
Hayler tak tinggal lama di rumah. Ia bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan dan kembali sibuk. Lita enggan untuk menjadi sekretaris lagi. Kali ini, Hayler tidak lagi memaksanya untuk pergi. Lebih baik tetap di rumah dan mengurus Hayrus.
Meski begitu, Lita akan datang ke perusahaan setiap beberapa kali kali dalam seminggu. Alasan utamanya untuk melihat apakah Hayler digoda oleh karyawan genit di sana. Dan yang kedua karena Rodney. Dia khawatir Rodney tidak sabar untuk bertindak.
Seperti halnya hari ini. Setelah satu bulan Rodney bekerja di perusahaan Hayler, Lita datang membawa makan siang untuk Halbert. Banyak karyawan wanita yang iri dengannya. Lita selalu berpenampilan baik. Tubuhnya yang ramping membuat pakaian apapun yang dikenakannya menjadi lebih seksi.
"Sayang, ini makan siangmu." Lita memasuki ruang kantor Hayler.
"Letakan saja. Aku akan makan setelah menyelesaikan data ini. Kembalilah lebih awal dan temui ibu hari ini. Ibu bilang dia merasa sakit kepala beberapa hari terakhir. Tolong antar ibu melakukan pemeriksaan ke rumah sakit," jelas Hayler yang justru sangat lemah saat ini. Ia tak memiliki waktu untuk pergi.
Lita mengangguk. "Jangan khawatir. Ibu pasti akan baik-baik saja."
Ia mengerutkan kening. Mungkinkah sesuatu terjadi di luar kendalinya?
"Kalau begitu aku akan kembali dulu. Sayang, jangan lupa makan siangnya." Lita bangkit dan menghampiri Hayler. Jelas menginginkan ciuman.
Sayangnya Hayler hanya mencium pipinya dengan lembut. "Kembalilah, jangan nakal."
Lita tersenyum malu dan akhirnya pergi dengan puas. Kantor akhirnya sepi lagi dan ekspresi lembut pria itu memudar perlahan. Dia mengeluarkan tisu basah dari dalam laci dan mengelap bibirnya.
Tak lama, Brim masuk dengan rasa penasaran. "Apakah wanita itu datang membawa makan siangmu lagi?" tebaknya saat melihat kotak makan siang ads di atas meja.
"Ya, bawa itu dan biarkan Carlos memeriksanya."
"Kamu curiga dia meracunimu?"
"Bukan dia, tapi seseorang yang tak sabar ingin aku mati." Hayler menyipitkan mata.
Brim tidak banyak bicara. Dia mengambil beberapa jenis makanan di kotak makan siang, siap mengirimnya pada Carlos.
"Bagaimana hubunganmu dengan Yuki sekarang? Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Akhir-akhir ini kamu dekat dengan putra keluarga Heart itu. Siapa namanya, Steven Heart?" Brim basa-basi.
"Apa yang ingin kamu tahu?" tanya Hayler tidak bermaksud mengelak.
"Aku bukannya ikut campur. Tapi yang kudengar, Steven pergi ke luar negeri dan bergabung dengan organisasi rahasia. Mungkinkah itu agen?" tebaknya lagi.
"Seperti yang kamu pikirkan. Jangan membahas ini dan tutup mulut rapat-rapat. Dinding memiliki telinga. Kecuali jika kamu tidak menginginkan nyawamu lagi," jelasnya.
Brim langsung tutup mulut. Tebakannya benar! Tenyata Steven Heart memiliki hubungan dengan agen rahasia. Bukankah ini luar biasa? Tapi kenapa Hayler bekerja sama dengannya?
"Sudah berapa lama kamu menyembunyikan ini dariku?"
"Kurang lebih lima atau enam tahun. Terhitung dari awal aku mengenali Lita."
Brim yang terdiam sejenak akhirnya tak bisa menahan diri untuk mengutuk diam-diam. "Breng*ek! Apakah kita masih sahabat selama ini? Kamu menganggap perteman kita ini palsu!"
Hayler tak mau mendengarkan omelannya. "Pergilah dan urus masalah makanan itu untukku. Aku sibuk."
Setelah Brim keluar dengan mengomel pelan, suasana di kantor akhirnya sepi lagi. Hayler fokus dengan kerjaannya. Ia melirik jam digital di atas meja. Sudah pukul satu siang, tidak heran dia agak lapar. Tapi tidak mungkin makan makanan yang dibawa Lita padanya.
