
Hayler tidak mau wanita seperti itu menjadi pengawal Yuki. Namun Rena memang pilihan cocok bagi Steven.
Belum lagi, Rena juga bisa mengemudi gila-gilaan tanpa khawatir kecelakaan. Tapi ....
"Apakah kamu yakin ingin membuat wanita itu menjadi supir pribadi Yuki? Bukankah itu semakin menunjukkan jika Rena dan aku hanyalah palsu."
"Ini memang benar. Tapi dengan begitu, Yuki tak perlu khawatir ada orang lain yang akan mencoba untuk membunuhnya." Steven hanya menyarankan saja.
Bahkan Rena tidak akan menolak jika disuruh menjadi sopir. Antara dicurigai hubungannya dengan Rena hanya palsu oleh Lita atau melindungi Yuki … tentu saja Hayler memilih yang terakhir. Keselamatan Yuki adalah nomor satu baginya.
Akhirnya Hayler menyetujui saran Steven untuk menjadikan Rena sebagai sopir pribadi Yuki untuk sementara waktu. Steven akhirnya menghubungi Rena untuk datang ke perusahaannya sekarang.
Butuh setengah jam bagi Rena untuk sampai ke perusahaan Steven. Itu pun datang dengan mengebut di jalan. Tidak heran terdengar sirene mobil polisi mendekat saat Rena parkir. Mengetahui ini, Steven tidak berdaya. Dia hanya meminta asistennya untuk mengurus polisi itu lebih dulu.
Rena masuk kantor Steven dan melihat Hayler juga ada di sana.
“Bos, apakah kamu memanggilku untuk sesuatu?” tanyanya.
‘”Dari mana kamu hingga polisi mengejarmu lagi?”
“Uh … itu …” Rena sedikit bersalah. “Aku berada di kota sebelah untuk balapan.”
Steven sudah bosan dengan alasannya yang hampir tak pernah berubah. “Aku punya misi baru untukmu. Yuki mengalami kecelakaan mobil kemarin dan orang dibalik kecelakaan itu sembilan dari sepuluh adalah Rodney.”
“Jadi?” Rena berdiri di samping Hayler.
“Selama beberapa waktu, jadilah sopirnya lebih dulu untuk menghindari kecelakaan serupa.”
Rena langsung tersenyum. “Tidak masalah, Bos. Aku pasti akan menjalankan tugas ini dengan baik. Kalau begitu aku akan pergi membeli karangan bunga dan sekeranjang buah, lalu mengunjunginya di rumah sakit.”
Tidak menunggu Hayler mengatakan sesuatu, Rena pergi dengan anggun. Steven tersenyum ke arah Hayler. Sudah dia duga, Rena tak akan menolak. Kecintaannya terhadap wanita lebih besar daripada berkencan dengan pria.
Tak lama setelah Rena pergi, asisten Steven masuk. Ia tampak baru saja selesai mengobrol di telepon.
“Bos, tuan Frangky ingin bertemu dan membahas tentang masalah saham kemarin,” lapornya.
Steven sepertinya sudah bisa menebak jika Tuan Frangky akan menemukannya. Ia mengangguk pada asistennya.
“Katakan saja padanya, tentukan waktunya kapan. Aku bebas kapan saja.”
Asistennya pergi dan menelepon Tuan Frangky untuk menanyakan kapan waktunya bebas. Steven juga segera mengusir Hayler yang masih terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.
“Kembalilah lebih dulu. Berita tentang orang yang menabrak Yuki akan diketahui setidaknya besok. Jangan terburu-buru.”
Hayler tidak mengatakan apa-apa dan pergi dengan langkah lebar. Steven mendesah dan melonggarkan dasi yang sedikit mencekik lehernya.
“Sungguh merepotkan.”
*
Di rumah sakit, Yuki sedang menonton televisi dengan Shirley dan Valley. Karena tubuhnya tidak nyaman, ia hanya bisa setengah berbaring di ranjang. Untungnya ranjangnya cukup luas sehingga si kembar bisa duduk di samping kiri dan kanannya.
“Bu, apakah masih sakit?” tanya Shirley.
“Ya, tapi tidak apa-apa. Dokter merawat Ibu dengan baik. Kalian jangan khawatirkan Ibu dan belajarlah dengan giat.”
“Ibu tidak perlu khawatir, Guru Mei menjaga kami dengan baik.”
