
Yuki yang sudah menangis seperti kesenangan tersendiri bagi Hayler. Ia tidak bisa lagi menyingkirkan pria itu dari tubuhnya. Semakin lama, tubuhnya juga bereaksi. Ia tidak menyukai perasaan ini, sangat ingin menyingkirkannya. Tapi tubuhnya tetap saja tidak jujur.
Setelah Hayler mengecap tubuh sensitifnya cukup lama, tubuhnya lemas. Ia tidak lagi memikirkan tenaga untuk melawan.
Melihat wanita itu masih menangis, Hayler mengusap air mata di wajahnya. "Jangan menangis. Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa lagi. Kamu hanya milikku sampai kapan pun," bisiknya.
Tapi Yuki justru semakin banyak menangis ketika mendengarnya. Siapa yang tahan saat dia diperkosa oleh mantan suaminya sendiri. Pria itu sebenarnya sudah menikah dengan Lita dan memiliki anak.
Apa lagi yang dia harapkan?
Bukankah kedua nya selingkuh sekarang?
Ketika pertahanan terakhir di tubuhnya benar-benar habis, Yuki hanya merasa tidak nyaman ketika sesuatu memasuki tubuhnya. Ia tidak pernah memiliki hubungan pria dan wanita selama enam tahun terakhir dengan siapapun. Setelah melahirkan si kembar, dia sibuk merawat diri dan kedua anaknya.
Namun Hayler berbeda. Dia merasa perasaan yang kosong di hatinya perlahan terisi. Ia menikmati setiap proses nya dengan penuh semangat hingga tubuh keduanya penuh keringat setelah melakukan adegan penuh gairah untuk waktu yang cukup lama.
Hayler menikahi Lita pada waktu itu tapi jarang untuk keduanya berkumpul. Belum lagi setelah dia tahu rahasia terbesar wanita itu, Hayler semakin malas untuk melihatnya. Agar orang tuanya tidak khawatir, ia hanya bisa tinggal satu atap dengannya.
Sekarang ia merasakan kembali rasanya menjadi pria sejati yang mendominasi wanitanya di tempat tidur, ada kepuasan tersendiri. Ia sangat akrab dengan tubuh dan kebiasaan Yuki dan tahu posisi apa yang sangat disukainya saat berhubungan di ranjang.
Setelah memiliki anak, tubuh wanita itu semakin matang dan berisi. Dan Hayler tidak sabar untuk menjelajahinya dengan semangat malam ini. Lagi pula, malam masih panjang.
"Yuki, aku sangat merindukanmu ... Maafkan aku," bisik pria itu.
Yuki tidak bisa membalas perkataannya. Pikirannya berkabut saat ini. Dia tak henti-hentinya mengerang meskipun tidak menginginkannya sama sekali. Tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa dikontrol. Ia menyukainya.
Adegan di tempat tidur semakin intens seiring berjalannya waktu. Apa lagi saat mendekati puncak awan, kembang api rasanya akan meledak di pikirannya.
Pada saat yang sama ponsel Hayler berdering dan nama Brim tertera di layar. Tapi Hayler sama sekali tidak berniat untuk menerima panggilan telepon malam ini. Ia tidak ingin merusak suasananya menghabiskan malam dengan Yuki.
Ketika ponsel Hayler berhenti berdering, pria itu juga mendapatkan puncaknya. Kembang api seperti meledak dalam tubuhnya dengan cara yang luar biasa. Dan dia memeluk Yuki, membenamkan wajahnya di leher wanita itu.
Reaksi wanita saat mencapai puncaknya justru lebih hebat lagi. Yuki sama sekali tidak bisa mengontrol tubuhnya saat mendapatkan kesenangan sesaat itu. Tubuhnya bergetar hebat.
Hayler menenangkan diri lebih dulu dan menunggu Yuki selesai dengan puncaknya. Dia menggigit daun telinganya.
"Rasa ini tidak pernah berubah," bisik pria itu menggodanya. "Bahkan lebih baik daripada saat kamu belum memiliki anak," imbuhnya.
Yuki yang mendengarnya sedikit tertegun. Hayler tahu dia memiliki anak.
Apakah pria itu juga mulai menyelidikinya?
Tapi sejak kapan itu dimulai?
Namun Hayler kembali berbisik lagi di telinganya. "Kedua anak itu sangat mirip denganku. Tidakkah kamu ingin memperkenalkan mereka padaku?"
Reaksi Yuki saat ini benar-benar layaknya seorang ibu yang melindungi anak-anaknya.
