Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Di Balik Layar



Daleon sebenarnya hanya ingin menguji Hayler. Apakah pria itu tulus untuk kedua anak itu atau tidak. Tapi sepertinya dia tidak perlu mengujinya lagi. Lagi pula semenjak kepulangan Yuki ke Negara A, tampaknya Hayler selalu muncul di mana-mana.


Sebenarnya jika Yuki tidak mencintai Hayler, mungkin sudah membuka hatinya untuk menikah lagi. Tapi wanita itu selalu menolaknya. Daleon tidak ingin memaksanya untuk menikah dengannya. Lagi pula, pernikahan tanpa cinta … tidak pernah berakhir dengan baik.


Jika memenjarakan wanita yang kamu cintai tapi tidak mencintaimu … selalu ada luka di mana-mana. Begitulah pikir Daleon.


Daleon melihat Yuki sesaat dan akhirnya harus kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja. Dia sudah berulang kali ditelepon oleh atasannya tentang ketidakhadirannya lagi hari ini. Jika dirinya bukan pewaris kelyatga Haltes, percayakan, direktur rumah sakit sudah lama memecatnya.


Kepergian Daleon membuat Hayler sedikit bernapas lega. Dia sudah siap untuk mengeluarkan napas api, bertarung dengannya untuk mendapatkan persetujuan kedua anak itu. Siapa tahu, Daleon berani menggodanya.


"Ayah." Shirley menatap Hayler yang masih terdiam.


"Ya."


Guru Mei membenarkan kacamatanya. Dia merasa tugasnya di sini sudah selesai. "Tuan Hayler, karena si kembar sudah aman di sini, saya akan kembali dulu," katanya sopan.


"Terima kasih telah menjaga keduanya hari ini." Hayler mengangguk.


"Tidak masalah. Saya juga dipercayakan oleh Nyonya Yuki sebelumnya."


Guru Mei pamitan dan pergi setelah mengucapkan beberapa kata pada si kembar. Setelah ruang rawat VIP sepi, Hayler duduk di sofa dan mengobrol dengan keduanya. Tentu saja hal ini mengalihkan perhatian keduanya agar tidak terlalu khawatir dengan kondisi Yuki.


Tak lama, keduanya mungkin terlalu banyak menangis hari ini dan tertidur setelah merasa lelah. Sofa ruang rawat VIP sangat empuk dan nyaman sehingga Hayler tidak khawatir keduanya akan sakit badan saat bangun nanti.


Kemudian, ia berjalan menuju jendela dan membuka gordennya sedikit. Hayler menelpon Brim untuk menanyakan kemajuan penyelidikannya.


"Sudahkah kamu menemukan pelakunya?" tanyanya pelan.


Brim tampak lelah di seberang telepon. "Aku sudah memberitahu orang-orang itu untuk menyelidiki masalah ini. Tidak mudah untuk menyelidikinya sekaligus hari ini. Kamu juga tahu bahwa mobil yang menabrak Yuki ternyata atas nama orang lain yang sudah lama meninggal. Jadi agak sulit untuk menemukan pelaku yang sesungguhnya."


Untuk sementara waktu, Hayler tidak menanggapi. Lalu dia berkata lagi. "Periksa semua kamera pengawas dari segala arah yang dilewati mobil itu. Hubungi Steven untuk ini jika masih tidak bisa menemukannya."


"Hey, Hayler! Kamu—" Brim hendak memarahinya. Dia sudah merasa botak saat memikirkan pekerjaan yang dilemparkan olehnya. Ditambah masalah ini.


Namun Hayler tidak mau mendengar keluhannya. Ia mengakhiri panggilan dan pergi ke sisi Yuki yang masih berada dalam pengaruh obat bius.


"Yuki ... Aku tidak akan membiarkanmu menderita keluhan apapun," gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuki siuman pada keesokan harinya.


Pada saat itu, Shirley dan Valley sudah pergi ke sekolah. Namun Hayler khawatir orang-orang yang belum tertangkap itu akan mencelakakan keduanya. Sehingga ia meminta Daleon mengantar mereka ke sekolah.


Bukannya Hayler tidak mau, namun orang-orang itu akan mencurigai hubungannya dengan si kembar. Karena Daleon sudah dianggap ayah untuk kedua anak itu, tentu saja lebih cocok mengantar keduanya ke sekolah.


Bukan hanya itu, Hayler juga menyapa kepala sekolah tempat si kembar belajar. Lalu memuji Guru Mei karena tidak melalaikan tanggung jawabnya.