Hayler bangkit dan membawa kotak makan ke dapur yang ada di kantornya. Dia membuang semua makanan itu dan membersihkan kotak makan siang. Untuk mengisi perut, Hayler lebih memilih membuat roti selai, praktis dan cepat kenyang.
Nafsu makannya sedang tidak baik akhir-akhir ini. Terhitung semenjak Lita sering mengirim bekal makan siang ke kantornya.
Kemudian dia merindukan masakan Yuki. Dulu, wanita itu juga sering mengirimnya bekal makan siang.
Ponselnya berdering di kantor. Hayler kembali untuk melihat siapa yang menghubunginya. Alisnya sedikit terangkat. Oh, ini putranya yang butuh didikan tingkat tinggi.
"Nah, ada apa?" tanyanya saat mengangkat telepon.
"Kamu sibuk?" Suara Valley tampak kekanak-kanakan tapi berpura-pura menjadi dewasa.
"Lain kali saat menelepon ku, menyapalah dengan sopan."
Hayler mengerutkan kening. Kenapa dia merasa anak ini sedang merajuk padanya?
"Ada apa? Katakan saja jika ada sesuatu."
"Kamu dan istri barumu sangat harmonis. Foto romantis. Ibu pasti sedih saat melihat foto itu nanti," jelas Valley memutuskan memberitahunya. "Kamu pembohong!"
Wajah Hayler sedikit kurang nyaman. "Nak, apakah kamu memberi tahu ibu jika kita saling berhubungan sebagai ayah dan anak?"
"Tidak."
"Pergilah dan beri tahu ibumu."
"Tidak, aku tidak mau ibu sedih."
"Dia tidak akan sedih. Aku sudah menjelaskannya pada ibumu semalam."
"Semalam? Semalam ibu tidur!" Valley jelas ingat jika Yuki datang ke kamarnya dan memintanya tidur. Dia pikir ibunya kembali ke kamar dan tidur.
Hayler terkekeh. Yuki kembali dini hari tadi. Dia sendiri yang mengantarnya kembali. Ia jelas tahu jika Yuki diam-diam masuk rumah agar tidak membangunkan siapapun.
"Semalam kami membuat janji dan bertemu. Hubungan kami berdua baik-baik saja."
Valley tak langsung menanggapinya. Kemudian bicara. "Tak heran ibu tampak bahagia tadi pagi. Tenyata bertemu denganmu," tuduhnya.
"Benarkah? Kalau begitu, kamu harus memanggilku ayah lain waktu. Aku sudah memberi tahu ibumu tentang ini," kata Hayler.
"Bisakah kamu memanggilmu ayah?" Valley ragu.
"Tentu saja. Selama tidak memanggilku di depan banyak orang. Ini rahasia, okay?"
Valley mengiyakan dengan malas. Setelah mengobrol dengan Valley di telepon, suasana hatinya yang buruk kini membaik. Hayler memikirkan masa depan.
Alangkah lebih baiknya jika mereka hidup satu atap. Tapi Yuki mungkin tidak mau melakukannya selama dia masih terhubung dengan Lita.
Bagi Yuki, Lita seperti duri di hatinya.
Hayler menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia masih bagus pergi untuk meninjau banyak pekerjaan lainnya. Setidaknya sebelum malam, ia ingin membuat janji dengan Yuki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada malam harinya, Hayler menunggu Yuki di salah satu vilanya yang jarang dikunjungi. Seperti biasa, Yuki tak perlu khawatir akan ketahuan karena beberapa seorang berjaga di kegelapan.
"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" Yuki meletakkan tasnya di sofa. Ia juga batu saja pulang bekerja.
"Aku merindukanmu." Hayler jujur.
Yuki tidak menganggapnya serius. Pria itu sudah mengucapksn kata yang sama dulu. Pada akhirnya itu semua hanyalah angan-angannya.
"Seriuslah, kenapa mencariku? Tidakkah kamu khawatir istrimu yang cantik menanti di rumah?" ejeknya.
Hayler tidak menjawab. Dia duduk di samping Yuki. "Mau minum apa malam ini?" bisiknya mengalihkan perhatian.
Yuki mengerutkan kening. "Kamu mengundangku hanya untuk minum?"
"Sudah kubilang, aku merindukanmu." Hayler merangkulnya.
Yuki sedikit tidak nyaman dan menepis tangan pria itu. Hayler tidak marah sama sekali. Dia justru semakin berani untuk mengecup pipinya.
"Yuki ...," bisiknya merasa tidak nyaman. "Aku mencintaimu."
Ungkapan itu membuat Yuki sedikit linglung untuk sementara waktu.