"Jangan berani menyentuh anak-anak ku! Jika kamu berani menyentuh mereka, tidak cukup hanya dengan membunuhmu! Mereka bukan anakmu, bahkan tidak layak untuk menjadi ayah mereka!" teriaknya sedikit serak.
Hayler lagi-lagi tidak marah dan hanya membujuknya dengan lembut. Walaupun anak-anak adalah kelemahan Yuki, pria itu tidak mau menggunakan cara kotor untuk mendapatkan wanita itu kembali.
Jika benar keduanya adalah darah dagingnya sendiri, ia akan memberi mereka kehidupan yang layak di masa depan.
Bahkan jika bukan miliknya, ia akan memperlakukan mereka dengan baik. Selama itu adalah anaknya Yuki.
"Mari kita lanjutkan." Hayler yang masih memiliki keinginan kembali bereaksi.
Yuki tidak banyak melawan seperti sebelumnya. Dia sudah telanjur diperkosa olehnya. Tidak ada yang perlu ditutupi.
Hayler duduk di tepian tempat tidur dan meminta Yuki untuk duduk di pangkuannya. Ia ingin mengambil posisi lain untuk memuaskan keinginannya.
Walaupun Yuki sedikit canggung, ia masih menurutinya.
Keduanya menghabiskannya malam tanpa tidur. Setidaknya keduanya baru selesai jam menunjukkan pukul dua pagi.
Ketika lelah, keduanya istirahat sejenak, lalu kembali melanjutkan. Yuki sebenarnya sudah lelah dan memohon padanya untuk berhenti.
Hayler tidak ingin menyiksanya terlalu jauh jadi menenangkan diri. Yuki sangat mengantuk. Tapi dia ingin membersihkan dirinya lebih dulu sebelum tidur.
Kakinya sangat lemas hingga tak mampu berdiri atau mengambil langkah. Jadi Hayler yang membawanya ke kamar mandi dan keduanya mandi bersama.
Saat keluar, keduanya memakai jubah mandi yang disediakan di dalam. Ketika kembali ke tempat tidur, Hayler memeluknya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering lagi. Kali ini bukan dari Brim, tapi Lita.
Melihat nama wanita itu, mood baik Hayler sedikit terganggu. Ia sama sekali tidak ingin menerima panggilan teleponnya.
"Istrimu menelepon, tidakkah kamu ingin memberi dia alasan di mana kamu sekarang?"
Yuki mencibir. Dia tampaknya mengingat kembali kebiasaan Hayler yang sering membuat berbagai alasan di tempat kerja ketika telat pulang.
Tapi sebenarnya pria itu berselingkuh di belakangnya. Sekarang ia berada di kamar hotel yang sama dengan Hayler, pria itu pasti akan membuat alasan pada Lita yang menunggu di rumah.
Hayler tidak bisa membantahnya. Melihat ekspresi Yuki yang tidak senang, sepertinya mengenang pernikahannya yang buruk di masa lalu. Ia merasa sangat tidak berdaya.
"Apakah kamu merasa aku berselingkuh dari nya?" tanyanya santai.
"Jika tidak? Apakah kamu menganggap jika pernikahan adalah sesuatu yang konyol? Hayler, apakah kamu selalu berbohong saat kamu berkata sedang lembur di kantor tapi sebenarnya berada di tempat tidur bersama Lita?"
Yuki sebenarnya tidak ingin menanyakan hal ini. Tapi dia sangat penasaran. Ia tidur dengan mantan suaminya dan istri pria itu menelepon.
Bukankah ini sangat mirip dengan dirinya yang dulu? Dia hanya menebak secara acak.
Tapi tebakannya semakin dibenarkan ketika melihat Hayler sama sekali tidak menjawab atau menjelaskan sesuatu padanya.
Ya, mungkin benar! Di saat dia menelepon Hayler yang katanya lembur di perusahaan, sebenarnya mungkin berada di suatu tempat dengan Lita.
Hayler tidak bisa menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya di masa lalu. Ia masih belum bisa memberi tahu Yuki rencana egoisnya selama ini.
Tapi perasaannya pada Yuki tidaklah palsu. Ia semakin merindukannya setelah bercerai. Dan ketika wanita itu pergi ke negara J, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Tapi ia masih egois dengan keinginannya sendiri.
"Yuki, maafkan aku. Tapi aku tidak bisa cerita sekarang," katanya mencoba menjelaskan.