluar dari jalur dan terjun bebas ke sebuah danau besar yang ada tak jauh dari jalan besar. Melihat mobil yang dikendarai Roberto mulai tenggelam, kedua mobil yang mengikuti tadi langsung pergi.


Cukup lama sebenarnya mereka menunggu, memastikan jika Roberto tidak berenang ke permukaan.


Di salah satu mobil, salah seorang pria berpakaian serba hitam dan memakai topeng langsung menghubungi bosnya.


“Bos, semuanya sudah diselesaikan. Dia tenggelam di danau dalam mobilnya. Tidak mungkin untuk selamat.”


“…” Pihak di seberang telepon mengatakan kepuasannya.


*


Brim tiba cukup pagi dan melangkah lebat menuju lantai eksklusif milik Hayler. Ada dokumen yang dipegangnya. Daripada ekspresi biasa yang sering ditunjukkan, kali ini lebih ke khawatir dan marah.


Seperti biasa, Hayler akan tiba lebih awal dan mengurus pekerjaannya dengan serius. Belum lagi, dia harus mengunjungi Yuki secara diam-diam untuk melihat kondisi kakinya saat ini.


Brim mengetuk pintu cukup tergesa-gesa, membuat Hayler yang tengah memeriksa laporan langsung mengerutkan kening.


"Masuk!" ucapnya agak tidak senang.


Brim langsung membuka pintu dan melangkah lebar ke dalam. "Bos, sesuatu telah terjadi!" lapornya tanpa memperhatikan ekspresi Hayler yang tidak senang.


"Apa yang membuatmu panik di pagi hari?" Hayler merasa tidak berdaya. Melelahkan menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas seluruh bagian perusahaan.


"Ada dua kabar buruk dalam, mana yang ingin kamu dengarkan dulu?"


"Mana saja," jawab Hayler malas.


Brim menyerahkan sebuah map cokelat padanya. Tidak tebal, tapi dipastikan isinya beberapa lembar.


"Lihatlah dan baca selagi aku menjelaskan." Berita buruk pertama ... Roberto mengalami kecelakaan," lapornya.


"Lalu bagaimana dengan berita buruk kedua?"


Brim memejamkan mata dan duduk di seberangnya. "Perusahaan L Swan sepertinya sedang bersaing dengan kita. Mereka baru saja mengumumkan sebuah proyek baru. Masalahnya, salah satu anggota tim dari kelompok Roberto berkata jika rancangan bangunan yang mereka pasarkan adalah milik perusahaan kita."


Dengan kata lain, L Swan mencuri rancangan untuk gedung cabang yang kelompok Roberto kerjakan saat ini. Batas waktunya hanya satu bulan. Tapi kini malah terjadi kecelakaan.


Roberto mengalami kecelakaan dan tenggelam di danau ketika mengendarai mobil. Dan rancangan pembangunan gedung cabang juga hilang.


Tapi Brim bingung. Sejak kapan Roberto memiliki rancangan itu? Kenapa ia dan Hayler bahkan tidak tahu.


"Karena kita tidak memiliki salinan nya, maka biarkan saja," kata Hayler datar.


"Bos!" Brim kesal. "Jika kita membiarkan mereka menggunakan rancangan yang dibuat Roberto, itu sama saja dengan memberikan keuntungan pada mereka!"


"Aku tahu. Tapi ... Semuanya akan baik-baik saja. Jadi tidak perlu khawatir. Karena Roberto mengalami kecelakaan, maka biarkan kelompok lainnya yang mengambil alih."


Brim merasa lelah sendiri karena marah tidak jelas dengan sikap Hayler yang terlalu santai. "Sungguh, aku tidak mengerti kenapa kamu begitu santai begini," gumamnya.


Hayler tidak menanggapi dan hanya tersenyum. Brim akhirnya pergi untuk mengatur sisanya. Setelah dia pergi, Hayler langsung berpikir serius dan ekspresinya menjadi sangat dingin. Dia melihat laporan berita kecelakaan mobil.


Kecelakaan Roberto ... Pasti terkait dengan Rodney.


"Aku tidak menyangka jika dia begitu tertarik dengan ini. L Swan, ya ...?"


Perusahaan properti itu, sepertinya dia harus menggali lebih dalam.


Hayler membereskan semua dokumen tentang kecelakaan dan bocornya rancangan gedung cabang perusahaan. Dia harus fokus memikirkan hal lain saat ini.


"Setidaknya dia tidak mengecewakanku," gumamnya.


Telepon kantornya berdering tiba-tiba. Hayler langsung menerima panggilan telepon itu. Yang biasanya dari karyawan perusahaan.


"Ada apa?" tanyanya malas.


"Maaf, Bos. Di lobi, Nyonya Bos bertengkar dengan Nona Rena," lapor seorang karyawan yang berjaga di ruang depan.


Mendesah! Hayler merasa sakit kepala sekarang. Mereka bertengkar lagi. Belum lagi Rena ... wanita itu sangat suka menggoda Lita dan membuatnya marah. Bahkan sengaja untuk menjadi pihak ketiga agar ketika bercerai dengan Lita di masa depan, Yuki akan bersih dari tuduhan.


Rena tidak pernah peduli dengan reputasinya sendiri. Sebagai bawahan, Rena selalu menjalankan perintah dengan sungguh-sungguh.


"Aku tahu dan akan segera ke sana." Hayler menutup telepon dan segera bangkit, meninggalkan ruangan.


Ketika tiba di lobi, suara kemarahan Lita membuat para karyawan sedikit tidak nyaman. Rena bahkan hanya bicara santai, bertindak seolah bukan wanita yang mengganggu suami orang lain. Dia datang ke sini untuk bisnis.


Namun karena Lita sudah waspada dan curiga dengan Hayler memiliki wanita lain, ia yakin Rena adalah orangnya. Hayler sendiri tidak pernah membantahnya jadi tentu saja Rena pasti wanita selingkuhan suaminya.


“Cukup! Apa yang kalian berdua perdebatkan di sini? Pergilah ke kantorku sekarang.” Hayler tidak mau mereka membuat keributan lagi di perusahaan. Beritanya pasti akan tersebar di masa depan.


Lita melihat Hayler dan segera menghampiri, memegang lengannya dengan intim. “Suamiku, wanita ini datang lagi ke sini untuk menggodamu. Lihatlah pakaiannya yang seksi, kenapa dia bertingkah seperti seorang pela*ur?”


Hayler malas untuk mengatakan banyak omong kosong tapi tidak menepis tangannya. “Mari bicarakan di kantor. Dia datang untuk berbisnis,” ucapnya setengah benar.


Mendengar itu, Lita sedikit kaku. Dia melihat Rena tersenyum penuh kemenangan. Membuatnya langsung menggertakkan gigi. Dia dulu berhasil menyingkirkan Yuki. Tidak mungkin dirinya tak bisa menyingkirkan Rena kali ini!