Di sisi lain, Hayler juga menyapa direktur rumah sakit untuk memberikan sedikit kelonggaran pada Daleon.


Untuk menunjukkan ketulusan, ia juga menyumbang beberapa kebutuhan kedokteran. Ini bisa dibilang menyuap dengan barang yang dibutuhkan oleh semua orang.


Karena orang-orang sibuk, Yuki ditemani oleh Nyonya Elisa dan Tuan Frangky.


Nyonya Elisa menyeka air matanya saat melihat kondisi putrinya yang seperti ini. "Bagaimana bisa Ibu tenang saat mengetahui kamu kecelakaan? Tentu saja kami langsung pulang. Dokter sudah menjelaskan semuanya. Untung ini bukan kelumpuhan permanen. Kamu beruntung kali ini."


Yuki tidak ingat apa yang terjadi setelah tak sengaja ditabrak oleh mobil lain yang melaju kencang. Namun dia bisa membayangkan betapa mengerikannya hari itu.


"Aku baik-baik saja. Bukankah dokter berkata aku akan segera sembuh?" Yuki mencoba menghibur ibunya.


Tuan Frangky menggelengkan kepala. "Dua bulan, bukan waktu yang singkat, Nak."


"Dengan anak-anak di sini, rasanya tidak akan lama."


"Istirahat yang cukup. Jangan khawatirkan masalah perusahaan. Ayah dan ibu akan mengurusnya. Omong-omong, ketika kamu mengalami kecelakaan kemarin, harga saham perusahaan menurun drastis tanpa alasan yang jelas. Untungnya keluarga Heart menangani masalah ini dengan cepat. Kamu terbantu."


Selama perusahaan keluarga Sconava berjalan bertahun-tahun lamanya, rasanya tak pernah ada kejadian aneh seperti ini. Oleh karena itu, Tuan Frangky tak pernah memantaunya terlalu sering.


Namun kelengahannya kali ini hampir berdampak buruk bagi perusahaan Sconava. Jika bukan Steven yang menelepon dan memberitahunua masalah ini, semuanya mungkin berantakan.


"Keluarga Heart? Siapa yang tahu ini?"


"Steven."


Yuki memikirkannya. "Ternyata dia. Steven adalah teman Hayler. Apakah kalian merasa jika masalah ini tidak sederhana?"


Keduanya mengangguk. Tuan Frangky mengungkapkan pikirannya. "Keluarga kita tidak pernah bersaing terlalu tinggi untuk apapun. Namun tampaknya seseorang sengaja untuk membuat kita jatuh. Mungkin kecelakaanmu bukan kebetulan, tapi memang direncanakan."


"Kalau begitu ... Aku akan bertanya pada Hayler saat dia datang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perusahaan yang dijalankan oleh keluarga Heart, Hayler datang untuk menemukan Steven. Karena dia sendirian adlaha seorang pemimpin perusahaan lain, orang yang menjaga meja depan menghubungi nomor telepon kantor presiden.


Steven sendiri yang datang menjemputnya setelah menerima pemberitahuan dari meja depan.


"Apakah kamu ingin membahas tentang masalah itu?" Steven tidak terburu-buru.


Hayer mengangguk. Keduanya kembali ke ruang pribadinya Steven.


"Apakah kamu membantu keluarga Sconava mengamankan saham?" tanya Hayler alngsing ke inti.


Postur duduk Steven seperti pemimpin yang arogan. "Tentu saja dan bamu sendiri lupa dengan detail ini. Anggap saja ini sebagai kompensasi dariku karena sudah melibatkan naskah ini dengan Yuki. Brim mengubungiku dan meminta membantunya menemukan pelaku."


Masalah ini sendiri tidak sederhana. Polisi setempat sama sekali tidak akan mampu menemukan pelakunya. Karena orang-orang itu mungkin masih ada hubungan dengan Rodney.


"Fokus kita adalah Rodney saat ini. Jika orang-orang yang menabrak Yuki adalah anak buahnya, maka kemungkinan besar akan ada hubungannya dengan Lita." Steven menebak.


"Aku sendiri sudah tahu jika itu dia," ucap Hayler sedikit jijik


"Oh? Bagaimana kamu menebak?"


"Karena Lita bertengkar dengan Yuki di pusat perbelanjaan saat aku sengaja jalan dengan Rena."


Sepertinya Steven memikirkan sesuatu yang menarik. "Kalau begitu, aku akan membiarkan Rena menjadi sopir ekslusifnya."