Yuki mungkin sudah menebak jika orang yang melakukan ini pasti Hayler. Tak lama terdengar ketukan di pintu dan seorang wanita masuk membawa sekeranjang buah dan buket bunga mawar merah yang indah.
“Kamu di sini,” kata Yuki yang ramah padanya.
Rena tersenyum lembut, membuat Yuki sedikit tidak nyaman. Hayler bilang jika Rena ini suka sesama jenis. Wanita berpakaian seksi itu meletakkan bunga di meja bersama sekeranjang buah.
“Hayler mungkin akan datang setelah pekerjaannya selesai. Bagaimana kondisimu? Apakah merasa lebih baik?”
“Yah … tidak apa-apa.”
Valley melihat sekeranjang buah di atas meja. “Bibi, apakah buah itu untuk ibuku?” tanyanya.
“Ya. Apakah kamu ingin makan buah?” Rena melihat anak laki-laki yang sedikit mirip dengan Hayler, terutama matanya.
Valley menggelengkan kepala. “Aku ingin memberikan anggur pada Ibu.”
Rena terkejut. Anak ini masih terlalu muda tapi sudah tahu bagaimana cara menyenangkan orang dewasa. Ia pun membantunya merobek plastik wrap lalu pergi ke kamar mandi, mencuci buah anggur di wastafel.
Ketika kembali, ia menyerahkan anggur itu pada Valley. “Ini, berikan pada ibumu,” katanya.
“Terima kasih, Bibi.”
“Sama-sama.”
Valley memetik salah satu anggur dari tangkainya dan memberikannya pada Yuki. “Bu, makanlah buah. Bu Guru bilang makan banyak buah, baik untuk tubuh.”
Melihat putranya yang penuh perhatian, Yuki merasa hangat di hatinya. “Terima kasih, sayang.” Ia menerima suapan anggur dari putranya. “Beri adikmu juga.”
Setelah makan beberapa buah anggur, Yuki meminta keduanya untuk pindah ke sofa dan makan buah di sana. Dengan begitu, Yuki dan Rena bisa memiliki obrolan yang nyaman. Setelah keduanya teralihkan oleh buah-buahan, Rena mengutarakan tujuannya datang.
“Tuan Steven memintaku untuk menjadi supirmu selama waktu yang ditentukan. Hayler tidak ingin kamu mengalami kecelakaan serupa. Jangan khawatir, aku bisa mengemudi dengan baik.”
Melihat senyumnya yang sangat percaya diri dan agak jahat, entah kenapa Yuki merasa tidak nyaman lagi. Kenapa rasanya ia sedang ditatap oleh wanita maniak balapan?
“Tidakkah kamu keberatan untuk menjadi supirku?” tanya Yuki agak aneh.
Melihat penampilan Rena yang seksi dan berdandan sepanjang hari, ia pikir wanita itu mungkin suka pergi ke klub malam atau sejenisnya. Rena memperhatikan Yuki sedang menatapnya, mau tidak mau memutar bola matanya.
“Jangan salah. Bahkan jika penampilanku seperti ini, aku sangat pandai berkelahi …” Rasanya ia salah bicara dan meralatnya kembali. “Maksudku, aku pandai bela diri dan telah mendapatkan penghargaan sabuk hitam.”
“Lalu bagaimana dengan mengemudimu?”
“Oh … tentu saja aku sudah mendapatkan sertifikasi mengemudikan mobil balap dan menang beberapa kali di arena balapan.”
Yuki terdiam. Ini … jauh lebih baik bukan?
*
Pada malam harinya, Hayler datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Yuki. Kali ini si kembar tidak mau ikut pulang dan ingin tidur di rumah sakit bersama ibunya. Tidak berdaya dengan keinginan keduanya, Hayler hanya bisa meminta ranjang tambahan untuk mereka.
“Aku akan mengambil beberapa pakaian dan buku-buku pelajaran mereka nanti.” Hayler meyakinkan Yuki jika keduanya tidak akan mengalami masalah dalam belajar.
Hayler duduk di samping tempat tidur Yuki, memegang tangannya dengan lembut. “Jika bukan karena aku, kamu tak akan mengalami semua ini.”
“Tidak apa-apa. Lagi pula siapa yang tahu kapan aku akan dan aku akan kecelakaan. Kamu harus pulang malam ini. Bukankah Lita akan curiga jika kamu ada di sini?”
“Jangan khawatirkan ini. Aku sudah meminta Rena untuk memesan hotel dan meminta seseorang yang menyerupaiku untuk datang ke sana.”