
Keesokan paginya, Hayler tidak sarapan di rumah dan langsung pergi ke perusahaan. Ini juga merupakan salah satu langkah dari rencananya. Lita yang melihat itu jelas sangat kesal. Tapi tidak mau berdebat lagi ketika putranya ada di antara mereka.
"Bu, apakah ayah marah?" tanya Hayrus terlihat sangat sedih.
Kondisi anak itu sedikit tidak sehat. Apa lagi dengan penyakit jantung bawaannya, Lita merasa sakit hati untuk putranya.
"Tidak. Ayah tidak marah. Ayah hanya merasa tidak senang dengan adalah pekerjaan." Lita mencoba menenangkan anaknya lebih dulu.
Karena skandal yang ada di internet, ia bahkan tidak bisa mengirim putranya ke sekolah. Asal-usul kelahiran Hayrus kini banyak dipertanyakan—apakah anak Hayler atau bukan?
Sepertinya dia harus bertindak lebih awal sebelum pernikahan rahasia Hayler dan Yuki di masa lalu terungkap ke permukaan. Sebelumnya dia berpikir untuk mempertimbangkan Hayler sebagai suaminya. Dia lebih kompeten daripada Rodney yang penuh kekerasan.
Namun tampaknya Hayler benar-benar memilih untuk memulai hubungan romantis nya dengan Yuki. Maka jangan salahkan dia untuk menjadi kejam.
Setelah menyerahkan putranya pada pengasuh, Lita pergi ke kamar dan mulai menelepon seseorang.
"Sonya, aku butuh bantuanmu ...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hampir satu bulan setelah Yuki diam di rumah, rasanya mulai membosankan. Dia mulai tidak sabar untuk pergi ke perusahaan dan bekerja. Dia tidak mau ayahnya terlalu lelah karena mengelola beberapa hal penting perusahaan.
Tapi situasi di luar masih sedikit tidak aman. Meski dia sudah bisa berjalan dan beraktivitas seperti biasanya, namun Nyonya Elisa melarangnya untuk berjalan-jalan terlalu jauh.
"Bu, kenapa kamu tampak gelisah?" Yuki menghampiri ibunya setelah pergi ke dapur mengambil yogurt.
"Ibu mendapat kabar jika tuan Johnson Del jatuh sakit kemarin dan telah dilarikan ke rumah sakit. Kondisi nya sedikit serius."
"Tuan Johnson Del sakit? Bukankah kesehatannya selama ini baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba jatuh sakit?"
"Katanya dia diserang oleh musuh bisnis nya saat melakukan perjalanan ke luar negeri."
Yuki mengerutkan kening. Berita ini mengejutkannya. Padahal selama ini, keluarga Johnson Del selalu baik-baik saja dan tak ada satu pun pesaing yang melakukan sesuatu. Seberapa kuat pihak lain hingga mampu mencelakai Tuan Johnson Del?
"Jika kamu ingin pergi ke perusahaan, berhati-hatilah di perjalanan. Bawa pengawal agar aman. Ibu tidak bisa tenang."
"Bu, apakah kamu berpikir musuh keluarga Johnson Del juga akan menyerang kita?" Yuki sedikit bingung.
Nyonya Elisa mendesah tidak berdaya. "Ayahmu dan ayah Hayler adalah rekan kerja yang baik di masa lalu. Musuh satu dilawan bersama. Itu juga karena persahabatan keluarga. Meski setelah kamu bercerai, hubungan persahabatan dua keluarga telah hancur, kemungkinan besar musuh memiliki dendam pada ayahmu."
Pada sore harinya, Asisten Loah—asisten Yuki yang dipercayai, datang ke rumah. Ekspresi asisten muda itu sedikit khawatir.
"Ada apa?" Yuki yang tengah bersiap memasuki mobil pun terhenti.
"Nona, seorang wanita yang mengaku sebagai nyonya keluarga Johnson Del datang ke perusahaan siang tadi. Dia ingin bertemu dengan Anda secara pribadi malam ini," jelas Asisten Loah sedikit cemberut.
"Lita?"
Asisten Loah menggelengkan kepala. "Ini nyonya Luff," jawabnya.
Ibu Hayler? Kenapa wanita itu mencarinya kali ini? Mungkinkah kali ini Nyonya Luff tidak berpura-pura tidak mengenalinya seperti sebelumnya?
Meski agak aneh, Yuki masih mengangguk. "Baiklah. Aku ingin tahu apa yang diinginkannya kali ini."
Yuki tidak akan bermurah hati untuk diejek dan dipermalukan seperti sebelumnya. Dia bukan orang yang tidak bisa memiliki anak sebelumnya. Jika bukan karena Hayler mencari tahu, dia akan mengira bahwa Hayler sengaja ingin menceraikannya di masa lalu karena masalah anak.
Tapi tampaknya tidak sesederhana itu. Mantan suaminya telah menyimpan banyak rahasia selama ini dan ia ingin tahu apa yang terjadi.
Pada malam harinya, Yuki bersiap-siap untuk memenuhi janji temu dengan Nyonya Luff. Ia memakai masker dan kacamata karena khawatir akan diperhatikan oleh beberapa orang.
Lagi pula, dia hampir terkenal seperti selebriti yang memiliki skandal di industri hiburan.
Ketika tiba di lokasi janji temu, ia melihat Nyonya Luff duduk di salah satu kursi di lantai dua VIP cafe.
Wanita paruh baya itu sedikit berbeda dari pada yang terakhir kali berpapasan. Yuki sedikit mengerutkan kening. Entah kenapa, ia merasa asing dengan Nyonya Luff.
“Kuharap Nyonya Luff tidak menungguku terlalu lama,” ujar Yuki seraya duduk dan meletakkan tas bahunya. Ia membuka masker tapi tidak dengan kacamata hitamnya.
Nyonya Luff mengerutkan kening, melihat Yuki jauh lebih santai dan berani dari pada tahun itu.
“Tidak. Aku memang sengaja menunggumu lebih awal,” balasnya tampak segar.
Nyonya Luff memakai gaun selutut yang cocok dengan usianya. Rambutnya digelung rapi dengan konde berbentuk bunga-bunga elegan. Ia memancarkan aura nyonya rumah keluarga kaya. Riasannya sedikit tebal sehingga garis-garis halus di wajahnya lebih tersamarkan.
Yuki memesan secangkir coffe latte untuk dirinya sendiri. “Apa yang membuat Nyonya Luff mengundangku untuk mengobrol?” tanyanya pura-pura tidak tahu apa yang akan dibicarakan.